
Aoi tertidur, Nakura yang ingin meminta tolong untuk makan pun mengurungkan niatnya membangunkan Aoi.
"Fumie kok lama banget ya? Katanya mau beli makan aja. Tapi udah satu jam."
Nakura menatap Megumi yang tak jauh di sebelahnya. Belum sadarkan diri.
"Maafin aku ya Megu. Kalau aja kamu gak usah ikut sama aku ke mall. Lebih baik aku kesana sendirian daripada melihatmu terbaring lemah seperti ini aku merasa bersalah," Nakura menatap nanar Megumi yang sangat pucat.
Aoi mengerjapkan matanya, suara Nakura memang mengusik tidur nyeyaknya.
"Semua ini bukan salahmu Naku. Hanya sebuah kecelakaan saja. Yang terpenting, Tuhan sudah menyembuhkanmu," Aoi tersenyum simpul semanis kamu.
"Tapi kan sama aja Aoi. Aku sama Megumi mau ke mall belanja shoping. Gak tau tiba-tiba rem mobilku rusak. Padahal biasanya gak ada apa-apa kok," ucap Nakura serius, setiap hari mobilnya ia cek. Tidak ada yang bermasalah.
"Apa ada orang yang sengaja membuat rem kamu rusak?" tanya Aoi sekedar menebak.
Nakura mengangguk setuju. "Bisa jadi sih, emangnya siapa?"
Aoi menggeleng. "Gak tau."
"Hai! Aku balik lagi bawain bubur sama nasi goreng nih. Ayo-"
"Arghhh sakittt!" Megumi siuman namun kepalanya begitu pusing seperti di hantam kenyataan bahwa dirinya memaksa kita untuk pergi mencari yang lebih baik padahal hati ini sangat setia.
"Kakak? Kak mana yang sakit?" tanya Fumie khawatir. Hatinya teriris melihat sang kakak yang kesakitan.
"Cepat panggilkan dokter! Cepatt!" teriak Fumie meraung frustasi.
Aoi mengangguk, ia berlari keluar memanggil si doi hm dokter.
Fumie menangis. "Kakak, kamu pasti kuat kak."
Samar-samar Megumi mendengarkan suara adiknya yang begitu sangat mengkhawatirkannya. Seketika hati kecilnya merasa terharu dan tersentuh.
"S-sakiitt aku...gak..ahh," Megumi memejamkan matanya kembali.
"Kakak!" pekik Fumie histeris. Ia memeluk sang kakak. Menangis tersedu-sedu.
Yabuo dan Aoi baru saja datang.
Nakura hanya diam melihat sahabatnya tak sadarkam diri lagi.
"Semoga kamu baik-baik aja Megu," Nakura berdoa kepada Tuhan berharap Megumi segera sembuh.
***
"Bagaimana? Apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Ryuji pada anak buahnya itu.
"Lancar. Dan Nakura kecelakaan dengan luka parah di kepalanya karena benturan kaca yang keras."
Ryuji bertepuk tangan. "Bagus. Aku salut dengan kerjamu itu."
"Tapi-"
Ryuji mengernyit. "Tapi apa?" tanya Ryuji penasaran.
"Nakura udah sadar. Dan temannya itu kembali tak sadarkan diri," jelasnya yang mengetahui itu dari sang dokter secara langsung.
__ADS_1
"Memangnya kamu apain mobilnya? Gak sekalian aja Nakura mati?" kilat kebencian memancar dari mata Ryuji. Nakura, gadis itu terlalu mengusik hidupnya.
"Aku hanya merusak rem-nya saja. Bos tau sendiri kan Nakura langsung datang, apalagi temannya yang lebay itu gak sabar mau ke mall," pungkasnya lagi.
"Aoi di rumah sakit, menjenguk Nakura. Bos gak mau nyamperin kesana?"
Ryuji terkejut. "Apa? Kamu jangan bohong ya. Gak mungkin Aoi menjenguk Nakura, mereka berdua itu bermusuhan."
"Kalau gak percaya, bos datang aja kesana. Ada temannya juga yang berkuncir dua, cantik banget. Siapa sih namanya bos?" ternyata dirinya mulai kepincut juga dengan teman Aoi itu.
"Fumie? Emang kenapa sih? Jangan naksir sama dia. Perbaiki dirimu dulu, udah playboy, bikin cewek nangis, ngasih janji palsu. Banyak tingkah mau pacaran sama Fumie," Ryuji tak suka orang yang dekat dengan Aoi menangis, pasti mantannya itu ikut sedih juga.
Cowok bernama Abdul itu terkekeh. "Gak, udah tobat kok bos. Sekali dapat dia, aku gak akan lepasin gitu aja," ujarnya mantap dan tegas.
Ryuji tersenyum miris. "Aku gak yakin dengan omonganmu. Sudahi halumu lah, kerja lagi saja. Cari uang yang banyak biar adik-adikmu bisa makan."
Abdul mengangguk. "Pasti lah."
***
Ryuji membuka pintu perlahan, tapi pintu itu mengeluarkan bunyi sampai Aoi menoleh.
"Kamu?!" Aoi beranjak dari duduknya. "Ngapain kesini? Kenapa kamu bisa tau kalau aku ada disini?" tanya Aoi cepat.
"Aku kesini mau nemenin kamu juga," Ryuji mendekat menghampiri Aoi.
"Sama aku juga kan?" tanya Nakura menunggu jawaban Ryuji, entah di respon atau tidak Nakura senang Ryuji bisa datang kseini.
Ryuji tak menggubrisnya.
"Kamu di tanya saka Nakura jawab dong," Aoi sedikit kesal, Nakura itu sekarang masih kekasih Ryuji.
"Pulang," jawab Aoi dingin.
"Terus kondisi kakaknya gimana?" Ryuji belum menyadari perubahat raut wajah Aoi yang datar menyimpan sejuta kekesalan yang abadi.
"Kakaknya Fumie meninggal," sahut Nakura menjawab pertanyaan Ryuji.
"Aku gak nanya tuh sama kamu. Ngapain di jawab," ketus Ryuji, Nakura kegeeran rupanya.
Nakura berdecak kesal. "Gitu aja sewot. Gak usah marah bisa dong. Lebih kalem dan sabar sedikit sama aku," Nakura sekedar melempar kode kepada Ryuji, ah sudahlah cowok mana peka.
"Aoi? Aku anterin kamu pulang ya sekarang. Masa di rumah kamu gak ada-"
"Bi Idah. Gak perlu, aku menemani Nakura. Dia gak punya siapa-siapa, orang tuanyanya juga gak peduli apalagi kamu yang sebagai pacarnya," sindir Aoi pedas, biarkan saja Ryuji sadar Nakura itu membutuhkannya.
"Aku bukan pacarnya Nakura. Dia bukan idaman aku," tegas Ryuji penuh penekanan. Matanya melirik Nakura sinis, cewek itu balas melotot padanya.
"Terus idaman kamu yang kayak gimana?" tanya Aoi kesal, ada-ada saja maunya Ryuji sudah baik Nakura mencintainya sebesar dan tulus seperti itu tak di syukuri.
"Baik dan gak bikin orang lain menderita apalagi sakit hati dan batin," jawabnya mantap.
"Gak punya kaca?" tanya Aoi balik. "Kamu malah menyakiti Nakura, tujuan kamu kesini seharusnya menjeguk Nakura bukan apelin aku," ucap Aoi serius, bagus Aoi kata-katamu membuat Ryuji dan cowok lainnya diam kalau tau.
"Daripada aku sama kamu berantem, sini ikut aku. Kita makan diluar yuk? Kamu pasti lapar," Ryuji menggandeng tangan Aoi.
"Gak," Aoi melepaskan tautan jemari Ryuji. "Makan aja sana," usirnya mengibaskan rambut salah tapi tangan.
__ADS_1
"Ayo Aoi. Aku pingin makan berdua sama kamu. Kangen," Ryuji mengatakannya jujur dari lubuk hati yang terdalam.
Aoi menggeleng. "GAK!" bentaknya, emosinya tersulut. Ryuji sangat mengganggunya.
"Ya udah, aku pulang aja deh. Ngambek," Ryuji melangkah pergi, ia harap Aoi menahannya untuk tak pulang tapi Aoi hanya diam saja.
***
Menjelang sore, Aoi masih setia menemani Nakura.
"Kamu gak samperin Fumie? Pasti dia lagi sedih banget. Jangan terlalu peduli sama aku."
"Ya udah, aku samperin Fumie. Kalau kamu ada apa-apa telepon aku aja. Bye Nakura," Aoi tersenyum tipis, tangannya melambai-lambai.
"Byee hati-hati."
***
Di rumah Fumie, suasananya berduka. Megumi telah di makamkan beberapa jam yang lalu.
Aoi menghentikan langkahnya saat di ambang pintu. Mengapa Ryuji bisa ada disana?
"Masuk aja mbak. Temannya?" tanya ibu-ibu yang membawa jeruk.
Aoi mengangguk. "Iya saya sahabatnya."
Mendengar suara Aoi, Ryuji menghampiri sang mantan terindahnya itu.
"Akhirnya kamu datang kesini juga. Hm, pakaian kita kembar kayaknya jo-"
"Sorry aku udah bersuami," Aoi duduk di sebelah Fumie yang masih menangis dan Haruka di sampingnya.
Fumie mendongak. "Aoi?"
"Baru ingat kalau ada sahabatnya sendiri yang lagi berduka malah jagain musuhnya di rumah sakit. Sahabat macam apa kamu," omel Haruka kesal, Aoi sampai lupa diri karena terlalu mempedulikan Nakura.
"Sstt Haruka, gak boleh gitu. Aoi, maafin Haruka ya?"
Aoi hanya tersenyum tipis. "Iya. Haruka lagi emosi kayaknya."
"Mending gak usah ke rumah sakit lagi menemani Nakura. Atau-"
Tiba-tiba Ryuji berbisik di belakang Aoi. Membuat cewek itu sedikit merinding karena nafas Ryuji yang menerpa lehernya.
"Atau apa?" Aoi menjauh dari Ryuji.
"Aku ngajak kamu balikan. Mau?" Ryuji tersenyum menggoda.
"Jangan mau Aoi!" seru Haruka paling bersemangat.
"Udah ada pak Makoto, satu aja cukup gak perlu dengan yang lain," Fumie mulai memberikan nasehatnya.
***
Menghirup aroma petrichor yang sejuk dan dingin.
10:50 siang
__ADS_1
See you-,