
"Silahkan mas di pilih bunganya. Ada bouquet putih, kuning, dan pink. Semuanya masih fresh, baru di petik dari kebun bunga," jelas Shizu ramah.
Ryuji membeli bunga karena ia ingin balikan dengan Aoi. Apalagi disaat Aoi melempar senyum ke arahnya saat acara promenade waktu itu.
Flashback On
"Atas usaha dan kerja kerasnya dalam belajar sampai rela begadang dan ketiduran. Dia berhasil meraih peringkat pertama dan menggeser Ryuji yang selalu mendapat gelar sang juara di tahun-tahun sebelumnya. Dia adalah..."
"Aoi Mianami!"
Ryuji terkejut. Aoi? Bagaimana bisa cewek itu menyainginya?
Tapi Aoi tersenyum, ke arahnya! Betapa hatinya tak deg-degan saat ini.
Flashback on
Dan Ryuji memilih jalan balikan untuk memperbaiki semuanya. Mungkin mulai dari awal akan jauh lebih baik.
"Yang warna putih aja. Berapa?"
"1000 ¥en saja mas," jawab Shizu tersenyum.
'Semoga Aoi suka. Karena aku yakin, Aoi itu hanya mencintai aku. Bukan pak Makoto,' batinnya. Bunga yang indah, seperti orangnya.
***
^^^Anda^^^
^^^Aoi? Apa kabar? Kita ketemu di caffe chery cat yuk? Aku kangen. ^^^
^^^6:00 pm^^^
Aoi
Ini siapa ya?
6:01 pm
^^^Anda^^^
^^^Ryuji. Mantan terindah kamu. Aku tunggu ya? Love u^^^
^^^6:02 pm^^^
Sedangkan Aoi yang mendapatkan pesan dari Ryuji dengan nomor barunya pun terkejut. Love u? Apa Ryuji sudah waras? Dia sendiri yang memutuskan hubungan ini.
"Apa minta balikan?" Aoi ragu, tapi perasannya masih tersisa untuk Ryuji. Di tinggalkan tanpa sebab dan putus baik-baik, hatinya tak mengikhlaskan.
"Temui aja deh. Siapa tau kalau aku balikan sama dia bisa lebih baik lagi kayak dulu," Aoi menyunggingkan senyumnya.
Setelah berdandan cantik, Aoi melangkah dengan hati-hati melalui pintu belakang. Makoto melihat TV di ruang tengah, suaranya pun lumayan keras. Jadi aman kalau dirinya kabur.
__ADS_1
Aoi menyetop taksi, menyebutkan caffe yang tak jauh. Siapa tau Ryuji sudah menyiapkan tempat itu dengan dekorasi romantisnya.
"Terima kasih mbak," ucap si supir setelah menerima uang 600 ¥en.
Aoi terpaku, caffe chery cat sangat indah. Caffe yang penuh kenangan antara Makoto dan Ryuji.
"Aoi! Sini. Aku kangen banget sama kamu," Ryuji tersenyum manis.
Malam ini saja, Ryuji terlihat tampan. Memang betul atau mitos, setelah putus dengan mantan ada saja perubahannya yang bikin gagal melupakan.
Dengan langkah cepat dan wajah riang, Aoi menghampiri Ryuji.
"K-kamu ngajak aku kesini buat balikan ya? Aku seneng banget!"
Ryuji mengangguk. "Iya. Maafin aku kalau waktu itu ninggalin kamu tanpa sebab. Tapi kalau kita buka lembaran baru, gak akan ada lagi yang merasa bosen atau tersaingi. Sekarang aku mengerti Aoi, hatiku cuman iri liat kamu sama pak Makoto setiap hari tambah deket," Ryuji mengutarakan isi hatinya.
"Jadi?"
"Mau balikan?"
Aoi mengangguk. Karena kesempatan tak mungkin datang 2 kali.
"Iya, aku mau. Tapi kamu jangan deket saka Nakura ya? Aku cemburu tau," Aoi terkekeh.
Suara riuh tepuk tangan dan ucapan selamat membuat Aoi menunduk, ia kira hanya dirinya dan Ryuji.
"Selamat ya?"
Aoi menoleh. "Haruka? Fumie? Kalian disini juga?"
"Iya dong. Ryuji yang ngasih aku donat banyak. Jadi mau deh," jawab Fumie si tukang makan.
"Kita makan-makan dulu yuk," Fumie tak sabar ingin makan.
Seperti biasa, kali ini Syougo tak ikut turun tangan. Melainkan ia menyuruh orang lain untuk memata-matai Aoi dan Ryuji.
"Siap laporkan. Ryuji dan Aoi balikan. Mereka sedang makan di meja nomor dua bos. Apa yang harus saya lakukan?"
"..."
"Ok baiklah. Nanti saya akan kirim rekaman suaranya kepada bos," Hitohisa mulai merekam pembicaraan Aoi dan Ryuji sebagai bukti yang akan di kirimkan ke Syougo lalu Makoto.
"Haruka sempat gak mau di ajak kesini. Tapi pas Ryuji bilang mau balikan sama kamu, ya semangat deh," ucap Fumie tersenyum riang. Haruka sangat mendukung hubungan Aoi dan Ryuji.
"Tolong jauhi Nakura deh. Males banget liat dia. Jadi pengganggu hubungan kalian," nasehat Haruka sekaligus mengomeli Ryuji yang mau-mau saja di dekati Nakura, cewek terobsesi dengan Ryuji dan berusaha mengambil hati dan cintanya.
Ryuji mengangguk. "Aku bakal usahain jauhi Nakura. Lagian udah ada Aoi. Menjaga perasaan aja gak gampang," tanpa sengaja Ryuji curhat, kata-katanya di tunjukkan pada Aoi yang entah menjaga perasannya atau Makoto.
"Yakin bisa?" tanya Haruka ragu.
"Bukannya sekelas sama Nakura ya? Yang ada tambah deket kalian," ujar Fumie tak suka.
__ADS_1
"Nanti aku cuekin Nakura. Andai aja ya aku satu kelas sama kamu Aoi," ucap Ryuji penuh harap, lebih nyaman dan semakin mengenal Aoi.
"Ya protes aja sama pak Daiji sana," Fumie saja merasa lelah dengan sains.
"Dan malam promenade adalah perpisahan yang menyedihkan. Aku gak dapat pasangan buat dansa, pulang jalan kaki, sandal rusak, di rumah ibu marah-marah. Nasib gini amat," Fumie terkekeh, tentu saja hatinya sakit. Setelah bahagia, ia harus merasakan pahitnya di jauhi dan tak di anggap dalam keluarga.
Haruka merengkuh Fumie. "Yang sabar ya? Aku juga gak tau kalau kamu sedih. Soalnya aku di jemput sama papa," Haruka merasa bersalah, membiarkan Fumie pulang sendirian.
"Hari bahagia gini kok sedih? Senyumin aja," tutur Ryuji santai, tak seharusnya terlalu larut dalam kesedihan.
Fumie memaksakan senyumannya.
Hitohisa mengirimkan rekaman suara itu pada Syougo.
Di kamar, Syougo mendengarkannya baik-baik. Setelah cukup, barulah ia mengirimkannya pada Makoto. Jangan lupakan video saat moment Ryuji mengajak Aoi balikan.
Makoto yang tertidur karena saking bosannya melihat TV sendirian pun terbangun saat ponselnya berbunyi.
Makoto menyipitkan matanya. Pesan dari Syougo.
Pesan suara yang pertama:
"Aoi! Sini. Aku kangen banget sama kamu."
Kedua:
"K-kamu ngajak aku kesini buat balikan ya? Aku seneng banget!"
Dan yang terakhir membuat hati Makoto hancur sekaligus.
"Jadi?"
"Mau balikan?"
"Iya, aku mau. Tapi kamu jangan deket saka Nakura ya? Aku cemburu tau."
Makoto melempar ponselnya sembarang. Pecah berkeping-keping seperti hatinya. Masa bodoh dengan harganya yang mahal. Rasa sakitnya tak seberapa.
"Apa? Balikan?" wajah Makoto memerah, ingin ia menyingkirkan Ryuji jika berada di tempat yang sama.
"Dua kali. Kamu membuat aku kecewa Aoi. Memangnya salah aku mencintai tanpa berharap terbalaskan? Aku menyerah. Tapi untuk perjodohan itu, tetap berjalan. Karena perasaanku ke kamu, hilang," sebuah kata-kata menyakitkan yang pernah Makoto ucapkan, menghilangkan perasaan dalam sekejap waktu dengan mudahnya. Karena semua ini adalah permainan Aoi sendiri.
Entah bagaimana takdirnya untuk beberapa hari ke dapan. Yang pasti, tak ada lagi cinta untuk Aoi.
Satu lagi, untuk mengembalikan rasa cinta itu. Makoto hanya ingin Aoi melepaskan Ryuji selamanya. Bukan tarik-ulur lalu kembali pulang karena susah move on. Sangat rumit.
***
Kayak aku, kamu dan dia. Selalu ada, atau tidak ada. Yang pada akhirnya kembali dengan yang ada.
Penulis yang ngomel gak bisa cas hp
__ADS_1
See you-,