
"Aoi?" Karin menekan bel beberapa kali.
"Gak di kunci kok ma," Amschel membuka pintunya.
"Masa jam segini masih tidur yah?" Karin melangkah menuju kamar Aoi. Di kunci.
"Aoi? Aoi? Kamu masih tidur ya nak?"
Aoi menggeliat, suara mamanya itu sangat mengganggu tidur nyenyaknya.
"Mama pulang?" Aoi beranjak dari kasurnya.
Saat Aoi membukakan pintunya, sang mama langsung memeluknya karena rindu itu berat.
"Maaf ya? Mama aja pingin banget pulang. Tapi karena kerjaan masih banyak, pulangnya lama," ucap Karin sedih.
Aoi mengangguk. "Yang penting mama sama ayah udah pulang. Jadi aku gak sendirian lagi di rumah," beberapa hari belakang ini, ia kesepian. Apalagi Makoto yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
"Memangnya Makoto kemana? Apa dia gak nemenin kamu?" tanya Amschel heran.
Aoi tak tau harus menjawab apa.
"Mungkin banyak kerjaan yah. Tapi, Haruka sama Fumie main kesini kok," rasanya senang, baru kali ini ia menceritakan teman yang mau ke rumahnya. Tidak ada lagi rahasia yang harus di sembunyikan.
"Haruka sama Fumie? Kamu baru ngajak teman ke rumah. Terus?" Amschel penasaran, bagaimana pertemanan Aoi di sekolah apakah baik atau sebaliknya.
"Belajar bareng yah. Pokoknya seru deh," Aoi ingin mengatakan sangat bosan dengan Makoto.
"Nanti malam kita akan ada acara makan malam dengan keluarga Anekawa. Jadi biar bu Idah yang bakal merubah kamu menjadi princess cantik. Ayo," Amschel mengajak Aoi menemui bu Idah.
Anekawa?
'Apa om Makoto udah pulang? Mau ngapain sih makan malam bareng?' batin Aoi dengan perasaan tidak enaknya. Pasti ada yang aneh.
***
Bu Idah memuji kecantikan Aoi. Setelah selesai luluran, menata rambut, merias wajah dan memakai gaun party mini dress lolita.
"Nona Aoi cantik banget malam ini. Bibi aja pangling hehe," bu Idah menyisir rambut Aoi yang sudah tergerai rapi dan halus.
"Aku males dandan aja bi. Ribet, mending natural. Kalau aku suka dandan, ayah bakalan borong semua kosmetik di kota ini. Kan gak lucu bi," ucap Aoi cemberut.
"Tuan Amschel memang suka begitu non. Biar nona Aoi bisa seneng," bi Idah tau rasa sayang majikannya itu lebih besar daripada istrinya.
"Bi, kalau semisalnya bibi di jodohkan gimana? Nolak atau terima?" Aoi tak bisa bertanya hal ini pada siapapun kecuali bi Idah.
__ADS_1
Bibi Idah tersenyum. "Kalau di jodohkan sih, bibi dilema non. Tapi kalau ini pilihan terbaik dari orang tua di terima aja. Ya, meskipun belum saling mencintai sih," jawabnya.
Aoi mengangguk. "Tapi kalau dia gak mencintai aku lagi gimana bi?"
"Maksut nona? Tuan Makoto?"
"Iya. Dua hari ini, aku gak ketemu sama dia. Pamit juga gak," ujar Aoi sedih.
"Tapi makan malam ini pasti Tuan Makoto ada non. Dia bakalan tampil tampan dan berwibawa. Bibi aja jadi pingin nikah lagi," bi Idah terkekeh. Dirinya janda anak satu, bekerja sebagai tulang punggung keluarga memang melelahkan.
"Masa sih bi?" Aoi bahagia, ia akan mengomelinya. Salah sendiri menghilang tanpa kabar dan pamit.
"Yuk non, Tuan Amschel pasti nunggu di ruang tamu. Soalnya makan malamnya di rumah Tuan Makoto," ucap bi Idah, Aoi semakin terkejut.
Setiap langkah bunyi sepatu kaca Aoi mengisi seluruh ruangan. Sampai Amschel dan Karin pun tersenyum melihat anak tunggalnya menuruni tangga dengan gaya anggunnya.
"Wah, kamu cantik banget nak. Kalau gini kan gak keliatan tomboynya," ucap Karin merasa kagum.
"Ya udah, langsung ke mobil aja. Mereka gak mau nunggu lama-lama," Amschel melangkah lebih dulu, memanasi mobilnya.
Di keluarga Anekawa, Junya, Makoto dan Syougo tampil lebih macho dan cool. Apalagi Junya meskipun usianya sudah memasuki kepala empat, terlihat 10 tahun lebih muda.
Meja makan pun sudah penuh dengan berbagai masakan mewah ala restaurant bintang seratus.
Ting!
Mr. Amschel R
Saya sudah ada di depan rumahmu Makoto. Kami tak ingin menunggu lama-lama.
07:00 pm
Makoto beranjak dari duduknya. Ia harus menyambut keluarga Rotschild sendiri.
"Silahkan masuk Tuan Amschel. Kami senang anda bisa datang kesini," ucap Makoto tersenyum ramah.
Aoi yang melihat Makoto secara langsung pun ingin mengomeli habis-habisan tapi ia sadar masih acara makan malam. Mungkin nanti setelah selesai.
Setiap langkah Amschel, bagi Himarin adalah uang yang mengalir. Amschel sudah banyak membantunya.
"Selamat malam Tuan-"
"Panggil saja Amschel. Lagipula sebentar lagi kita akan jadi besan. Benar begitu kan?"
"Iya. Pernikahan Makoto dan Aoi hanya tinggal beberapa minggu saja. Untuk pertunangannya sudah sangat dekat," tutur Junya, segala persiapan sudah selesai. Semoga semuanya lancar.
__ADS_1
"Oh ya. Silahkan di makan, semua ini di masak oleh Junya dan chef Yukiya Oki yang ada di restaurant ternama itu," Himarin tak bisa memasak makanan berkelas, mungkin selera Amschel makanan internasional.
Aoi juga terkejut dengan kehadiran Syougo. Jadi selama ini Makoto mempunyai adik?
Selesai makan, mereka berbincang hangat. Dari topik bisnis sampai keluarga.
Aoi kurang nyaman. Tatapan Syougo seperti curiga padanya. Apakah ada yang salah?
Aoi ragu, haruskah ia berbicara empat mata dengan Makoto?
"Aoi? Tumben banget gak ngobrol sama Makoto. Kalian malah diem-dieman gitu," ucap Karin, Aoi tersenyum kikuk. Bagaimana mau mengobrol kalau Makoto sejak tadi tak meliriknya!
"Iya. Aku mau ngobrol sama e-om Makoto?" Aoi bingung harus memanggil apa, terutama di hadapan keluarga Anekawa.
"Jangan panggil om. Makoto itu masih muda, panggil saja mas Makoto," sahut Himarin terkekeh, ia melirik Makoto yang hanya fokus meminum air putih sejak tadi.
Aoi mengangguk. "Mas Makoto? Aku ingin berbicara berdua dengamu," lidahnya terasa kaku memanggil sebutan mas, Aoi harap hati Makoto tak berbunga-bunga.
"Iya," cuek, datar dan dingin. Makoto beranjak dari duduknya, mengobrol di teras rumah mungkin lebih nyaman.
Aoi tak tau harus memulai darimana. Sampai 10 menit, akhirnya Makoto mulai berbicara.
"Dan perjodohan ini, tidak akan pernah adalagi yang namanya cinta. Kamu harus sadar itu!" tekan Makoto menatap Aoi sengit.
"Kok gitu? Bukannya kamu masih mencintai aku? Kenapa?" Aoi terkejut, apalagi tatapan Makoto itu seperti mulai membencinya.
Makoto tertawa remeh. "Haha, kenapa kamu bilang? Dasar perempuan tidak menghargai perasaan laki-laki. Dimana hatimu? Apakah matamu sudah buta dengan cinta monyet yang tidak jelas itu?" tanya Makoto ketus dan sarkas, ia sudah malas menyaksikan drama percintaan Aoi dan Ryuji yang selalu abu-abu.
"Padahal kamu sadar, kita ini akan menikah. Menjadi pasangan suami-istri. Mencintai laki-laki lain sedangkan aku tidak ada gunanya dan tak di anggap keberadannya. Memangnya kamu bisa bebas jatuh cinta setiap waktu?"
Makoto menggeleng. "Tidak Aoi. Aku yang selalu ada dimana pun kamu butuh, justru malah Ryuji yang kamu butuhkan. Dia bukan laki-laki yang tepat Aoi. Kalau kamu masih mencintai Ryuji, silahkan. Tapi jangan harap aku akan mencintaimu lagi," Makoto pergi, biarlah Aoi merenungi kesalahannya sendiri.
Kenapa Makoto berubah seperti ini? Menjadi pemarah dan pencemburu?
Aoi menggeleng. "Hatiku hanya untuk Ryuji. Tidak masalah kalau pernikahan ini tidak ada rasa cinta sama sekali. Kalau pun kamu bosan, kamu bisa meninggalkan aku," tak bisa menahan rasa sedihnya, Aoi menangis.
Langit berubah mendung, hujan yang awalnya hanya rintik-rintik menjadi deras ikut merasakan kesedihan Aoi.
***
Happy birthday bwt diri sendiri kemarin. Baru aja kemarin 18th udh 19 aja hehe.
Males ngetik sih, apalagi pusing sama pilek. Cuaca emg gitu ya?
See you-,
__ADS_1