
Di dalam restoran, suasananya lebih hening tak ada yang mau angkat bicara. Hikaru sangat lahap memakan takoyaki. Aoi duduk di sebelah Hikaru meskipun kursi yang di sebelah omah Eva masih kosong.
"Hikaru, mulai sekarang selalu bersama dengan mama ya?" akhirnya Aoi memberanikan diru angkat suara.
Hikaru menatap sang mama. "Iya ma. Biar aku gak kenapa-napa."
"Di makan yang banyak ya? Biar kenyang," Aoi mengusap surai Hikaru dengan sayang.
'Aku kira Aoi bakalan perhatian. Tapi lebih memilih Hikaru daripada aku. Padahal Hikaru gak mempermasalahkan soal tadi,' batin omah Eva.
***
Jam 7 malam, saatnya berkumpul keluarga. Amschel juga baru pulang, Makoto sudah duduk di sebelah Aoi dan memangku Hikaru.
"Aoi, itu siapa?" tanya Makoto melirik omah Eva merasa asing dan tak pernah melihatnya.
"Oh, itu omah Eva nenekku yang tinggalnya jauh banget dari kota ini," jawab Aoi malas, wajahnya datar.
Omah Eva yang merasakan Aoi tak suka kehadirannya pun kesal. Memangnya ia salah kesini? Hanya merindukan cucunya dan ingin tau kehidupan Aoi yang sekarang sangat berubah drastis.
"Amschel," panggilnya.
Amschel mengalihkan pandangannya dari ponselnya. "Iya omah? Ada apa?"
Karin menghela nafasnya. Pasti akan bercerita lagi. Karin tau tujuan neneknya itu pasti hanya ingin di berikan sepeser uang. Tak merasa cukup dengan kehidupan keluarga Yosio yang melimpah.
"Dulu, kau tidak se-kaya ini Amschel. Uang banyak, punya helikopter sendiri dan mobilmu yang indah itu. Aoi sangat beruntung menjadi anak kalian. Semuanya lengkap dengan fasilitas apapun. Mendapatkan seorang suami yang sama kaya-nya," omah Eva bangga, memang harus begitu sesuai derajat dan kelas.
"Apakah kalian dulu berpacaran ya?" tanya omah Eva penasaran.
Makoto menggeleng. "Tidak, kami di jodohkan. Sama sekali tidak berpacaran."
"Perjodohan yang awalnya terpaksa," gumam Aoi, kisah yang menyakitkan. Selain tak bisa memiliki Ryuji, ia kehilangan cinta monyetnya.
"Tapi meskipun terpaksa kalian juga udah keliatan saling mencintai," ujar omah Eva, memperhatikan Makoto yang sangat dekat dengan Aoi. Pria itu juga memandangi Aoi tak berkedip, mungkin malam hari menambah kecantikan para cewek karena sinar rembulan yang menembus dari jendela turun ke hati.
"Aku boleh pinjem hp gak yah?" tanya Hikaru, ia bosan. Ingin mencoba hal baru selain makan dan bermain.
Makoto mengangguk. "Boleh dong, mau main game Sakura School Simulator ya?"
Hikaru mengangguk antusias. Game kesukaannya!
"Iya ayah. Seru banget, punya teman banyak, bisa sekolah, makan-makan, terus ada misi alien sama cumi-cumi. Ayah gak mau nyobain?"
Makoto sama sekali tak minat dengan game yang di gemari kalangan cewek itu.
"Gak, kamu main aja. Ayah cuman liat."
Hikaru mulai serius menjalankan karakter Girl dengan nama Rina Tamaki, memulainya dari School Gate.
"Yah, aku pingin kita ngobrol berdua. Tapi gak disini, nanti omah Eva kedengeran," bisik Karin di telinga Amschel lirih, karena omah Eva berada di sebelahnya bisa gawat ketauan bisik-bisik dan namanya di sebut, pasti myinyir lagi.
Amschel mengangguk. Mungkin sangat penting sampai harus berbicara empat mata ku ingin bertemu ku katakan aku cinta kamu.
__ADS_1
Omah Eva menyadari kepergian Karin dan Amschel tanpa berbicara itu menimbulkan tanda tanya besar di pikirannya. Sedang apa?
'Mungkin ini tentangku lagi. Hm, memang semua orang disini tak menyukai kehadiranku kecuali Makoto. Dia belum tau,' batinnya.
Di teras rumah, Karin mengatakan semuanya. Mulai dari penyebab Hikaru yang hampir celaka jika Aoi tak menyadarinya.
"Omah Eva yang mengajak Hikaru ngobrol. Untung aja Hukaru gak kenapa-napa yah."
"Syukurlah kalau begitu. Lain kali jangan tinggalin Hikaru," nasehat Amschel.
"Aku gak tau sampai kapan omah Eva menginap disini. Takutnya nanti Hikaru akan celaka lagi," inilah yang Karin khawatirkan, selain itu juga sifat omah Eva yang selalu menjadi pemenang tak di ketauhi oleh Makoto.
"Kita kasih tau Makoto juga ya? Biar omah Eva gak minta macem-macem. Kamu tau kan gimana liciknya dia?"
Amschel setuju saja, Makoto harus tau. "Nanti kamu ajak bicara Makoto. Kita masuk ke dalam aja daripada omah Eva curiga sama kita."
***
Seperti biasanya, setiap pagi Hikaru membantu Aoi masak. Meskipun hanya kadang-kadang membantunya dan lebih banyak duduk dan sekedar melihat, Hikaru senang bisa mencicipi makanan yang paling pertama.
"Ma, mau bikin apa tuh? Beda ya menu dari kemarin?" tanya Hikaru yang sudah nyaman di posisi duduknya tak ingin berpindah-pindah seperti hati yang berkelana kemana pun.
"Aku boleh bantuin gak ma? Biar bisa masak kayak yang ada di TV itu loh. Namanya apa ya? Aduh kok lupa sih," Hikaru berusaha mengingatnya, orang yang memakai topi sedikit panjang.
"Chef maksudnya? Atau koki?"
"Koki aja deh. Kalau chef juga boleh," Hikaru tersenyum ceria.
Aoi memotong paha ayam fillet 100 gram menjadi bentuk dadu. Mengiris 1 bawang bombai kecil.
Aoi menggeleng. "Gak boleh Hikaru. Nanti tangan kamu berdarah. Mau?"
Hikaru menggeleng takut. Kalau soal darah, ia tak mau. Pasti sakit dan perih. "Gak ma. Terus aku bantuin apa? Masa diem terus."
"Mama nyalain kompornya dulu," Aoi menyalakn kompor dengan teflon anti lengket untuk menumis paha ayamnya.
Aoi mulai menumis.
"Ma, aku pingin goreng juga," Hikaru hanya ingin mencoba menggoreng, daridulu sang mama tak memperbolehkan malah menakut-nakuti minyak yang mucrat dan panas mengenai kulit.
"Bentar ya. Jangan coba-coba buat goreng Hikaru. Mama mau ke kamar mandi dulu," Aoi pergi.
Saatnya Hikaru melakukan aksinya.
"Eh biasanya kan di tambahin garam ya? Mana ya garamnya," Hikaru menatap deretan toples tanpa tulisan itu sedikit kesulitan, mana yang garam dan gula.
"Aduh, mana sama-sama warnanya putih. Yang ini kayaknya," Hikaru mengambil garam sesuai perkiraannya.
"Berapa sendok ya? Kalau semuanya bakalan enak nih masakan mama," Hikaru menuangkan semua garamnya tak tersisa. "Eh, tapi kayaknya bukan yang ini deh garamnya. Apa itu ya?" Hikaru mengambil gula.
Senyumnya mengembang. Ia akan mengubah racikan masakan menjadi lezat dan enak.
"Jangan di habisin deh. Segini aja cukup," Hikaru menuangkan gula yang awalnya penuh kini menjadi setengah. "Kalau garamnya habis, nanti mama nyuruh aku beli di warung. Jauh lagi."
__ADS_1
Suara langkah kaki membuat Hikaru segera mengembalikan toples ke tempat habitatnya.
"Hikaru. Kamu gak coba-coba goreng kan?" tanya Aoi memastikan saja, tangan Hikaru tak bisa diam.
"Cepet banget ma?"
"Kalau lama, nanti ini gosong dong. Rasanya bakalan gak enak."
'Aku jadi gak sabar ngasih makanan itu ke omah dulu. Kan omah udah mau ngajak aku ngobrol kemarin, udah asik, ramah, murah senyum. Omah pasti suka,' batin Hikaru tak sabar.
Jam 6 pagi, saatnya sarapan. Waktu yang tepat untuk mengisi perut yang lapar dan keroncongam sejak malam hari ingin makan.
Hikaru duduk di sebelah omah Eva. "Tau gak omah?" bisiknya.
Karin ingin memanggil Hikaru tapi urung karena Aoi menyiapkan sajian Oyakodon dj meja.
Omah Eva menggeleng. "Emang tau apa nih?" berpura-pura akrab lalu mengelabui Hikaru untuk mengambil uang sesuai keinginannya, bocah itu akan menurut.
"Itu aku yang masak loh. Omah cobain ya?"
"Ma, siapin buat omah dong. Biar dia jadi yang pertama nyobain masakanku."
Aoi mengangguk.
Setelah Oyakodon tersaji di hadapan omah Eva, ia memakannya. Hanya satu sendok saja lidahnya ingin muntah saat itu juga. Tapi melihat kebahagiaan Hikaru yang menatapnya penuh binar hatinya jadi tak tega.
"Enak banget. Kamu sangat pintar memasak," ucap omah Eva sedikit di paksakan, lidahnya merasakan asin yang hebat dan rasa manis menjadi satu. Jadi kayak nano-nao gitu.
"Aku ke kamar mandi dulu," omah Eva sudah tak tahan ingin memuntahkannya. Oyakodon itu memiliki rasa buruk. Pasti ini buatan Hikaru sendiri.
Makoto, Karin, Amschel dan Aoi heran melihat gelagat omah Eva.
"Sekarang kakek pingin nyobain juga deh" karena Amschel penasaran bagaimana rasanya sampai omah Eva harus ke kamar mandi.
Amschel terdiam. 'Jadi, ini yang bikin omah ke kamar mandi?' batinnya.
"Aoi, ayah pingin ngomong sama kamu," Amschel ingin tau, kenapa bisa Hikaru memasak Oyakodon dengan rasa yang buruk.
Setelah menjauh dari meja makan, Amschel mulai berbicara.
"Apa kamu biarin Hikaru di dapur masak?"
Aoi bingung. "Tadi aku ke kamar mandi sebentar yah. Gak lama, aku juga gak melihat Hikaru goreng. Dia sendiri yang bilang gak ngapa-ngapain."
Amschel menghela nafasnya. "Bisa saja Hikaru menaruh garam dan gula sebebasnya. Hanya itu. Suruh mamamu dan Makoto agar gak makan Oyakodon itu. Bilang aja sama Hikaru udah basi."
"Baik ayah."
Ah, Hikaru sudah berbohong.
***
Menyukai bumbu kacang dengan sedikit kecap.
__ADS_1
5:38 sore.
See you-,