
Makoto membuka pintu kamar Aoi, istrinya tidak ada.
"Sayang? Kamu dimana?" Makoto rindu dengan aroma jeruk itu yang bisa menenangkan pikirannya kacau saat ini.
Tak ada sahutan.
Makoto mempercepat langkahnya, ia mencari segala sudut ruangan dari ruang makan, tengah, ruang tamu dan nihil tidak di temukan.
Makoto menelepon Aoi, terdambung. Hatinya tidak tenang. Tak mau jauh-jauh dari Aoi, kangen memang berat apalagi yang sedang menjalani LDR-an.
"Kamu ada dimana sih? Aku panggil daritadi gak muncul-muncul," omel Makoto cepat, bahkan seperti emak-emak.
"Aku di belakang rumah, kesini aja."
Makoto mempercepat langkahnya, setelah capek dan pusingnya minta ampun dari kantor terutama mencari pelaku itu yang masih belum bisa di temukan.
Makoto bernafas lega, Aoi duduk sendirian.
"Aoi? Sini peluk," Makoto ingin mencari ketenangan dalam dekapan Aoi.
"Iya," Aoi memeluk Makoto, rasanya aneh kenapa suaminya itu pulang dan meminta peluk?
"Kamu kalau kemana-mana bilang sama aku ya?" pinta Makoto tersirat nada khawatir, pasti orang itu membenci dirinya. Ia hanya tak mau Aoi menjadi target selanjutnya
Aoi mengangguk. "Iyalah harus bilang sama kamu, aku gak mau kena omel."
"Kalau di suruh pilih pulang atau di Bali, aku memilih di Bali aja. Karena disana aku merasa tenang," ungkap Makoto serius, di balik kata-katanya itu ada rasa lelah.
Aoi mengernyit. "Kok gitu? Aku kangen banget loh sama Haruka dan Fumie. Kalau lama-lama di Bali yang ada pekerjaan kamu di kantor menumpuk."
"Masih ada adikku Aoi. Aku hanya ingin meluangkan waktu bersamamu," Makoto menatap Aoi lekat, terpesona dengan warna biru laut itu.
"Tiap hari juga sama aku. Ya meskipun kamu pulangnya sore, aku kadang bosen di rumah sendiri. Apalagi pas ayah sama mama sibuk kerja juga, jadwal ke kampus cuman 3 hari aja. Gantian karena kelasnya di pake juga," terasa sepi, Aoi baru kali ini merasakan kesendirian tanpa ada yang menemaninya meskipun mempunyai kesibukannya masing-masing.
"Maaf ya gak bisa ke kampus? Aku bakalan lebih sibuk sama urusan kantor," Makoto merasa bersalah, ia hanya takut Aoi mudah kepincut dengan presma ganteng itu.
Aoi mengangguk. "Iya gak apa-apa. Kamu udah makan siang belum mas?"
"Gak, aku udah kenyang," jawaban yang sungguh terbalik dan membingungkan yang tidak peka-peka kayak aku.
Aoi mengernyit. "Bilangnya gak tapi udah kenyang. Gimana sih mas? Aku gak ngerti."
"Kenyang habis liatin kamu," gombal Makoto mulai lagi romantisnya.
Untungnya Aoi tak semudah itu Ferguso untuk baper.
__ADS_1
"Terserah," Aoi tak mau tau, kenapa selalu saja andalannya menggombal.
***
Hari ini Aoi akhirnya masuk kampus lagi, setelah liburan 5 hari yang menyita waktu juga. Aoi sedikit kesal, tapi ia bahagia disana.
Aoi tidak fokus dengan jalan di depannya, ia memunduk banyak pikiran sehingga menabrak seseorang dan suara itu lagi yang membuat naik darah pagi-pagi.
"Sorry banget ya waktu itu gue lagi ada urusan. Gue gak bermaksud-"
"APA?!" sela Aoi cepat, suaranya naik beberapa oktaf.
Aoi menjadi pusat perhatian.
"Biasa aja dong suaranya! Telinga gue budek nih!"
"Kerjaannya marah-marah terus."
"Tapi lo pulangnya kan naik ojek?" Aldebaran berusaha sabar, ia tau Aoi emosi karena ulahnya sendiri.
Aoi menggeleng. "GUE?!" jeda sejenak, nafas Aoi memburu. Emosinya sudah memuncak. "Gue jalan kaki Al! Lo tega banget ya nyuruh gue pulang sendiri?!" kedua mata Aoi berkaca-kaca, ia menahan buliran kristal. Jangan sampai menangis di hadapan Aldebaran.
"Maaf," lirihnya. "Janji gue gak akan ngulang-"
***
Mall, tempat dimana menenangkan pikiran dengan barang favorit atau sekedar melihat yang baru dan trend.
Haruka lah yang mengusulkan ke mall setelah jam kuliah selesai, Aoi sudah menunjukkan kekesalannya dengan cara diam meskipun di tanya kenapa berulang kali jawabannya tetap sama yaitu aku gak apa-apa.
"Kesal gara-gara Adebaran kan?" tanya Fumie to the point, tak ada rasa takut kena omel Aoi.
"Y," jawabnya singkat.
Haruka berdecak kesal. "Kita itu manusia Aoi, bukan keyboard hp ihh," sungutnya kesal.
Aoi terkekeh. "Iya maaf. Buruan deh belanja. Aku gak mau pulangnya sore-sore amat. Bisa di marahin sama-"
"Suami!" seru Haruka dan Fumie kompak.
Aoi tersipu malu. "Apaan sih! Gak lah!"
***
Makoto berdecak kesal, mencari pelaku yang sudah berani menaburkan racun di minumannya. Meskipun sudah mengecek CCTV dari segala sudut ruangan.
__ADS_1
"Kenapa sulit sekali menemukan pelakunya?"
Nada dering tanpa batas waktu itu membuyarkan kosentrasi Makoto. Sebuah telepon dari ayah mertua.
"Sekarang juga kamu pulang. 15 menit lagi kita akan menuju Neon City, cepatlah. Tidak ada waktu lagi, karena tempat disana untuk piknik juga terbatas," Amschel menutup panggilan teleponnya.
"Kenapa harus sekarang? Ya sudahlah, aku serahkan saja pada Syougo," Makoto menghubungi Syougo ia menyerahkan segala urusan kantor kepada adiknya itu.
***
Setelah semuanya sudah siap dan keperluan makan serta camilan lengkap komplit, saatnya berangkat ke Neon City yang tak jauh dari kota sebelah.
Hanya menempuh waktu 1 jam saja sampai di kota indah dengan cahaya warna-warni lampunya yang memanjakan mata.
"Wah, ayah bagus banget. Ini kan yang dulunya kota Momiji Town kan yah?" tanya Aoi berdecak kagum, Neon City benar-benar indah dan berubah dari sebelumnya.
Amschel mengangguk. "Sangat indah bukan? Nah, tunggu apalagi kita harus mencari tempat duduk yang pas."
Sangat ramai pengunjung dan turis dari luar negeri yang berfoto mengabadikan keindahan kota Neon City.
"Disini aja, masih kosong," saran Aoi. Pilihan yang bagus bisa melihat sudut kota dengan kendaraan yang berlalu-lalang. Jangan lupakan pohon sakura yang subur itu daunnya berjatuhan.
"Maaf ya Makoto, jadi mendadak gini. Soalnya kemarin malam pembangunan Neon City sudah selesai di renovasi selama 2 tahun terakhir," ucap Amschel sungkan, pasti Makoto merasa terganggu saat ia telepon di jam kerja tadi.
Makoto menggeleng. "Sama sekali gak mengganggu kok yah, aku malah seneng bisa piknik gini. Apalagi kalau sama istri aku," Makoto melirik jahil Aoi yang di hadiahi pelototan tajam, dasar gombal lagi.
"Hahaha, sayang itu ada krim di bibir kamu. Kalau makan pelan-pelan," tawa Nakura yang keras itu menarik perhatian Aoi, mencari sumber suara sampai menemukannya. Sekitar 3 meter, Nakura dan Ryuji piknik berdua. Tidak salahkah penglihatannya?
Mendadak suasana hati Aoi sedih dan kecewa, andai saja Nakura itu adalah posisinya sekarang. Tapi kalau takdir sudah berkata lain, Aoi tak bisa melakukan apa-apa.
Makoto yang menyadari kesedihan istrinya itu mengikuti arah pandangannya. Oh, dua sejoli itu yang bikin Aoi sedih?
"Sayang, foto dulu yuk?"
Aoi mengangguk antusias. "Jangan berdua ah! Mama sama ayah juga ikutan foto ayo!"
Makoto bernafas lega, akhirnya senyum Aoi kembali.
***
Mentok sampai sini idenya, agak ngaret habis dari acara hajatan kemarin.
3:41 sore
See you-,
__ADS_1