Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
86. Luka bertambah


__ADS_3

Setelah omah Eva selesai di makamkan, keluarga Rotschild kembali ke rumah.


Hikaru tak berhenti menangis, Aoi berusaha menenangkannya. Anaknya itu bertanya terus-terusan dimana omah Eva sekarang.


"Mama omah mana? Kenapa gak ada?" tanya Haruka menarik-narik baju Aoi.


Tak bisa menjawabnya, Hikaru masih kecil mungkin jika beranjak dewasa nanti akan tau makna kehilangan yang sebenarnya.


Aoi memeluk Hikaru. "Kamu udah makan?" ia mengalihkan perhatian Hikaru, mau bagaimana pun kalau makan jangan sampai telat.


Hikaru menggeleng. "Aku maunya makan sama omah. Aku gak mau makan sebelum ketemu sama omah," jawabnya sedih, yang ia ketahui hanya omah sedang pergi.


"Iya nanti juga omah pasti pulang kok. Sekarang, kamu makan ya nak?" Aoi membujuk Hikaru, perlahan anaknya itu mengangguk. Sangat susah untuk membuat Hikaru mau makan.


***


Kepergian omah Eva juga di rasakan oleh keluarga Yosio, semuanya berduka. Tapi untuk sang supir yang pernah mengantarkan omah Eva justru terlihat senang dengan senyuman tipisnya.


Yang paling terpukul adalah Misato, karena itu juga ibunya. Karin adalah anak pertama, sedangkan dirinya kedua lebih tepatnya kakak-adik.


Miho menenangkan Misato. "Jangan menangisi orang yang sudah meninggal, kalau omah tau kamu sedih dia ikutan sedih. Ayo senyumnya mana?"


Misato menatap Miho, ukiran senyum yang tipis itu tak bisa menguatkan hatinya yang rapuh.


'Baguslah wanita tua itu tiada. Sangat merepotkan, setiap hari uang terus yang di pikirkan. Tapi-kenapa bisa meninggal? Apa nenek itu punya penyakit?' batin Youhei heran. Ingatannya terngiang-ngiang saat omah Eva akan memberikan uang 1000 ¥en.


Flashback on


"Pak, di percepat lagi. Aku tak sabar ingin bertemu cucuku Aoi. Pasti dia akan senang dengan kedatanganku," ucap omah Eva. Hatinya tak sabar ingin memeluk Aoi, melepas rindu yang begitu lama setelah bertahun-tahun tak bertemu. Tinggal di kota yang sangat jauh membuat jarak sebagai benteng pemisah antara dirinya dengan Aoi.


"Baik, tapi saya tidak akan mengebut. Karena mau bagaimana pun harus menaati rambu lalu lintas. Jalanan sedang ramai, saya tidak mau nanti terjadi kecelakaan," pungkasnya tegas, asalkan sampai tujuan dengan selamat.


Omah Eva berdecak. Selalu saja semua orang menolak permintaannya.


"Mau uang gak?" ia mengeluarkan uang sebanyak 1000 ¥en agar si supirnya itu mau mengebut.


"Maaf, gaji saya lebih besar daripada uang itu," tolaknya halus. Memang ada benarnya, apalagi di musim salju seperti ini sangat jarang keluar rumah dan gajinya pun menjadi dua kali lipatnya.

__ADS_1


"Dih sombong banget kau ya. Memangnya uang segini kecil untukmu? Sangat tidak bersyukur!" omah Eva kesal, sudah bagus ia memberikan uang tapi si supirnya itu menolaknya mentah-mentah.  Memangnya dia siapa? Ia lebih tinggi dan di hormati dalam rumah Yosio.


"Biarlah. Lebih baik uangnya anda simpan. Di musim salju seperti ini harus pandai berhemat. Pemerintah juga membatasi kegiatan di luar rumah demi keamaan dan keselamatan jika badai salju datang sewaktu-waktu," ujar Youhei membicarakan tentang perkiraan cuaca.


"Tidak perlu. Karena uang ku masih banyak. Memangnya kamu yang selalu nunggu gajian di akhir bulan. Hm kasihan sekali," omah Eva meremehkan Youhei,  para menantu dan yang lainnya selalu memberikan uang lebih.


"Terserah anda," ujar Youhei bodoamat. Meladeni omah Eva tak akan ada habisnya.


Diam.


Omah Eva bingung kata-kata apa yang harus di siapkan nanti disana.


"Udah dapat keluarga kaya, presiden lagi. Wah, kayaknya disana bakalan banyak uang dan barang mewah," dengan hati yang tak sabar ia ingin meraup uang sebanyak-banyaknya dari keluarga Rotschild


"Apakah anda ingin mencuri disana?" tanya Youhei tanpa ada rasa takut setelah mengakatan itu. Padahal omah Eva tidak pernah melakukan hal tersebut.


Omah Eva terkejut. "Enak aja! Aku kesana itu mau ketemu Aoi. Gak kebalik yang mencuri itu kamu?" beginilah sifatnya tak mau kalah dan selalu ingin menang.


"Berhati-hatilah jika ada disana. Ada 4 bodyguard yang selalu berjaga dan waspada. Kalau macam-macam kau sendiri yang habis," ujarnya menakut-nakuti, omah Eva harus di kasih faham agar tak mengambil barang apapun di rumah mewah itu.


"Ck, iya! Siapa juga yang mau mencuri," niatnya untuk membawa uang banyak menguap begitu saja setelah mendengar kata bodyguard.


Miho menatap Youhei curiga, apa pria itu sudah waras? Yang ia perhatikan sedari tadi senyum-senyum entah memikirkan apa. Mustahil Youhei mempunyai kekasih, sifat galaknya saja lebih mendominasi.


"Sedang mikirin apa kamu ha? Dasar udah gak waras," ketus Miho kesal, Youhei menoleh senyumnya itu luntur seketika.


"Itu bukan urusan kamu," Youhei berlalu pergi, malas dan tak nyaman dengan Miho. Sejak awal bekerja ia tak pernah akur dengan perempuan gendut itu.


***


Kabar kematian omah Eva sudah tersorot oleh publik dan di siarkan acara televisi.


Seseorang yang melihat berita itu pun tersenyum. Seharusnya yang berada di posisi itu adalah anak Tuan. Julukan yang pas untuk targetnya nanti.


"Ya, biar kamu merasakan duka berkali-kali Aoi. Bersiap-siaplah untuk menangis tiada hentinya," senyuman miring dan tawa jahat menggema di ruangan kosong yang hanya di isi satu televisi dan kursi untuk duduk. Ruangan khusus bersantai sekaligus bersenang-senang.


Di mansion, Makoto meminta Aoi untuk menemani ke restoran. Lebih tepatnya ingin ada waktu berdua tanpa Hikaru, princess kecil itu serius mengerjakan PR-nya bahkan ketika Makoto pamit Hikaru mengiyakan-nya.

__ADS_1


"Ayo mas, biar nanti pulangnya gak malem banget. Biarin aja Hikaru belajar, kan ada mama yang nemenin," ucap Aoi, mamanya itu duduk di sebelah Hikaru terkadang membantunya jika bertanya atau kesulitan.


Setelah Aoi dan Makoto pergi, Hikaru selesai dengan PR-nya. Karin mengajak Hikaru bermain petak umpet agar tidak bosan. Tapi tetap saja terkadang Hikaru teringat omah Eva, Karin mengatakan bahwa omah Eva sedang pergi jauh.


'Maaf, harus berbohong. Aku hanya tidak ingin melihatmu sedih,' batin Karin merasa bersalah.


Sedangkan di restoran besar, Makoto dan Aoi duduk di tempat spesial. Kemana lagi kalau bukan dihatimu? Tapi di tengah-tengah.


Sedangkan pergerakan Aoi dan suaminya itu di awasi oleh seseorang. Tangannya berada di bawah meja untuk menyembunyikan revolver. Membidik dari jarak jauh dan...


Dor dor dor.


Tembakan tiga kali itu pas dengan sasaran yang di inginkan. Setelah di pastikan semua orang panik dan mengerumuni Aoi dan Makoto, melarikan diri dengan langkah tenang seperti orang normal tidak melakukan apapun.


"Cepat bawa ke rumah sakit!"


***


Amschel beristirahat dengan makan bekal dari Karin, jam makan siang ini enaknya makan setelah merasakan capeknya kerja. Sambil melihat TV agar ruangan kerjanya ramai sedikit daripada sepinya hati karena tak ada yang mengisi ya?


"Pemirsa telah terjadi sebuah insiden penembakan di sebuah restoran bintang lima di kota Tokyo. Dua pasangan suami istri telah tertembak. Pelaku kini sedang dalam pencarian, bahkan rekaman CCTV pun sedang bermasalah saat waktu kejadian-"


Amschel mematikan TV-nya. Sarapan siangnya selesai. Saatnya berkativitas kembali.


Ponselnya berdering, telepon dari Karin.


"Ha-"


"Ayah! Cepetan ke rumah sakit sekarang! Makoto sama Aoi-ke tem..bak," dengan cepat Karin mengatakan itu tapi mulutnya terbata-bata terasa kelu.


"Aku segera kesana," langkah Amschel terburu-buru, ia juga menabrak beberapa karyawan tapi tak mengatakan apa-apa terutama maaf, yang ada di pikirannya saat ini adalah Makoto dan Aoi. Kenapa bisa?


***


Wauw tiga bab lagi tamat. Hm happy end atau sad end ya? Jangan lupa baca kisahku sama si anu dia hehe judulnya Andyp thank you❤


Ngantuk banget 03:09 pagi

__ADS_1


See you-,


__ADS_2