Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
74. Namanya Hikaru


__ADS_3

"Namanya menurut aku Hikaru aja mas. Hikaru Rotschild karena ayah berpesan agar nama belakangnya menggunakan nama keluarga. Tapi kalau menurut kamu kurang bagus terserah kamu aja," Aoi hanya pasrah dengan Makoto, nama Hikaru kurang pas menurutnya entah dengan suaminya yang masih anteng memandangi anak pertamanya.


"Itu aja udah bagus. Aku gak tau apa-apa kalau nama yang bagus buat bayi kita. Pastinya kamu udah menyiapkannya dari dulu kan?"


Aoi mengangguk. "Sama Haruka dan Fumie. Mereka yang ngasih aku saran namanya."


Merasa di sebut namanya, tiba-tiba Fumie tersedak. Haruka segera menyodorkan jus jeruknya yang masih utuh tak terminum. Fumie meneguknya sampai habis, keterlaluan memang.


'Keselek tapi minumanku jadi korbannya,' batin Haruka kesal.


"Kenapa ya? Apa ada yang gosipin kita Haru?" tanya Fumie dengan alis yang mengernyit.


"Gosipin kita? Ngapain? Siapa sih yang berani. Gak ada kerjaan lain apa," Haruka mendumel.


"Gak tau sih," Fumie menggeleng. "Hatiku merasakan bahwa ada yang-"


"Udah, cepet di habisin itu jangan ngomong dulu. Sore nih, jangan sampai pulangnya kemaleman. Mamaku bakalan marah," Haruka harus tepat waktu sampai di rumahnya sebelum sang mama mengomelinya berjam-jam dan bertanya alasannya kenapa dan apa.


"Iya ya ini juga aku lagi makan."


Kembali ke rumah sakit, Makoto memberikan beberapa baju, aksesoris dan satu tas sebagai bentuk oleh-oleh dari Fukuoka. Dan Aoi menyukainya.


"Makasih banyak ya mas. Ini gak mah-"


"Cuman habis 900 ¥en. Sedikit, gak terlalu banyak."


Aoi mendelik tak percaya. Sedikit katanya?! Itu banyak sekali!


"Mas itu berlebihan banget. Kenapa harus beli yang harganya mahal? Memangnya disana gak ada yang standard atau murah?"


"Karena cintaku padamu itu tak ternilai harganya. Seperti aku berjalan ke utara, cinta yang tak bisa di utarakan daripada di selatan," gombal Makoto dramatis, Aoi salah tingkah di buatnya terlihat pipinya yang blushing semakin manis saja melebihi gulali dan permen.


"Mas! Gombal banget sih. Belajar darimana kata-katanya? Pasti nyolong di Instagram kan?" tanya Aoi penuh selidik, daridulu Makoto tak pernah merayu baru sekali ini saja.


Makoto terkekeh. "Itu murni dari hatiku yang paling dalam Aoi. Sini dulu deketin wajah kamu bentar."


Aoi heran. "Mau ngapain mas?"


"Udah sini dulu," Makoto punya rencana lain yang pastinya akan membuat Aoi diam tak berkutik.


Aoi dengan ragu mendekat. Sampai pada akhirnya.


Cup.

__ADS_1


Makoto mencium bibirnya singkat.


Aoi terpaku. Apa? Dan rasanya deg-degan dan hampir jantungan. Sampai lupa bagaimana caranya bernafas. Tak berkedip.


"Sayang? Hey," Makoto meniup kedua mata Aoi, istrinya itu berkedip.


"Ha? Apa? Iya mas. Jangan gitu, kalau ada dokter yang tiba-tiba masuk gimana?" Aoi panik dong masa gak.


"Gak bakalan ada yang masuk. Ryou yang jagain. Jadi ya aman," Makoto tersenyum nakal.


Aoi memukul lengan Makoto kesal. "Mas! Udah. Makin aneh aja kamu dari pulang kerja kok beda banget sama yang dulu," inilah yang membuat Aoi heran, romantis Makoto beda.


"Karena kangen banget. Aku lebih pilih di rumah aja sama kamu daripada kerja gak bisa liat wajah cantikmu," kan lidahnya ini selalu menggombal.


"Mas," tekan Aoi kesal. Terus saja gombal, pipinya memanas dan blushing.


"Ya udah, aku mau makan bentar dulu ya? Kamu di jagain Ryou dari luar. Soalnya daritadi pagi aku belum makan, sibuk nyiapin baju sama bantuin ayah. Bye sayang," Makoto tersenyum manis mengalahkan gula. Langkahnya pergi dari ruangan VVIP Aoi di rawat.


***


Warung, Karin merasa berbeda ketika Amschel mengajaknya ke warung biasa yang ramai apalagi anak-anak muda sampai para bapak pun ada. Mengobrol ngalor-ngidul sambil di temani kopi dan gorengan.


"Yah, kenapa kita disini? Gak ke restoran aja?" Karin merasa kurang nyaman, apalagi tatapan para pria-pria yang nongkrong di sebelahnya itu menggoda dan bersiul. Ah seperti tak pernah melihat wanita awet muda cantik.


Karin menggeleng heran, oh jadi itu alasannya? Bukan karena hal lain? Atau ingin mencoba suasana berbeda dan merasakan keromantisan? Hm, Amschel tak pernah menunjukkan sisi manisnya apalagi modus dan romantis. Yang Karin tau, Amschel hanya memiliki perhatian lebih dan itu sudah cukup baginya.


"Oh ya, jangan makan yang berminyak kayak gorengan. Kamu itu bakalan panas dalam," Karin memperingati, entah mau menurutinya atau ngeyel (keras kepala).


Amschel mengangguk. "Ya nyonya bawel. Aku gak akan makan yang berminyak. Terus makan apa? Disini menunya nasi liwet, goreng, apa nih? Rawon? Sama soto ayam. Kayaknya lebih menarik rawon. Mau gak? Kamu kan suka banget sama daging. Nih kebetulan ada menu rawon ma," Amschel menunjukkan buku menunya pada Karin.


"Aku gak bawel ya. Ya makan rawon aja. Kok baru tau ya?"


"Katanya sih pemilik warungnya dari Indonesia."


"Serius?" Karin tak percaya, dari namanya saja unik 'warung?'.


Amachel mengangguk. "Bentar ya, aku mau kesana dulu."


Terlihat pemilik warung yang memakai kebaya dan berkonde itu masih menggoreng.


"Saya ingin memesan dua rawon. Dan minumannya teh hangat saja."


Wakiyem menoleh. "Iya mas. Sik maringene. Sampean enteni," ucapnya dengan logat Jawa. (Iya mas. Sebentar lagi. Kamu tunggu).

__ADS_1


Amachel mengernyit tak mengerti bahasa apa yang di ucapkan wanita itu.


"Baiklah," tapi Amschel mengerti, pasti di suruh untuk menunggu hm sabar saja apalagi chat dan kabar.


Setelah pesanan datang, Karin yang pertama kali mencicipinya pun langsung suka dan jatuh cinta.


"Kalau masak begini di rumah Aoi pasti suka."


"Emang bisa?" Amschel ragu, biasanya Karin melihat buku resep.


"Kan ada YouTube. Pasti bisa dong," Karin tersenyum senang, amat percaya diri memasak rawon.


"Eh, kira-kira Makoto ngasih nama apa ya? Apalagi perempuan. Pasti Aoi nih," Amschel menebak, Aoi mungkin sudah menyiapkan namanya.


"Nanti juga di kasih tau namanya siapa. Di makan dulu itu, baru lanjut ngobrol lagi."


"Siap nyonyaku."


Karin bersiap melemparkan sendok ke Amschel. "Panggil aku Karin, sayang atau mama. Jangan nyonya, aku bukan permaisurinya."


"Tentu saja kamu permaisuriku," sambil mendekat dan berbisik, tentu membuat Karin menjauh menggeser posisi duduknya.


"Jangan bisik-bisik gini. Merinding telingaku," Karin tidak suka, apalagi hembusan nafas Amschel itu mengenai telinganya. Reaksinya seperti merasakan kehadiran tak kasat mata.


Amschel tertawa, daridulu Karin masih saja merinding ketika di bisiki.


"Lucu, jadi tambah pingin."


Karin mendelik. "Apa?! Pingin apa sih?" tanyanya ketus.


"Masa gak tau sih mbak? Ituloh, biasanya yang di kamar," celetuk salah satu anak muda yang duduk bersebelahan meja tak jauh hanya satu meter saja sedekat hatiku padamu.


Karin mencubiti Amschel tanpa ampun. Memang mulutnya tak bisa di rem.


"Ish, mulutnya di kunci aja selamanya. Biar gak minta yang aneh-aneh," Karin menyantap rawon-nya dengan lahap.


Amschel mengunci mulutnya. 'Daripada nanti gak mau. Aku cuman bisa gigit guling huftt,' batinnya.


***


Di dulang de'e pas sore mangan bareng romantis. (Di suapin dia makan bareng romantis).


5:06 sore.

__ADS_1


See you next episode-,


__ADS_2