
"Udah selesai. Sekarang ganti baju ya? Terus kamu istirahat, pasti capek habis sekolah," ucap Aoi membereskan kotak P3K mengembalikan ke asalnya.
Di kamar, akhirnya Hikaru bisa tidur dengan nyenyak.
Sedangkan omah Eva, ia mengendap-endap masuk ke dalam rumah setelah memastikan tak ada Aoi atau karin.
Langkahnya berhasil sampai di kamar yang sudah di sediakan Aoi. Kamarnya yang cukup luas, nuansa putih tulang dan bunga anggrek di dekat jendela.
Omah Eva menghela nafas lega. Akhirnya ia tak ketauan juga, pasti Hikaru sudah mengadukannya.
"Kenapa sih kalau Hikaru sama aku selalu aja ada masalah," ia mendudukkan dirinya di meja rias. Menatap pantulan dirinya yang sudah terlihat semakin tua.
"Omah hanya ingin melihatmu terus Aoi, dan Hikaru. Omah gak ada maksud jahat buat nyelakain Hikaru. Semua itu hanya kebetulan," ucap omah Eva, sayangnya kata-katanya itu tak di ketahui Aoi. Cucunya tak akan mudah percaya lagi setelah membuat Hikaru terluka kedua kalinya.
"Kalau nanti omah pergi, jangan pernah ada kesedihan," ucapnya lemah, mungkin tak akan lama lagi.
***
Nakura mengantarkan Aiko ke rumah Aoi. Anaknya itu ingin bermain dengan Hikaru. Padahal Nakura sudah melarangnya karena takut mengganggu kegiatan keluarga.
"Ini pak uangnya," Nakura memberikan uangnya pada ojol. Tak ada yang mengatarkannya, Ryuji juga membawa motornya.
"Ma, ayo kesana. Aku pingin main sama Hikaru. Soalnya udah janjian kemarin," Aiko meraih tangan sang mama, mengajaknya bermain dengan Hikaru yang kini duduk di ayunan.
"Halo Hikaru, aku datang kesini nepatin janji," sapa Aiko riang, janji gak oleh di mblenjani.
Hikaru menoleh, rasanya sepi dan sendirian. Omah Eva? Keluar dengan Aoi entah kemana, katanya sebentar tak akan lama.
"Aiko! Main apa nih? Boneka barbie? Aku ambilin-" tapi tangannya di tahan Aiko. Hikaru menoleh dengan alis mengernyit. "Kenapa?"
"Main tradisional aja. Mama ikut juga ya?" Aiko beralih menatap sang mama, di setujui. "Yes! Kita bermain nih aku bawa koma," Aiko menunjukkan gasing tradisonal dari Jepang memutarkan gasing dengan tali. Permainan yang populer pada tahun 1920-an mainan yang tebuat dari besi dan kayu.
Aiko dan Hikaru larut dalam permainannya, sedangkan Nakura tak bisa memainkannya. Lupa.
"Wah, asyik banget. Main apa?" Aoi datang dengan omah Eva, berbelanja dari mall mencari pakaian baru karena sebelumnya tak muat. Apalagi badan Aoi sedikit berisi.
__ADS_1
"Main koma. Mama bisa gak?" tanya Hikaru, ia berdiri menghampiri sang mama dengan membawa gasing koma.
"Kamu udah makan siang? Kalau belum ayo makan," Aoi sangat perhatian pada Hikaru, sekarang ia harus berhati-hati lagi menjaganya.
Wajah omah Eva sedikit suram. Masih terngiang-ngiang dengan ucapan Aoi yang lebih tepat di sebut nasehat lagi.
Flashback on
"Kenapa omah bangunin Hikaru? Dia itu harus istirahat, capek dari sekolah," Aoi membuka percakapan dengan wajah kesalnya.
Saat ini duduk di tempat makan yang ada di mall. Makanan yang baru di pesan pun masih utuh. Tak berselera untuk makan.
Omah Eva menatap Aoi heran. "Kenapa kamu nyalahin omah? Kan cuman ngajak main. Daripada Hikaru belajar terus nanti stres gimana?" omah Eva membalikkan pertanyaan pada Aoi. Hikaru masih kecil dimana menikmati masa anak-anak yaitu bermain.
"Tapi ada waktunya sendiri Hikaru main. Dan itu sore, malamnya Hikaru belajar meskipun satu jam. Dia seneng kok, bukannya terpaksa dan akhirnya pingsan," sindirnya. Hatinya benar-benar khawatir ketika melihat Hikaru pingsan karena belajar matrmatika.
Omah Eva menghela nafasnya. "Aku hanya ingin menjadi bagian kamu. Merasakan arti kebahagiaan yang sebenarnya," tiba-tiba ia meneteskan air mata. Bukan untuk mendapatkan perhatian Aoi, tapi selama tinggal di keluarga Yosio kesepian dan merasa sendiri meskipun di anggap paling istimewa.
"Kebahagiaan atau membuat Hikaru menderita? Omah, tolong jangan buat Hikaru menderita. Aku gak tega setiap habis main sama omah selalu aja ada luka," ucap Aoi lemah, sudah lelah dan percuma saja marah pada omahnya.
"Omah? Kok ngelamun? Gak ikut makan juga?" tanya Nakura membuyarkan lamunan omah Eva.
"Gak. Tadi udah makan di mall, masih kenyang. Kamu aja yang ikut sana. Minggir dulu, aku mau duduk disini capek banget," setelah ribut dengan Aoi di mall tadi, ia tak ingin dekat dengan Aoi dulu sampai cucunya itu memaafkan kesalahannya.
Nakura menyingkir. "Silahkan omah. Memangnya berapa jam di mall?"
"Dua jam lebih. Aoi kalau belanja dari lantai satu sampai naik lift kuat. Yang di cari tas, pakaian, sama perhiasan bagus. Harganya gak usah kamu tanya," jawab omah Eva sedikit curhat. Aoi muda masih kuat berjalan kemana-mana, sedangkan dirinya Faktor U.
"Omah beli apa? Kimono baru?" tanya Nakura sekedar menebak.
Omah Eva mengangguk. "Iya, kimono ku yang lama sudah usang. Warnanya pudar. Mending beli yang baru."
"Kamu mau pulang Aiko?" tanya Hikaru setelah selesai makan, kembali lagi ke teras rumah.
"Aku pulangnya sore. Jadi biar bisa main agak lama sama kamu. Makannya banyak juga ya? Pantesan agak gendut hihihi. Aku gak berani makan banyak," Aiko banyak bicara dengan Hikaru, seperti sudah mengenal lama.
__ADS_1
"Main bola yuk Hikaru sama omah," ajak omah Eva. "Sama teman kamu juga."
Aoi yang baru selesai membereskan piring dan ke teras lagi menemani Nakura.
"Hikaru mana?" tanya Aoi panik, pandangannya menelisik sekitar sampai menemukan Hikaru bermain bola dengan Aiko dan omah tentunya.
"Kamu kenapa khawatir gitu? Duduk disini aja, aku pingin ngobrol," Nakura merindukan Aoi, entah berapa lama dan bulan ia tak bisa bertemu.
"Gak apa-apa. Hikaru satu kelas ya sama Aiko dan duduk bareng?" Aoi mengganti topik, sebenarnya ia khawatir Hikaru bermain dengan omah Eva lagi.
"Ayo kejar aku Aiko!" Hikaru mengambil alih bolanya.
"Hikaru! Aku kan pingin nyobain juga," Aiko berusaha mengambil celah, tapi Hikaru sangat lincah mengoper sana-sini bolanya dengan omah Eva.
Sampai tak sadar mereka tak lagi berada di teras, melainkan di depan gerbang utama yang dekat dengan jalan raya.
"Nih, kalau bisa ambil dong," ucap Hikaru, kemampuannya bermain bola bisa tepuk tangan dan di acungi jempol.
"Ya deh, kamu emang jago. Aku kalah," Aiko akhirnya menyerah. "Capek Hikaru," Aiko mengipasi wajahnya yang terasa gerah, siang ini terik mataharinya begitu cerah dan panas.
"Berarti aku yang menang. Yeayy!!" Hikaru bersorak senang. Sampai suara klakson mobil itu mengagetkannya. Hikaru menyingkir daripada di tabrak.
"Ya ampun Hikaru, hampir aja kamu kenapa-napa. Ayo kesana," Aiko mengajak Hikaru kembali ke teras rumah.
Omah Eva yang menyaksikan itu terkejut. Apa dirinya yang suka melamun sampai tak tau Hikaru sudah di tengah jalan?
'Maafin omah ya Hikaru. Kamu selalu aja celaka setiap dekat sama omah,' batinnya dalam hati dengan perasaan sedih.
***
G dan y ketika aku bete.
18:43 malam.
See you-,
__ADS_1