
Ryuji sekarang tanpa sungkan dan ragu datang ke rumah Aoi.
"Kamu rencananya mau kerja ya?"
Ryuji dan Aoi duduk di ruang tamu. Sampai Aoi lupa membasuh wajahnya saat Ryuji sudah datang ke rumahnya pagi-pagi buta.
Aoi menggeleng. "Namaku udah terdaftar di Universiras Sakura. Satu minggu lagi tes seleksinya. Doain aja aku lolos dan keterima disana," biarlah Makoto melarangnya, lagipula Aoi hanya ingin meraih cita-citanya.
"Iya, amien. Jalan-jalan yuk? Aku baru ada waktu sekarang. Kalau nanti sore atau malam gak bisa. Aku jaga mall," meluangkan waktu dengan orang yang di sayang memang penting, mungkin dengan ini Ryuji bisa memperbaiki hubungannya.
Aoi mengangguk setuju. "Yuk, mana tangannya?"
Seperti biasa, selalu Aoi yang meminta tangannya di gandeng.
Hari ini Ryuji sangat senang, alasannya hanya satu. Makoto sama sekali tak menampakkan batang hidungnya.
"Boleh manggil sayang?"
Aoi tersipu. Ryuji tetap manis dan romantis.
"Ya boleh dong. Kan kamu pacar aku," Aoi tersenyum manis.
Semua gerak-gerik itu di perhatikan oleh Hitohisa.
"Ternyata Aoi membohongi Makoto akan perasaannya. Giliran di tinggal nangis," Hitohisa memotret beberapa pose penting, mulai dari gandengan tangan, dan tertawa bersama.
Send.
Syougo memperlihatkan itu pada Makoto. Sang kakak menatapnya sekilas tanpa berkata-kata. Ada apa ini?
"Kak? Ini Aoi lagi jalan sama Ryuji kak. Kok kakak diam aja?" Syougo menghela nafasnya, percuma saja mengajak Makoto berbicara sampai berbusa pun sang kakak tak akan angkat suara.
"Terus apa urusannya sama aku? Memangnya itu penting?" balas Makoto dingin dan datar.
Syougo terdiam. Kenapa sikap kakaknya begitu dingin dan tak peduli dengan Aoi?
'Apa kakak udah gak mencintai Aoi? Kenapa? Secepat ini? Mungkinkah kakak lelah berjuang sendirian?' batin Syougo heran.
***
"Nakura, dengerin aku dulu. Jangan hp-an terus ah. Ini penting tau!" desak Rumi tak sabaran
Nakura bedecak kesal. "Aku itu lagi pilih baju baru. Mau beli lagi, yang kemarin kekecilan. Salah pesanan," omel Nakura kesal.
"Ini tentang Ryuji Naku. Ryuji ngajak balikan Aoi. Parahnya lagi sekarang mereka udah jadian. Gak iri emang?"
Nakura terkejut. "Apa? Jadian? Kapan? Kok aku gak tau sih!" rasanya tak terima Ryuji kembali lagi dengan Aoi.
"Pas reunian gitu. Di rumah mewahnya Aoi yang kayak istana. Aku aja gak percaya. Mau liat gak?" Rumi menunjukkan the palace house Rotschild.
Nakura tercengang. Ia tak percaya ternyata Aoi adalah anak dari presiden Jepang yang kaya raya.
"Apa Ryuji pacaran sama Aoi karena harta aja Rum?" tanya Nakura, ia mulai tertarik. Kalau benar, dirinya juga bisa memberikan segalanya untuk Ryuji.
__ADS_1
Rumi mengangguk. "Bisa jadi. Ryuji kan miskin Naku," mengenai Ryuji tak pernah tempil mencolok atau modern di sekolah.
Nakura tersenyum miring. "Aku ada rencana Rum. Dan di jamin bakalan berhasil," Nakura yakin Aoi akan menjauh perlahan-lahan dari Ryuji.
"Kalau rencana aneh-aneh aku gak ikutan-ikutan deh. Males," Rumi tak ingin jadi sasarannya.
"Mau uang gak? Atau makan sepuasnya di restoran?" tawar Nakura, kalau tak melibatkan Rumi mungkin sebagian rencananya akan gagal.
Rumi mengangguk antusias. "Nah! Kalau itu mau dong!"
Nakura mendengus. Dasar tukang makan.
***
Nakura kini berada di sebuah tempat sepi, taman kota.
Nakura melihat arlojinya yang menunjukkan pukul 11 malam.
Senyum miring dan hati berdebar. Nakura benar-benar gugup.
"Satu...Dua...Tiga!"
Nakura menelepon Ryuji. Namun panggilannya di tolak. Cara kedua Nakura akan ampuh.
Nakura merekam pesan suara. Ia memulai aktingnya.
Nakura tersisak. "R-ryuji. T-tolongin aku. Hiks, aku-sendirian hiks. Aku-hampir aja di culik hiks. Plesee Ryuji, tolongin aku hiks hiks," Nakura benar-benar menangis. Aktingnya patut di acungi jempol.
Tak lama kemudian Ryuji meneleponnya.
"Nakura? Kamu dimana sekarang? Aku kesana secepatnya. Share lokasinya ya? Kamu tenang, jangan kemana-mana," ucap Ryuji menenangkan Nakura.
"Aku ada di taman kota. K-kamu kesini ya? Aku takut banget kalau penjahat itu nyelakain aku lagi," pinta Nakura dengan sangat memohon.
"Iya Nakura. Tenang. Aku lagi ada di jalan. Jangan di matiin teleponnya ya?" suara Ryuji begitu tenang, sampai Nakura merasa senang dan aman.
Nakura mengangguk.
'Dan pada akhirnya Ryuji termakan sama omongan bohongku,' Nakura tak sabar ingin melihat kehancuran hubungan Ryuji dan Aoi esok.
Tin tin!
Klakson motor itu membuat hati Nakura lega dan senang.
Dengan langkah tergesa, Ryuji menghampiri Nakura. Keadaan cewek itu miris, duduk di tanah dan merungkuk memeluk lututnya.
Ryuji tak habis pikir kenapa Nakura bisa celaka.
"Nakura? Kamu baik-baik aja kan?" Ryuji menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Nakura.
Nakura memeluk Ryuji. Ia menangis sesenggukan.
"Kamu disini ya? Jangan tinggalin aku," dengan suara lirih dan parau, Nakura mengatakan itu agar Ryuji semakin bersimpati padanya.
__ADS_1
Ryuji mengangguk. "Iya Nakura. Aku disini. Kita pulang ya?"
Klik!
Rumi tersenyum puas, ia tak terlalu jauh dimana Nakura melakoni dramanya.
Rumi berdecak kesal. Kenapa Nakura menyuruhnya berdembunyi di balik pepohonan?
"Emang ya? Cuman demi cinta Nakura bakalan lakuin apa aja demi dapat perhatian Ryuji," Rumi menggeleng heran. Tapi Nakura sudah berbaik hati akan mentraktirnya makan sepuas yang ia mau.
Rumi meng-upload video itu di Instagram sakura.lambe dan menuliskan caption "Yang jauh bisa saja dekat. Bukan sebatas teman tapi lebih."
"Kamu ngapain kok keluar malam-malam? Ada perlu apa?" tanya Ryuji lirih. Tatapannya teduh, bahkan Nakura sampai terhanyut tak berkedip.
"Aku mau beli makanan. Mama sama ayahku lagi di luar kota seminggu. Di kulkas juga habis. Gak ada pilihan lain kalau beli di luar," jawab Nakura jujur.
"Oke. Kalau kamu ada apa-apa telepon aku. Jangan keluar sendirian, apalagi malam-malam gini. Bahaya," tutur Ryuji khawatir.
"Makasih ya?"
"Sama-sama Nakura," Ryuji tersenyum tipis.
***
Aoi yang sedang fokus sarapan merasa terganggu dengan ponselnya yang berbunyi tanpa henti.
Ternyata Haruka.
"Iya? Kenapa Haru?"
"Check Instagram sakura lambe? Emang ada apa?"
"Ha? Kamu jangan becanda deh. Gak lucu Haru!"
"Iya ya ok. Makasih Haru informasinya," Aoi segera mengecek akun gosip SMA Sakura itu.
Baru video di putar 3 detik saja Aoi tak sanggup melihatnya.
"Jadi ini yang namanya janji?"
"Aku kira kamu bakal nepatin janji itu. Jauhi Nakura apa susahnya sih? Aku cemburu Ryuji! Kamu tau itu! Aku gak suka kamu deket sama Nakura, dia itu perempuan licik yang mau menjadi penghalang di hubungan kita!"
Entah mengapa Aoi tak bisa menangis. Mungkin air matanya sudah habis menangisi Ryuji saat putus waktu itu.
"Kalau kamu gak menghargai perasaan aku. Kita gak usah lanjut," ucap Aoi tenang, melepas Ryuji seperti mengurangi beban kecil di hatinya. Beban sakit hati karena cinta.
***
Gantian habis TMOO nulis MWTB. Double ngetik double mood.
Dia: semangat sayang
Aku: pasti
__ADS_1
See you-,