Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
51. Salah faham


__ADS_3

Nakura yang melihat itu semua pun geram. Berani-beraninya Aoi menolak Ryuji?


Nakura menghampiri Ryuji yang menunduk, pasti perasaan pacarnya itu kecewa juga sedih.


"Sayang? Kamu kenapa?" tanya Nakura hati-hati.


Ryuji menoleh. "Tolong kamu kasihkan ini ke Aoi ya?" setelahnya Ryuji pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


Nakura masih bingung. "Ngasih kado ini ke Aoi? Mending buat aku aja," senyum bulan sabitnya itu terbit, asalkan Ryuji tidak tau pasti aman.


***


Aldebaran menatap Aoi yang hanya mencoret-coret buku tulisnya dengan asal. Aoi kesal?


"Lo kenapa? Tumben banget gak memperhatikan dosen. Ada masalah?" tanya Aldebaran penasaran.


Aoi mengangguk. "Mantan gue, ngasih kado tadi. Gak butuh! Udah pernah bikin gue nangis bilang putus tanpa sebab sekarang pura-pura sok baik. Ngeselin banget kan Al?"


Aldebaran mengangguk saja daripada Aoi semakin marah. "Terus lo tolak kan pastinya?" tebaknya, mana mungkin Aoi semudah itu menerima pemberian si mantan.


Aoi mengangguk cepat. "Gue gak mau ada satu barang yang ada kenangannya tentang dia," tegasnya dingin.


"Bagus deh, lagian lo kan udah nikah. Mending fokus aja sama rumah tangga lo," Aldebaran sudah tau Aoi menikah, sempat ada rasa kecewa karena belum sempat menyatakan perasaan cinta ke Aoi. Ya, Aldebaran mulai jatuh cinta pada Aoi. Kejudesan, cueknya Aoi, dan sifat dinginnya itu membuat Aldebaran penasaran bagaimana meluluhkan Aoi. Tapi ia kalah saing dengan sang dosen bahasa Jepang, Makoto.


"Sama aja Al. Gue sekarang jadi jarang main sama sahabat gue. Lebih selalu di rumah, sendirian lagi. Hidup gue gini amat ya Al?" Aoi berkeluh kesah, kehidupan setelah menikah membuatnya tak bahagia justru malah merasa sendirian.


Aldebaran menepuk bahu Aoi. "Apa perlu gue temenin lo?"


Aoi menggeleng. "Gak usah Al, gue gak mau lo berurusan sama mata-mata ayah. Yang ada lo di hajar habis-habisan karena udah berani ganggu anak dari ayah yang possessive-nya tiada tara."


Aldebaran terkekeh. "Ya baguslah, itu artinya beliau sayang sama lo. Jangan pernah bikin beliau sedih apalagi nangis gara-gara lo."


"Pasti Al. Lo juga ya?" Aoi menoleh, nada bicara Aldebaran mulai serius. Rasanya aneh.


Aldebaran menggeleng miris. "Gue yatim piatu. Sejak kecil udah tinggal di panti asuhan," jawabnya dengan suara parau, Aldebaran yakin orang tuanya masih hidup. Ia hanya sekedar di titipkan, bukan di buang.


Aoi merasa bersalah. "Maaf."


Aldebaran tersenyum. "Santai aja. Lagian disana juga nyaman. Rame, gue udah merasa punya keluarga kok. Dan lo beruntung dengan kedua orang tua yang sayang banget sama lo."


Aoi baru tau kalau Aldebebaran punya sisi rapuh dan sedih. Cowok itu pandai menyembunyikannya dengan wajah sok gantengnya.


"Gue janji bahagiain mama sama ayah. Gue akan menuruti permintaannya kalau itu memang terbaik buat gue," ujar Aoi serius.


"Makasih."


"Buat?" tanya Aoi heran.


"Udah jadi teman terbaik gue."


Aoi mengangguk. "Sama-sama."


***


Di kantin, Nakura istirahat dengan Rumi kali ini. Mungkin besok ia baru bisa dengan Ryuji. Pasti pacarnya itu butuh waktu sendiri dulu daripada Ryuji akan mencuekinya.


"Kalau ada butuh aja ngajak aku ke kantin. Giliran pacaran udah lupa sama teman sendiri. Kamu nyebelin banget Naku!" Rumi menatap Nakura bosan.


Nakura tersenyum kikuk. "Hehe maaf. Kamu tau kan tadi pagi Ryuji ngasih kado ke Aoi tapi ujung-ujungnya di buang?"


Rumi mengangguk. Sangat tau malah. Bahkan sudah menjadi gosip hangat di kampus.


"Iya Naku, terus kadonya?"


Nakura menghela nafasnya. "Buat aku aja deh. Lagian buat apa sih untuk Aoi? Bagus banget Rum! Boneka teddy bear warna merah muda. Itu terbatas banget Rum! Limited edition! Aku iri lah Aoi di kasih hadiah gitu."


Rumi terkekeh. "Kasihan banget. Terus kamu masih kesel dan benci ya sama Aoi?"

__ADS_1


Nakura mengangguk cepat. "Banget! Aku udah punya rencana biar dia kapok. Aku tau kok kalau Aoi udah nikah."


Rumi terkejut. "Ha? Jangan bohong Naku! Itu bohong! Emangnya kapan?"


Nakura berdecak kesal, Rumi memang kudet. Padahal berita pernikahan keluarga Anekawa dan Rotschild tersiar di TV ekslusif langsung.


"Dan suami Aoi itu pak Makoto," bisik Nakura lirih.


Rumi ber'oh' ria. Saat 1 menit setelahnya ia kembali sadar.


"Pak Makoto suaminya Aoi?!" pekik Rumi terkejut. Seisi kantin menatapnya heran dan bingung.


Nakura menepuk dahinya, memang Rumi tak bisa di ajak kompromi.


"Oh, jadi sekarang Aoi udah nikah sama dosen kita?"


"Ya! Baru inget! Kan acara pernikahannya live langsung di TV!"


Dan sekarang seisi kampus tau kalau Aoi istri dosen tampan, Makoto.


***


Malam ini Makoto sangat sibuk di kantor. Sampai ia lupa makan, bekal dari Aoi pun masih utuh.


Makoto menghela nafasnya. Tangannya meraih bento buatan Aoi.


"Tumben banget gak telepon? Biasanya bilang kangen," Makoto menatap ponselnya. Mungkin sudah tidur mengenai jam menunjukkan pukul 10 malam.


Makoto memakan bento itu dengan perasaan hampa. Terkadang Aoi menelepon menanyakan kabarnya. Atau sekedar memastikan sudah memakan bekal.


Di tempat diskotik. Nakura duduk di depan bartender dengan wine di tangannya.


Nakura masih sadar, ia melupakan rencananya. Semua ini karena Ryuji.


Flashback on


Selesai jam kuliah, Nakura melangkah ke fakultas ilmu komunikasi. Kelas Ryuji.


"Ha-" suara Nakura tercekat, Ryuji memeluk seorang cewek. Jangan lupakan sorak sorai cie-cie dari teman-temannya.


"Jadian. Jadian. Jadian!"


Mereka malah menyemangati Ryuji agar jadian dengan cewek itu.


"Ryuji, aku udah kangen banget sama kamu. Akhirnya kita di pertemukan lagi setelah penantian selama 7 tahun," Yuna memandang lekat Ryuji, sahabat masa kecilnya.


Mata Nakura berkaca-kaca melihat itu. Ia berlari menjauh dari kelas Ryuji, pasti itu sahabatnya. Dan hati Nakura merasa tak tenang, tak ada yang mustahil persahabatan antara perempuan dan laki-laki bisa bertahan lama. Nakura bisa melihat tatapan berharap itu, Ryuji pasti akan tau nanti.


Nakura menangis sesenggukan selama perjalan pulangnya.


Flashback off


Nakura meringis memegangi pelipisnya. Pandangannya terasa berkunang-kunang.


Nakura beranjak dari duduknya, ia harus pulang. Rasanya kurang nyaman berada di tempat ini. Bahkan Nakura menepis tangan-tangan nakal yang berusaha menariknya.


"Jangan sentuh aku!" teriaknya meracau, Nakura menatap tajam lelaki nakal yang bersiul menggodanya.


"Mau kemana cantik? Disini aja bersenang-senang. Nikmati musiknya."


"Jangan pergi, kita kan belum ke kam-"


Plak!


Nakura kesal, meskipun ia memiliki sedikit kesadaran rasanya risih di kelilingi laki-laki berotak mesum.


Nakura berlari menjauhi pria-pria itu.

__ADS_1


Dengan nafas tersengal, akhirnya Nakura berhasil keluar dari club.


"Arghh! Sakitt!" Nakura memejamkan matanya, keseimbangan tubuhnya lemas.


Nakura terhuyung. Dan..


Ciittt.


Hampir saja Nakura tertabrak mobil sport milik Makoto.


"Nakura? Astaga," Makoto menghampiri Nakura, menggendongnya ke dalam mobil.


"Pasti dia habis mabuk," Makoto menatap Nakura kasihan.


***


Selesai mengantarkan Nakura, Makoto baru sampai di rumah tengah malam.


"Jadi kangen sama Aoi," Makoto membuka pintu kamar Aoi perlahan, takut menimbulkan bunyi dan Aoi terbangun.


Dengkuran halus menyambutnya. Aoi tidur dengan nyenyaknya.


Makoto berbaring memeluk Aoi, andai saja ia pulang lebih awal. Mungkin bisa menjahili Aoi atau menggombalinya.


***


Aoi menggeliat, tubuhnya terasa hangat berada di pelukan Makoto.


Tapi...


Aoi mencium bau menyengat. Ya, aroma alkohol.


"Mas! Bangun!" teriak Aoi menggelegar.


Makoto terperanjat kaget. "Iya Aoi? Ada apa? Jangan teriak gitu ah. Aku kaget tau!"


"Kamu mabuk? Jawab! Pantesan pulangnya malam. Kamu habis dari club kan?" tanya Aoi sangsi, kesal, kecewa, juga marah bercampur menjadi satu.


Makoto menggeleng. "Gak Aoi! Aku-"


"Ayah! Mama!" teriak Aoi lantang. "Huwek!" langkah Aoi menuju ke kamar mandi, aroma allkohol sangat sensitif dengan penciuman indra pernafasannya.


Makoto menghampiri Aoi, mengetuk pintu kamar mandi mencoba menjelaskan yang sebenarnya.


Karin dan Amschel datang tergesa-gesa.


"Ada apa kok teriak-teriak?" tanya Karin sampai tak sadar membawa bantal di tangannya.


Makoto menoleh. "Gak kok ma. Biasa, tadi ada kecoak makannya Aoi teriak," terpaksa Makoto berbohong, daripada semuanya akan jadi salah faham.


"Owalah kecoak. Hoaamm, masih ngantuk nih yah."


"Ya udah, tidur aja ma. Aku mau berangkat ke kantor dulu."


Aoi membasuh wajahnya, ia menatap pantulan dirinya di cermin.


"Aoi? Aku gak pergi ke club. Semalam aku mengantarkan Nakura pulang, dia pingsan di tengah jalan. Aku gak tega Aoi," Makoto mencoba menjelaskan dengan jujur.


Aoi menggeleng tidak percaya. "Bohong."


"Kalau kamu gak percaya tanya aja langsung sama Nakura di kampus kamu nanti," Makoto sangat meyakinkan Aoi. "I Love You Aoi."


"Love You Too," gumam Aoi lirih.


***


Kenapa tengah malam suka laper?

__ADS_1


5:00 sore


See you-,


__ADS_2