Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
28. Badmood


__ADS_3

Ryuji melepaskan dekapannya.


"Anggap aja aku orang asing yang gak kamu kenal," Ryuji pergi dengan langkah terberatnya.


Aoi menangis sesenggukan. Ia tak menyangka Ryuji akan meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.


"Kenapa? Kenapa? Kalau aku ada salah, setidaknya kita bicara baik-baik. Bukan seperti ini, mengakhiri!" teriak Aoi emosi, suaranya menguap di langit dengan sia-sia tanpa ada yang mendengar kesedihannya.


Sedangkan Makoto cemas mencari Aoi di kelas tapi tidak ada. Di kantin pun sama, Makoto mencari Haruka dan Fumie.


Dua cewek semanis gula dan kamu itu fokus mukbang jajan.


"Aoi mana? Kenapa gak sama kalian?" tanya Makoto langsung pada intinya, biasanya ia menyapa Haruka dan Fumie.


"Gak tau pak. Tadi Aoi langsung pergi gitu aja gak ngomong apa-apa," jawab Haruka. Ia sempat heran mengapa Aoi pergi tiba-tiba.


Makoto mencari Aoi di taman belakang sekolah. Nihil. Lalu menyuruh siswi yang ada di toilet mengeceknya juga sama, tidak ada.


"Rooftop! Iya! Pasti Aoi disana," Makoto mempercepat langkahnya menaiki tangga. Sampai ia menemukan Aoi...


"Aoi! Aoi! Astaga bangun!" Makoto menggendong Aoi bridal style, kenapa bisa pingsan?


Makoto membawanya ke UKS, tatapan heran dari siswa yang berseliweran berbisik kepo.


"Itu Aoi kenapa lagi?"


"Denger-denger Aoi baru putus sama Ryuji!"


"Lo tau darimana?"


"Nakura yang bilang. Makannya jangan ketinggalan gosip!"


Makoto ingin menonjok Ryuji saat ini juga. Apa tadi? Putus? Berani-beraninya Ryuji menyakiti perasaan Aoi. Kurang apa Aoi sampai Ryuji melepaskan begitu saja?


Di UKS Makoto meminta pak Shin menjaga Aoi dan satu PMR cewek.


"Baik pak. Biar Ai yang bakalan jagain Aoi," ucap pak Shin mengangguk.


Tujuannya saat ini adalah Ryuji. Makoto akan memberikan pemajaran untuk cowok itu, entah apa yang telah Ryuji katakan sampai Aoi pingsan.


Di kelas 12 Ips 1 Nakura dan Ryuji melempar canda tawa.


"Kamu itu cowok loh! Masa suka sama boneka?" Nakura tak bisa melunturkan senyumnya.


Ryuji terkekeh. "Ya gak ada salahnya buat temen tidur sama cerita," senyumnya tulus, seperti semua beban yang terjadi beberapa detik lalu hilang.


"Yang namanya Ryuji Sakuma, segera menghadap saya empat mata sekarang!"


Tiba-tiba suara bariton menyeramkan itu membungkam kericuhan 12 Ips 1.


Syougo menepuk bahu Ryuji. "Di panggil pak Makoto tuh," hatinya juga kaget, kenapa kakaknya terlihat memancarkan amarah?


Ryuji menurut saja. Tapi rasanya aneh, kenapa Makoto sudi berbicara empat mata?

__ADS_1


"Ada apa pak?" tanya Ryuji saat berhadapan dengan Makoto.


"Ikut saya," tanpa memberitahukan kemana, Makoto ingin melampiaskan amarahnya. Kalau sampai Tuan Amschel tau, dirinya yang terkena imbasnya.


Taman belakang sekolah. Sepi.


Makoto memojokkan Ryuji di tembok. Tangannya mengepal bersiap menghajar Ryuji saat ini juga.


Bugh!


Kesabaran Makoto habis.


"KAMU APAIN AOI?! SAMPAI DIA PINGSAN!"


Ryuji tak melawan. Ia memegangi sudut bibirnya yang perih.


"Apa yang pak Makoto katakan? Saya gak mengerti pak. Coba bicarakan baik-baik," mendapatkan pukulan dari Makoto saja syok, apa dirinya ada salah?


"KENAPA PUTUSIN AOI?"


"Ingat ya, kalau sampai Aoi kenapa-napa berurusan dengan ayahnya. Siap-siap saja tinggal nama," Makoto tersenyum miring.


"Maaf pak. Memang saya yang mau putus sama Aoi. Kami putus baik-baik pak. Untuk yang Aoi pingsan, saya tidak tau apa-apa," jawab Ryuji tenang. Ia tak menyangka reaksi Aoi akan begitu.


"Alasan apa? Takut saingan sama saya?" tanya Makoto menantang. Ryuji tak akan sanggup, dirinya lebih di atas dan senior.


"Bukan begitu pak. Saya-"


"Karena kejadian tadi? Aoi seperti itu ya gara-gara kamu!" sela Makoto masih terbawa emosi.


Ryuji terdiam. 'Apa iya? Jadi Aoi kabur dari rumah cuman pingin ketemu sama aku? Argh! Kenapa aku sampai salah mengambil keputsan sih?!' batin Ryuji frustasi. Menyesal.


Makoto terkekeh. "Kenapa? Menyesal kan? Aku mau sekarang minta maaf sama Aoi. Kamu mau bikin Aoi sakit?"


Ryuji menggeleng.


"Temui dia di UKS. Jangan senang dulu, karena aku mengawasimu," ucap Makoto penuh penekanan. Tak akan ia biarkan Ryuji menyentuh Aoi meskipun 0,01 cm saja.


Di UKS, Ryuji menghampiri Aoi yang masih berbaring dengan mata terpejamnya. Belum sadar juga.


"Aoi. Maafin aku ya?"


'Males! Maaf lo itu gak guna lagi!' sahut Aoi dalam hati. Ia sudah sadar, mengenai Ryuji akan ke UKS informasi dari Syougo.


"Gak mau maafin aku ya?"


'Gak akan pernah. Karena apa? Lo udah bikin kepercayaan gue hilang,' jawab Aoi kesal. Ia juga punya hati, ia mudah menangis. Jika perempuan lain di posisinya juga akan sama menangis dan sedih.


"Selesai. Kamu boleh pergi darisini," usir Makoto.


Ryuji mengangguk. Setidaknya melihat kondisi Aoi saja hatinya tenang.


"Pak? Aoi udah sadar daritadi," ucap Ai setelah Ryuji pergi.

__ADS_1


Makoto terkejut. Benarkah?


"Terus kenapa masih-"


"Baaa!" seru Aoi, sesekali ngeprank Makoto.


Makoto terkejut. "Ngagetin aja!"


Aoi terkekeh. "Hahaha gitu aja kaget. Lo kan yang nyuruh Ryuji kesini?" Aoi berubah kesal, gara-gara putus cinta dirinya pingsan.


Makoto mengangguk. "Iya, biar dia minta maaf. Beraninya nyakitin Aoiku yang cantik," tanpa sadar Makoto baru saja menggombal. Tentu membuat Aoi baper, Aoi salah tingkah.


"Apa sih? Enak aja bilang Aoiku," ucapnya kesal. Memangnya siapa? Pacar halu, teman bukan, sahabat bukan, gebetan mimpi.


"Kamu boleh pergi," Makoto merasa terganggu, apalagi Ai selalu memperhatikan.


"Kok di usir sih? Ai asik tau. Dia ngajak gue bicara, ketawa, nangis juga," Aoi mulai curhat. Bahkan Ai sudah memberikan nomor ponselnya.


Makoto mengangguk. "Terus?"


"Lo habis ngapain sama Ryuji?" Aoi mengalihkan topik, pasti ada pertarungan sengit. Aoi juga melihat luka lebam di wajah Ryuji.


"Gak ngapa-ngapain kok," jawab Makoto dengan santainya.


"Gak ngapa-ngapain tapi wajahnya luka. Ngaku!" introgasi Aoi tegas.


"Salah sendiri bikin kamu pingsan. Makannya kalau pilih cowok itu yang tulus kayak aku gini," ucapnya terlalu geer.


"Percaya diri banget lo. Mana ada yang mau!"


"Ada kok," Makoto tersenyum penuh arti. Rasanya senang menggoda Aoi.


"Gak ada!"


"Ada sayang. Kamu orangnya," Makoto menunjuk hidung Aoi. Lama-lama tambah gemas saja.


"Tau ah! Badmood!" Aoi bersidekap dada. Sudah cukup hari ini di tinggalkan pas lagi sayang-sayangnya, jangan di tambah gombalan Makoto yang ada kemodusannya itu.


"Kalau badmood di kasih coklat pasti seneng," hanya menebak, kebanyakan cewek memang suka yang manis-manis kan?


"Udah gue bilang gak suka coklat!" bantah Aoi tak mau tau.


"Sukanya sama kamu aja," gombalnya lagi.


"Sana!" Aoi melempar bantal UKS tapi Makoto menghindar dengan gelak tawanya.


Menyebalkan.


***


Fyi dikit lagi gak mood. Ide sampai disini aja.


Always happy with fake smile

__ADS_1


See you-,


__ADS_2