
Aoi terpaksa pulang jalan kaki, sendiri. Aldebaran tiba-tiba ada urusan mendadak entah apa itu Aoi tidak tau.
"Tega banget sih nyuruh aku pulang sendiri? Jalan kaki lagi. Aldebaran ngeselin!" Aoi menggerutu kesal.
Jalan yang ia lalui saat ini sangat sepi dan gelap, Aoi hanya mengandalkan senter di ponselnya.
"Aldebaran tega banget sih nyuruh aku pulang sendiri?"
Rasanya sedih, rupanya Aldebaran hanya bersikap manis di depan saja selain itu belum tentu dia baik. Aoi pikir Aldebaran akan memiliki perhatian yang sama seperti Makoto, ternyata tidak.
"Ternyata cowok itu bisa sama juga gak. Maunya apa sih?"
Empat pria bertubuh besar dan berotot itu tersenyum nakal saat Aoi melewatinya, apalagi sendiri.
"Hai cantik. Pulang sendirian nih? Abang temenin yuk!"
Salah satu pria menarik tangan Aoi.
"Lepas! Kalian siapa? Jangan ganggu aku!" Aoi berusaha melepaskan cengkraman pria itu tapi tenanganya terlalu kuat. Saat situasi begini, entah kemana kemampuan bela dirinya seakan hilang.
"Ayo ikut kita selamanya. Pasti kamu bakalan se-"
BUGH!
Satu tonjokan melayang mengenai rahang pria yang berusaha menarik Aoi.
Aoi terpaku, Makoto?
"Jangan ikut campur urusan kita!"
Makoto pun melawan keempat pria itu sekaligus. Ia sangat emosi saat melihat Aoi di ganggu. Kenapa bisa cewek itu pulang sendiri?
Keempat pria itu terduduk tak berdaya, kemapuan Makoto patut di acungi dua jempol sekaligus.
"Pergi! Atau aku akan menghajar kalian lebih brutal lagi!" Makoto marah, ia memastikan Aoi yang sekarang menunduk dengan tubuhnya bergetar ketakutan.
Makoto mendekap Aoi dalam pelukannya. Dan Aoi menangis.
"Tenang, ada aku disini. Kamu ngapain keluar malam-malam sendirian? Bahaya Aoi," nasehat Makoto dengan nada khawatirnya.
Aoi mendongak menatap Makoto, pria di hadapannya ini selalu ada saat ia dalam bahaya. Makoto selalu datang sebagai malaikat penyelamat.
"Aku jalan sendirian karena Aldebaran sibuk sama urusannya. Jadinya aku jalan kaki, nyebelin bangett sih dia!" Aoi gemas ingin mencakar Aldebaran kalau saja cowok itu ada di hadapannya sekarang.
Makoto mengepalkan tangannya, berani sekali Aldebaran membiarkan Aoi pulang sendirian di malam hari.
"Ayo kita pulang. Dan besok adalah hari pertunangan kita. Banyak istirahat dan makan, aku harap kamu besok sudah siap memasangkan cincinnya," Makoto tau Aoi hanya sekedar memasangkan cincin tanpa ada perasaan senang sedikit pun di hatinya.
Aoi sempat terkejut, mungkin ia tak pernah menghitung hari pertunangan ataupun nikahnya.
'Dan aku harap tidak akan pernah bisa memasangkan cincin di jari manismu,' batin Aoi berdoa, setaunya sekali memasangkan cincin di jari manis akan terhubung langsung perasaan cinta itu ke jantung.
__ADS_1
***
Saat makan malam pun, Karin dengan sangat antusiasnya menyarankan Aoi dress pilihannya.
"Bukannya Aoi udah beli di butik itu ma?"
Karin menggeleng. "Itu kan buat gaun pernikahannya yah. Besok kamu harus perawatan ke salon, SPA terus di dandani yang cantik. Biar Makoto semakin cinta sama kamu."
Semakin? Tidak, memangnya hati bisa semudah itu untuk singgah?
'Kenapa sih Mama sama ayah maksain aku buat nikah sama Makoto? Karena apa? Gak mungkin ayah bisa sebahagia ini, pasti ada alasannya,' Aoi ingin tau, mungkin saja ini karena saham perusahaan atau harta warisan Rotschild yang akan di serahkan sepenuhnya pada Makoto.
Tunggu..harta?
"Mama sama ayah nikain aku dengan Makoto karena harta kan?" tanya Aoi mendesak, wajah Amschel seketika pucat pasi dan Karin gugup terbongkar sudah alasan utamanya.
"Menurut mama Makoto itu pilihan yang tepat buat kamu Aoi. Kita sudah mengenalnya lama, bahkan saat kamu masih bayi pun sudah ada perjanjian untuk saling menikahkan kamu dan Makoto," jawab Karin jujur dan masuk akal, masih ada alasan lainnya ia tak mau Aoi tau.
Untuk saat ini, Aoi percaya.
***
Seseorang mengangguk setelah perintah dari Tuannya itu menyuruhnya agar mengambil cincin pertunangan secara diam-diam.
"Apa ini akan aman Tuan?" tanyanya ragu, ia tak ingin berurusan dengan polisi.
Pria berjaket yang membelakanginya itu mengangguk.
"Aman, saya tidak suka jika Makoto dan Aoi akan menikah dalam waktu dekat. Itu sama saja membuat perasaan saya sakit hati karena cinta yang sangat tulus justru di sia-siakan," terdengar nada putus asa sekaligus marah, ia pikir Aoi akan menghargai cintanya tapi takdir berkata lain.
***
Aoi ingin kabur saat ini juga, ia sudah lelah sedari tadi rambutnya di tata sedemikian rupa sampai halus menyerupai sutra.
"Selesai, coba liat dirimu nona sangatt cantik," ujar penata rambut wanita tersenyum puas, tangannya sangat lihat merubah rambut yang kering dan biasa saja menjadi amazing.
Aoi berdecak kesal, rambutnya sekarang berubah. Kesan tomboynya hilang sudah.
'Aku harap pertunangan ini tidak lancar!' sungutnya dalam hati terlanjur kesal, biarkan saja Makoto yang akan malu.
***
Di kediaman Rotschild, para tamu sudah hadir dan hanya rekan kerja sekaligus pejabat penting negara yang di undang.
Syougo menenangkan sang kakak yang gugup.
"Tenan aja kak, lebih grogi lagi kalau udah nikah," Syougo tersenyum simpul.
Makoto sangat tampan dengan balutan tuxedo, rambutnya selalu rapi.
"Ayo kak, masuk jangan diem disitu aja," Syougo menggandeng tangan Makoto, sebentar lagi acaranya di mulai.
__ADS_1
"Itu dia sudah datang. Tampan sekali ya?"
"Aoi beruntung bisa menikah dengan Makoto, dia baik dan bertanggung jawab. Aku tau itu saat dia menyelesaikan pekerjaannya."
"Ma, aku gugup. Aku gak siap ma," rengek Aoi manja, apalagi ini di saksikan tamu undangan hampir setengah kota warga kalangan atas Cherry Blossom.
"Tenang saja nak, acaranya hanya sebentar kok. Ayah sengaja mengundang banyak orang biar mereka tau kalau kamu itu hanya milik Makoto," ucap Karin dengan nada tenangnya.
Makoto menatap Aoi yang sangat cantik seperti permaisuri.
"Aoi?" Makoto ingin melihat wajah Aoi sepenuhnya, cewek itu berpaling memandang ke arah lain.
Aoi menoleh. "Apa?" tanyanya dingin.
"My wife so beautiful," puji Makoto dan berhasil membuat Aoi salah tingkah, cewek itu masih ada rasa baper kepadanya.
"Dan tibalah pemasangan cincin yang paling di tunggu-tunggu!"
Makoto membuka kotak cincinnya. Kedua alisnya mengernyit saat cincin itu tidak ada.
"Dik kamu gak salah ambil cincinnya kan?" tanya Makoto mulai paniklah masa gak.
Syougo mengangguk. "Kok gak ada kak?"
Terdengar bisik-bisik penasaran dari tamu undangan.
"Cincinnya gak ada? Kemana?"
"Gak baik ini. Pasti bakalan kenapa-napa."
Aoi tersenyum miring. Akhirnya doa itu di kabulkan.
"Kalau cincinnya gak ada, batal aja deh ma yah pertunangan ini," protes Aoi kesal, itu artinya alam tak merestui
"Kok batal?" Amschel bertanya dengan nada tidak suka. "Jangan di batalkan, kalian ini sudah cocok. Begini saja, dua hari lagi kalian akan menikah," cetus Amschel mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.
"Menikah?" Aoi masih terkejut.
"Apa itu gak terlalu cepat yah?" tanya Makoto sedikit ragu-ragu.
Amschel menggeleng. "Tidak, justru akan lebih baik lagi kalau kalian resmi menjadi pasutri. Acaranya akan di mulai jam 7 malam di wedding chapel. Semuanya datang ya?"
"Lumayan loh bisa makan-makan."
"Iya, bisa foto-foto juga kan disana lampunya itu aesthetic banget!"
Habislah Aoi, 2 hari selanjutnya ia akan menjadi istri Makoto. Apa yang harus di lakukan?
***
Penulis kesel kuota habis gak bisa update cerita
__ADS_1
2:54 pm
See you-,