Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
25. Protected


__ADS_3

Nakura hanya bisa memandangi Ryuji dari kejauhan.


"Dan aku bakalan buat kamu sama Aoi putus!"


***


Kelas 12 Ips 1 saat jamkos mungkin se-ramai pasar.


Syougo dan Taiga membujuk Ryuji agar ikutan bermain Truth or Dare.


"Apa sih? Buang-buang waktu aja. Gue lagi belajar," Ryuji kembali membaca perbedaan kosa kata British dan USA.


"Belajar terus. Emang gak bosen apa?" tanya Taiga jengah. Apa-apa buku.


"Karena gue mau kuliah di luar negeri. Jadi gak semudah itu lolos seleksinya. Mulai sekarang belajar, biar waktu tes lancar ngerjainnya," jawab Ryuji bijak. Ia memang jarang ikut bermain dengan Syougo dan Taiga.


"Please ya? Sekali aja," Syougo menyatukan kedua tangannya. Matanya mengerjap imut. Semoga Ryuji mau.


"Emang lo gak kangen masa-masa terakhir gini?"


"Huhuhu, sedih gue ga. Masa iya secepat ini kita berpisah?" Syougo memeluk Taiga terharu.


"Iya-iya. Gue ikut. Mulai aja deh, gak usah nangis!"


"Yeay! Gitu dong. Tapi permainan ini berlaku 2 hari aja ya?" Syougo membuat kesepakatan. Tak seperti Truth or Dare yang bisa sampai seminggu.


"Dua hari gimana maksud lo?" Ryuji merasa curiga, sepertinya permainan ini akan aneh.


"Kalau pilih Dare ya dua hari. Kalau Truth gak, cuman hari ini aja," jelas Syougo. Ryuji dan Taiga mengangguk setuju. Simpel.


"Itu kalau udah main botol gue balikin ya!" seru Megumi marah. Syougo yang meminta izin meminjam botol minumannya.


"Iya-iya dasar bawel," Syougo mulai memutar botol itu.


Sampai terhenti pada...


Ryuji.


Syougo dan Taiga tersenyum licik. Apa yang akan di pilih Ryuji?


"Gue pilih Truth," lagipula kalau Dare perasaan Ryuji tidak tenang.


"Gak Dare aja nih?" tanya Syougo menantang. Rasanya menyenangkan memberikan Dare aneh untuk Ryuji.


"Kayaknya harus Dare dulu deh. Jadi, gue nanti Truth dan Taiga Dare. Gimana?"


"Keenakan lo!" seru Ryuji dan Taiga kesal.


Syougo tersenyum kikuk. "Ya masa kita semua Dare? Gak adil dong," ucapnya santai.


"Megumi! Sini lo!" panggil Ryuji, semuanya kudu roto.


Megumi menoleh. "Apaan?"


"Ikut kita Truth or Dare. Harus mau!" Ryuji sangat memaksa, entah mengapa hari ini ia mudah tersulut emosi.


Megumi memejamkan matanya sejenak. "Oke. Gue ikut," rasanya jarang ikut bergaul dengan teman sekelas, ia terlalu penyendiri.


"Ulang!" seru Ryuji tak sabaran.

__ADS_1


Syougo sempat heran kenapa Ryuji marah-marah?


Botol itu terhenti mengarah pada Taiga.


"Truth!" serunya percaya diri.


"Kenapa sampai sekarang gak pacaran?"


"Simpel, gue gak mau bikin cewek nangis apalagi sakit hati. Karena apa? Cewek itu pakai perasaan, jadi kalau mau ngelakuin apa-apa atau ngomong, harus di pikir duluan," jawab Taiga lancar tanpa ada jeda dan koma.


Seisi kelas bertepuk tangan, setuju dengan apa yang Taiga utarakan.


"Happy boy!"


"Langsung kena hatinya bos!"


"Gue pegang tuh omongan lo!"


"Serem banget sih?" Taiga jadi ngeri mendengernya.


Botol kembali di putar. Pada akhirnya berhenti pada Syougo.


"Gue..Truth aja deh," Syougo takut dengan Dare. Apalagi kalau suasana hati Ryuji kurang baik.


"Aku boleh ikut gak?"


Tiba-tiba Nakura datang dan duduk di sebelah Ryuji.


"Bole-aww!" Taiga meringis mendapat cubitan dari Syougo.


"Boleh kok Naku. Malah tambah seru kalau banyak kan?" Megumi sangat setuju.


"Wah, makasih ya Megu? Sekarang siapa nih yang jadi?" tanya Nakura terlalu antusias.


"Apa?" tanya Ryuji tak minat.


"Aku Dare aja deh. Apa nih?" Nakura harap Dare-nya Ryuji bisa terlibat. Sangat menyenangkan bila itu terjadi.


"Jadi gebetannya Ryuji!" seru Megumi.


Sangat sembagaran. Sampai Ryuji ingin menolak Dare gila dari Megumi.


"Ok! Jadi sekarang boleh ya aku panggil sayang? Atau beibs? Gak deh, ayang aja," rasanya senang, bisa menjadi gebetan Ryuji meskipun sementara.


'Duh, habislah Nakura. Gimana nanti kalau Aoi tau?' batin Syougo khawatir. Semoga saja Nakura tidak mengumbar keromantisannya sebagai gebetan Ryuji.


'Pokoknya Aoi sama Ryuji harus putus,' batin Nakura. Tersenyum arti.


***


Kelas 12 Ipa 1 saatnya kelas balet bagi yang putri, dan laki-lakinya komputer.


"Aaa! Haru!" teriak Fumie panik.


Hap!


Haruka menangkap tubuh Fumie. Hampir saja jatuh.


"Ya ampun Fumie. Hati-hati dong, udah tau lantainya licin masih aja lari," omel Haruka.

__ADS_1


Aoi menggeleng heran. "Udah lama ya kita gak ada kelas balet? Apa-apa jamkos terus. Bosen," pelajaran kesukaannya, sangat menyenangkan.


"Sepert biasa, ikuti gerakannya ya. Perhatikan baik-baik," ucap bu Rinka memberikan intruksi.


"Duh, kebelet lagi. Aku ke toilet dulu ya?" mungkin kebanyakan minum.


"Hati-hati ya Aoi," ucap Fumie. Sangat di sayangian pelajaran balet terlewat. Ujiannya saja susah.


Setelah Aoi mendapatkan izin dari bu Rinka, Aoi mempercepat langkahnya.


Karena pandangan Aoi tak fokus di sekeliling, akhirnya ia tersandung.


"Aw!" siku tangannya tergores ujung lantai yang tajam.


"Duh ganggu banget sih! Berdiri!" titah Nakura angkuh. Niatnya untuk mengeluarkan jurus gombal 1000 bahasa untuk Ryuji gagal.


"Aoi? Kamu-"


Nakura menahan tangan Ryuji yang berniat membantu Aoi.


Dengan sisa tenaganya, Aoi berdiri. Menatap dua lawan jenis yang sekarang dekat lagi. Apa ini hanya ilusi? Tidak, buktinya saja Ryuji tak mempermasalahkan keberadaan Nakura.


"Aku gak papa kok. Tenang aja," ucap Aoi berusaha tegar.


"Aoi!" panggil Makoto. Ia selalu mengawasi Aoi kemanapun cewek itu melangkah. Rasanya tak tenang. Sampai jadwal jam mengajarnya sering ia lupakan.


Aoi menoleh. 'Apa yang bakal dia lakuin?' batinnya penasaran. Mungkinkah memarahi Ryuji?


"Kamu jatuh gak ada yang luka kan? Mana? Sini aku obatin," Makoto mengecek kedua tangan Aoi. Benar saja, ada luka gores di tangan kanannya.


"Ssh aw! Perih!" Aoi meringis sakit saat Makoto mengusap lukanya.


"Kalian berdua kenapa ada di luar kelas? Mana gurunya?" tanya Makoto dingin. Kebiasaan jamkos selalu keluar kelas.


"Kita bersihin sampah yang ada di pot pak. Kelas kami lagi bersih-bersih. Di suruh sama pak Jiro," jawab Nakura.


"Oh begitu," Makoto beralih menatap Ryuji. "Kenapa kamu gak nolongin Aoi? Apa gak peduli?"


"Bukan gitu pak. Aku-"


"Udahlah, kamu banyak alasan. Urus aja selingkuhanmu ini!" Makoto menunjuk Nakura tak suka. Ia juga tau kalau Nakura sering menggangu hubungan Aoi dan Ryuji.


"Ayo. Kita ke UKS aja ya? Luka kamu parah," Makoto memapah Aoi. Tapi Aoi menggeleng.


Aoi berbisik pada Makoto. "Gue kebelet pipis!" bahkan Aoi menyingkirkan gengsinya mengatakan itu.


Makoto terkekeh. "Iya deh. Aku tungguin di kantin aja ya?"


Ryuji hanya memandangi kepergian Aoi dengan aneh. Apa yang di bisikkan Aoi? Sampai Makoto ikut tersenyum?


'Kamu pilih siapa sih? Aku apa pak Makoto? Kenapa disaat aku udah ngasih kesempatan buat hubungan kita kamu malah kayak gini?' batinnya.


Mungkin Aoi hanya mempermainkan perasannya.


***


Ngebut bget ngetik akunya? Yg satu minta up.


Fyi, sabar~

__ADS_1


My hands is two


See you-,


__ADS_2