Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
45. Bali


__ADS_3

Makoto menatap Aoi yang masih tertidur pulas. "Sayang? Bangun, ayo siap-siap. Lebih cepat lebih baik Aoi, meskipun sekarang jam 4 pagi. Ayo bangun," dengan suara lembutnya bagaikan nyanyian merdu di pagi hari, tetap saja Aoi tidur.


Makoto menghela nafasnya, harus pakai cara apalagi agar istrinya itu bangun?


Makoto memiliki ide cemerlang, ia mendekat dan semakin dekat. Sampai...


Cup.


Hanya kecupan singkat di bibir.


Aoi membelalakkan matanya. Benda kenyal dan manis itu seenak dahi menempel di bibirnya. Benar saja ternyata tersangkanya adalah Makoto.


"Kamu kok cium aku sih? Ya gak-"


"Boleh," Makoto tersenyum nakal. "Kata siapa gak boleh? Kita udah sah Aoi."


Aoi berdecak kesal. "Kenapa gak bangunin dengan suara aja?"


"Kamu susah di bangunin. Ayo mandi," ajak Makoto yang sontak membuat mata Aoi terbelalak tak percaya.


"Maksud kamu mandi bareng? Heh! Mandi aja sana! Mending aku lanjut tidur lagi," Aoi kembali merebahkan dirinya bergabung dengan bantal dan selimut.


"Tidur lagi? Oh berani ya. Bandel banget sih aku gendong kamu ke kam-"


"Gak usah!" Aoi beranjak dari kasurnya. 'Dikit-dikit gendong, cium. Huh bakalan jadi kebiasaan, coba aja kalau belum nikah sama dia. Tidur aku pasti lebih lama,' batin Aoi.


Setelah satu jam kemudian, Aoi membawa tas kopernya sendiri meskipun Makoto ingin menawarkan agar bisa di bantu tertolak mentah-mentah seperti panggilanku di alihkan setiap waktu.


"Itu berat Aoi, sini aku aja," Makoto mengikuti langkah Aoi, sekarang berada di ruang tamu bersiap pamit dengan Amschel dan Karin.


Aoi menolak. "Gak!" tegasnya penuh penekanan. "Aku bisa sendiri," Aoi membawa koper itu sedikit kewalahan, membawa baju banyak serta beberapa keperluan cewek lainnya.


Amschel dan Karin datang dari ruang makan.


"Gak sarapan dulu? Langsung berangkat gitu aja?" tanya Karin.


Aoi menggeleng. "Aku gak sabar ma pingin ke Indonesia apalagi Bali. Setelah aku cari di internet bagus-bagus pemandangannya apalagi pas di pantai liat sunset. Jadi gak sabar."


"Gak sabar beri cucu ke ayah ya?" goda Amschel dengan senyum smirk-nya.


"Ayah! Gak itulah! Aku kan maunya liburan bukan bikin cu-"


"Sayang, ayah kamu kan pingin gendong cucu," Makoto merengkuh pinggang Aoi possessive.


Aoi merasa risih. "Apa sih om aku-"


"Aoi, jangan panggil Makoto om. Mas atau gak sayang biar mesra dong," saran Amschel sangat cemerlang.


"Kalau gak panggil mas atau sayang, laporin ke ayah aja ya?" sahut Karin dengan senyum bulan sabitnya.


Aoi cemberut, mengadu lagi. Ah Makoto, selalu mendapatkan izin kemodusan dari ayahnya. Lihat saja saat di Bali nanti.

__ADS_1


***


Karena tak ingin ribet, Amschel sudah menyiapkan helikopter pribadi berwarna biru laut.


Aoi menghela nafasnya, lebih baik naik pesawat daripada helikopter milik ayahnya.


'Yang ada suasananya tambah awkard. Ck, nyebelin!' umpat Aoi dalam hatinya.


Amschel dan Karin mengucapkan perpisahannya.


"Hati-hati di jalur udara ya nak Makoto. Jaga Aoi baik-baik jangan lupa kasih cucu kembar cowok cewek," Karin tersenyum tipis.


Aoi ingin memprotes tapi Makoto sudah membekap mulutnya.


"Siap ma yah. Tunggu aja kabar baiknya," Makoto menggandeng tangan Aoi memasuki helikopter.


Selama perjalan jalur udara, Aoi lebih banyak diam. Makoto mencuri pandang, istrinya itu cemberut.


"Oh ya, ayah kamu udah menyewakan villa mewah disana. Kamu pasti suka," Makoto kembali fokus mengendalikan helikopternya.


"Ayah kamu baik banget ya sampai pinjemin helikopternya. Kenapa gak sekalian naik lamborghini kamu?"


Aoi menatap Makoto sengit. "Terus kamu mau gitu nyemplung ke laut? Dari Jepang ke Indonesia?"


Makoto terkekeh. Ia menggeleng. "Gak dong sayang. Tapi kalau bangun candi seribu pun mau. Because i really love you," Makoto menatap Aoi lekat, pandangannya bertemu dengan lensa biru indah itu.


Aoi berdecak kesal. "Gak usah gombal. Emangnya aku langsung baper? Gak semudah itu Markonah."


"Mending kamu tidur deh daripada kesel. Kalau udah sampai di Bali, aku bangunin. Tidur ya? Tidur cup cup cup," Makoto me-nina bobo kan Aoi.


"Kamu kalau lagi ngambek dan kesel gitu aku jadi tambah gemes. Pingin cubit pipinya takut di hajar. Hadeh, istriku kan jago kick boxer," Makoto rasanya tak sabar segera sampai di tempat tujuan.


***


"Aoi? Bangun, kita udah ada di Bali. Ayo turun," Makoto menepuk pipi Aoi, istrinya itu menggeliat.


"Apa? Aku masih ngantuk tau," Aoi kembali memejamkan matanya.


"Nanti aku beliin bakso sama mie ayam deh. Ayo aku gendong sini," Makoto membujuk Aoi, benar saja dua mata biru laut itu terbuka sempurna.


Aoi hanya memandangi wajah Makoto, hatinya es degan salah deg-degan.


'Kenapa aku baru nyadar ya kalau om Makoto ganteng? Apa sih! Masih ganteng Aldebaran sama Ryuji lah,' batin Aoi, ia memandang ke arah lain.


Merasa di tatap lekat, Makoto meledek Aoi, istrinya itu malah memukuli tangannya minta di turunkan.


"Iya aku ganteng. Baru nyadar ya?"


"Gak usah geer deh. Aku liat pemandangan, indah banget daripada ngeliatin wajah kamu," ketusnya kesal.


"Itu villa kita. Kamu mandi dulu ya? Biar aku yang pesenin makanannya," Makoto menurunkan Aoi. "Aku tunggu di meja makan. Kalau gak tau teriak aja kayak gini suamiku kamu dimana?"

__ADS_1


Aoi berdecak kesal. "Y," jawabnya sesingkat cinta monyet masa sekolah.


Di dalam kamar, Aoi merebahkan dirinya sejenak.


Aoi menghirup udara yang sangat sejuk itu. "Adem juga ya disini? Gak kayak di Jepang kadang panas kadang dingin. Cuacanya juga bagus," Aoi sangat ingin tinggal di Bali, apalagi dekat dengan pantai sedikit menjauh dari bisingnya kendaraan di kota.


Sedangkan Makoto duduk sendiri menunggu Aoi, makanan cepat saji sudah siap.


"Lama banget? Masa dandan?"


"Aku tunggu aja dulu disini," Makoto berkutat dengan ponselnya, mengecek pekerjaannya yang ia tinggal beberapa hari ke depan. Ia sudah meminta izin pada ayahnya.


"Suamiku? Kamu dimana?!"


Suara panggilan dari Aoi membuat pandangan Makoto beralih menatap sekeliling.


"Kamu lurus aja Aoi aku ada di ruang makan," sahut Makoto melantangkan suaranya.


Aoi berjalan lurus, villa sebesar ini membuatnya agak bingung dengan beberapa ruangan lainnya.


"Nanti malam kamu tidurnya di so-"


"Sama kamu. Lagian kemarin aku udah tidur di sofa, sekarang gak lah. Kan ini bukan sekedar liburan Aoi, tapi bulan madu," sela Makoto, mungkin Aoi tak siap.


Aoi menghela nafasnya. "Kenapa sih mama minta cucu kembar? Cowok cewek lagi. Di kira gampang bi-"


"Gampang," Makoto tersenyum penuh arti.


Aoi menunduk. 'Apa sih? Kenapa hatiku yang gak karuan? Masa iya aku udah mulai jatuh cinta sama om Makoto?' batin Aoi bertanya-tanya.


Aoi menggeleng. "Gak mungkin."


"Apanya?" Makoto mengernyit bingung. "Bikin anak kembarnya maksud kamu?" tebaknya sangat salah.


Aoi bersiap ingin melemparkan sendoknya, tapi Makoto menahan tangannya.


"Jangan marah-marah dong sayang cepet muda nanti."


"Tua!" koreksi Aoi kesal setengah-setengah.


Makoto tertawa melihat wajah kesal Aoi. Cantiknya berkali-kali lipat bertambah.


"Yuk makan. Biar nanti malem kita ku-"


"Ya udah makan. Ngapain bahas nanti malem?" Aoi ingin menghilang saat ini juga.


Makoto mengangguk. "Iya deh."


***


Penulis suka harum pelembab bunga sakura.

__ADS_1


Minggu 13 juni 6:46 am


See you-,


__ADS_2