Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
29. Makoto bawel


__ADS_3

Pak Jiro menghela nafas lelah. Kenapa kelas 12 Ipa 1 sangat ramai?


"Semuanya diam sebentar. Saya ingin menyampaikan informasi penting!" dengan sekali tarik nafas separuh kamu. Gombalnya.


Sunyi. Sepi. Tanpa dirimu.


"Baik, seminggu lagi akan di adakan Try Out. Persiapkan diri kalian, belajar yang giat, semoga nilainya bagus sesuai harapan kalian. Jadwalnya akan di catat oleh sekeetaris. Maki, catat di papan ya," pak Jiro memberikan selembar kertas mata ujian Try Out.


"Oh iya, untuk Ujian Nasional juga semakin dekat. Karena ini pemberitahuan dari pemerintah Jepang, jadi selisih waktu ujian akan singkat," tambah pak Jiro lagi.


"Waduh? Tiba-tiba UN gitu aja. Gue kira masih lama!"


"Yah, siap-siap di marahin mama papa. Belajar yang bener!"


"Sabar, biar dapat nilai bagus!"


"Lama-lama aku pusing nih," keluh Fumie memijat pelipisnya.


Haruka terkekeh. "Hahaha, deritamu Fumie. Lagian kalau gak belajar mana bisa kan masuk Universitas favorit. Eh, kalian kuliah gak sih?" Haruka baru ingat sekarang tentang kuliah.


Aoi berpikir. Kuliah? Bagaimana dengan perjodohan itu? Ah! Bikin rumit saja.


"Kalau aku kerja aja Haru," jawab Fumie dengan nada lirihnya. Percuma saja meneruskan pendidikan tinggi, uang tak mudah di dapatkan.


Haruka mengangguk paham. "Kalau Aoi? Kuliah pasti. Aku yakin bakalan masuk tanpa seleksi di Universitas Sakura," ucap Haruka yakin.


"Gak tau," Aoi menggeleng. "Enak ya jadi kalian. Masih bisa kuliah atau kerja. Sedangkan aku? Gak tau mau bagaimana lagi," gara-gara Makoto, kehidupannya menjadi redup dan suram. Entah pria itu mengizinkannya kuliah atau tidak.


"Kenapa? Cerita Aoi," Haruka mengusap bahu Aoi, sepertinya ada masalah.


"Kita siap kok dengar curhatan kamu," Fumie tersenyum tipis.


Aoi menggeleng. "Gak apa-apa kok," ia berusaha tersenyum. Haruka dan Fumie tak boleh tau.


Maki mencatat mata pelajaran Try Out.


"Maki! Itu apa? Tulisannya gak jelas tau. Mana naik-naik ke puncak gunung lagi," gerutu Youhei yang duduk di belakang.


Maki berdecak kesal. "Makannya mata tuh di buka lebar. Ini itu pelajaran bahasa Inggris. Faham?" sudah biasa teman-temannya protes, tulisan kecil, naik ke gunung.


Bel istirahat berbunyi, akhirnya ke kantin. Beberapa ada di kelas masih mencatat pelajaran Try Out.


"Ke kantin dulu yuk? Aku lapar," ajak Fumie.


"Yuk!" Haruka menggamit tangan Fumie dan Aoi. Just best friend forever, itulah slogan persahabatan mereka.


Di kantin, Fumie ingin makan dorayaki. Seperti biasanya, Aoi yang membayar semuanya.


"Makasih banyak ya Aoi. Maaf kalau selama ini merepotkan," ucap Fumie tak enak hati.

__ADS_1


Aoi mengangguk. "Gak apa-apa. Kalau mau nambah lagi juga boleh," baginya Haruka dan Fumie adalah dua orang yang berarti selama masa-masa sekolahnya.


"Kapan-kapan, kalian main ke rumahku ya?" pinta Aoi. Selalu sepi, meskipun ada Makoto tapi pria itu lebih banyak diamnya kalau bukan selain masak atau mengobrol saat sarapan.


Haruka dan Fumie bingung. Aoi tak pernah mengajak ke rumah, tapi kali ini seperti mengejutkan. Bagaimana ya rumah Aoi?


"Emang boleh ya?" tanya Fumie ragu.


Aoi mengangguk. "Boleh banget kok. Lagian di rumah sepi banget," entah sampai kapan ayah dan mamanya pulang, Aoi kangen.


***


Aoi menulis jadwal waktu, saatnya membagi waktu. Jangan sampai waktu terbuang sia-sia. Apalagi ini untuk belajar.


Pintu kamarnya di ketuk.


"Aoi? Kamu lagi belajar ya? Aku boleh masuk?"


Suara Makoto itu sangat mengganggu Aoi. Kenapa harus ada dia sih? Aoi tau pasti Makoto hanya ingin modus agar bisa belajar bareng.


Tak ada jawaban.


Tapi Makoto itu nekat, ia membuka pintu kamar Aoi. Cewek itu duduk di meja belajarnya.


"Kamu lagi belajar ya? Sebentar lagi Try Out. Jangan lupa makan, biasanya-"


Makoto hanya terkekeh. Aoi kalau marah cantiknya bertambah kali lipat.


"Itu kok masih kosong? Gak bisa jawab ya?" Makoto menatap soal latihan matematika, mungkin Aoi sedang memikirkannya. Eh? Aduh percaya diri banget.


Aoi berdecak kesal. "Mending lo pergi deh dari kamar gue. Ganggu tau gak?" selama ada Makoto, ia selalu sensi dekat dengan pria tukang modus itu.


"Sini biar aku yang ajarin kamu," Makoto mengambil alih buku paket matematika itu.


"Aoi? Aoi? Kamu ada dimana?"


Suara teriakan Fumie yang membahana itu membuat hati Aoi lega. Akhirnya datang juga. Aoi sudah share location dengan kedua sahabatnya itu.


"Iya! Bentar!" sahut Aoi. "Heh, mending lo sembunyi di kolong tempat tidur deh biar Haruka sama Fumie gak salah faham. Cepetan!" Aoi gregetan, Makoto malah diam.


"Ya udah. Sembunyi di balik pintu aja sini," Aoi menarik kaos Makoto, pria itu seperti kucing nakal.


Makoto menurut. "Biarin aja mereka tau. Lagian-"


"Diem atau?"


"Aoi? Astaga! Kamu ngapain sama pak Makoto?!" Haruka terkejut.


"Aoi? Kamu masih-" Fumie tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Kalian salah paham. Dia kesini cuman jadi guru les aku aja," bantah Aoi, jadi tambah rumit. Argh! Semua gara-gara Makoto! Apa susahnya untuk bersembunyi?


Haruka mengangguk. "Oh gitu. Kita belajar bareng aja yuk? Kalau ada pak Makoto jadi enak nih. Biar bisa di bantu pas ngerjain soalnya," sangat menguntungkan, kapan lagi les gratis?


Makoto tersenyum. "Ya udah. Ayo kita belajar di ruang tengah aja ya?"


***


Selama 2 jam itulah, akhirnya mereka selesai belajar. Fumie ketiduran bersandar pada bahu Haruka.


"Kasihan banget Fumie. Kecapekan tuh, tadi aja tanya terus," ucap Aoi, memandangi Fumie yang tertidur pulas meskipun mulutnya terbuka tetap saja cantik.


"Fumie? Pulang yuk. Udah sore nih," Haruka menepuk pipi Fumie.


"Hemm, aku masih ngantuk Haru," Fumie menggeliat. "Nanti aja ya?"


"Fumie, ini rumah Aoi. Masa mau nginep?" tanya Haruka gemas.


"Iya juga sih. Ayo deh, pulang. Tadi aku izin sama tetanggaku bilang kerja kelompok biar gak di marahin," mengenai ibunya persis nyonya cinderella, apalagi sang kakak.


"Aku anterin kalian pulang. Daripada naik angkot atau ojek. Ayo," dekat dengan sahabatnya dulu biar dapat restu dan hatinya.


"Gak usah pak. Kita bisa pulang sendiri. Lagian Haruka yang bawa sepeda," tolak Fumie tersenyum kikuk.


"Oh hati-hati ya?"


"Siap pak!" seru Haruka dan Fumie kompak.


Setelah Haruka dan Fumie pergi, Makoto menggoda Aoi yang sibuk dengan ponselnya. Kabar baik lagi, ponsel Aoi sudah kembali.


"Apa? Gak usah ngintip!"


"Hahaha, siapa juga yang ngintip. Aku cuman pingin liat aja kok," Makoto kepo, tangan Aoi menari lincah mengetik. Entah sedang chat sama siapa.


"Kalau mau Try Out jangan begadang, makan yang teratur, gak usah mikirin apa-apa selain ujian, jangan-"


"Jangan, gak, jangan, gak. Ya terserah gue! Apa seharian harus baca buku? Belajar? Ya lama-lama gue sakit," sela Aoi cepat, Makoto sangat bawel.


"Semangat ya sayang!"


Kalau sudah begini, Aoi baru diam.


***


Ya ngebut, gak sabar namatin novel aku yang hiatus biar bisa lanjutin TMOO sama MWTB


Sepi, sendiri, rebahan, makan jajan. Aku.


See you-,

__ADS_1


__ADS_2