
Hikaru sangat fokus melihat acara televisi yang menampilkan beberapa orang yang berpetualang di sebuah gunung ternama.
"Ayah, itu mereka ngapain disana? Kok tasnya besar banget, apa itu gak berat?" tanya Hikaru penasaran.
"Mereka itu mau ke puncak Hikaru, kamu mau juga?" justru omah Eva yang menjawabnya.
Makoto hanya diam. Puncak? Itu sangat berbahaya bagi Hikaru, terutama suhunya yang sangat dingin ketika malam hari.
"Jangan kesana ya? Ada hantunya. Memangnya mau Hikaru di tangkap hantu?" sengaja Makoto menakut-nakuti Hikaru agar anaknya itu tidak meminta pergi ke puncak juga.
Hikaru mengerucutkan bibirnya. "Kenapa gak boleh? Gak ada hantu. Kenapa harus takut sama hantu? Kita kan punya Tuhan bisa berdoa."
Ada-ada saja alasan Hikaru, ini semua karena jawaban dari omah Eva yang seperti mengajak Hikaru agar ke puncak.
"Aku mau ke puncak ayah. Ayo, kita kesana," Hikaru menarik-narik kemeja sang ayah. Tatapan memohonnya akan meluluhkan ayahnya.
Makoto menghela nafasnya. Kalau sudah begini, Hikaru akan terus memohon sampai permintaannya itu terkabulkan. Kalau tidak, menangis dan mengadu pada Aoi. Ia tak mau tidur di ruang tamu yang dingin.
Makoto mengangguk. "Iya deh kita ke puncak besok. Tapi di Indonesia, kalau di negara kita suhunya pasti sangat dingin jauh berbeda dengan iklim tropis disana."
Hikaru bersorak senang. "Yeayy! Omah, juga ikut ya? Biar kita kesana rame-rame sambil makan jagung bakar. Ayah, bawa jagungnya yang banyak ya?"
"Iya. Kamu tidur aja ya udah malem. Biar besok bisa bangun pagi-pagi dan udah siap."
***
"Ke puncak?" tanya Aoi heran. Makoto dan dirinya belum tidur, masih merencanakan acara puncak.
"Semua ini karena omahmu itu. Dia menawarkan Hikaru ke puncak. Aku udah nakutin Hikaru kalau kesana di tangkap sama hantu. Ah tapi itu gak mempan. Aku takut Hikaru masuk angin," Makoto sangat khawatir, Hikaru mudah sakit.
"Gak apa-apa biar Hikaru gak bosen. Biar nanti aku suruh pake jaket tebal. Sekarang tidur aja ya? Aku mau masak lebih awal besok nyiapin bekal."
Makoto mengangguk. "Iya sayang ayo."
Di kamar Hikaru, ia sangat sulit memejamkan matanya. Masih terngiang-ngiang bagaimana indahnya pemandangan di puncak. Ah, jadi tak sabar menunggu pagi harinya.
"Ayah bakalan ajak semuanya gak ya?" Hikaru menatap langit-langit kamarnya, kalau hanya omah dan sang mama kurang seru. Seharusnya semuanya harus ikut agar lebih ramai.
__ADS_1
"Kenapa harus di Indonesia? Di TV tadi kan Jepang. Sama aja ke puncak. Tapi yang terpenting ayah nurutin aku hehehe. Tidur dulu ah, gak mau bangun kesiangan," Hikaru mulai memejamkan matanya. Besok adalah hari yang sangat bahagia untuknya. Akhirnya liburan juga.
***
Makoto membangunkan Hikari, meskipun masih jam 5 pagi semuanya harus bersiap.
"Hikaru, bangun. Kok tumben gak bantuin mama di dapur?"
Hikaru menggeliat. "Tapi kan aku masih ngantuk yah. Nanti aja deh jam 6 aku bangun kok," Hikaru kembali bergelung membenarkan selimutnya sampai sebatas dada. Angin dari AC sangat dingin, apalagi cucanya akan berganti menjadi salju.
"Kalau kamu gak bangun, acara ke puncaknya batal aja. Ayah mau berangkat kerja dulu," Makoto sengaja berpura-pura agar Hikaru bangun. "Emangnya semalam kamu tidur jam berapa? Hayo, jangan begadang," mata Makoto menyipit, curiga jika anaknya itu tidurnya larut malam.
Dengan langkah tergesa Hikaru bangun dan beranjak dari tidurnya.
"Jangan yah! Ini aku kau mandi kok. Terus bantuin mama."
Makoto tersenyum, akhirnya Hikaru mau bangun juga.
'Semoga nanti disana lancar dan tak ada hal lain,' batinnya.
Aoi selesai menyiapkan makanannya. Amschel, Karin dan omah Eva pun sudah duduk.
Karin cemberut, ayolah perutnta sama sekali tidak lapar.
"Aku gak laper, segini aja udah kenyang kok yah. Jangan di tambahi lagi," tolaknya setengah kesal.
Berbeda dengan omah Eva, hatinya menahan kesal karena tak ada yang memperhatikannya.
'Anak dan orang tua sama aja. Aku ini omah mereka, malah sibuk dengan urusannya sendiri. Bagaimana nanti saat di puncak? Apa aku seperti orang asing yang tak di anggap?' batinnya bertanya-tanya, kalau seperti itu lebih baik ia tak perlu ikut. Tapi mengenai Hikaru juga ikut, ia mengurungkan niatnya berada di rumah sebesar ini sendirian.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Hikaru dengan cerianya, senyumnya mengembang. Hatinya sangat bahagia. Puncak, rasanya tak sabar ingin segera sampai disana secepatnya.
"Pagi juga Hikaru," sapa omah Eva kembali. "Sini nak, duduk di sebelahku. Aku akan menyuapimu."
Hikaru mengangguk. "Boleh. Omah ikut juga kan?"
Omah Eva tersenyum. "Tentu saja ikut. Apalagi sama kamu Hikaru, akan terasa sangat menyenangkan jika nanti kita main bersama disana dan membaca dongeng sebelum tidur."
__ADS_1
Mendengar kata dongeng, Hikaru semakin antusias. "Wah! Aku aja gak pernah loh di bacain dongeng. Tapi kalau sama omah pasti di bacain tiap hari. Omah jangan pulang ya? Disini aja," pinta Hikaru memohon, dengan binar matanya yang sangat lucu membuat siapapun tak tega untuk menolaknya.
"Memangnya di boehin tinggal disini?"
Tak ada yang menjawab, bahkan Amschel dan Karin hanya menatapnya bingung. Apalagi Aoi, wajah syoknya bisa di jelaskan tak nyaman. Makoto yang baru saja duduk pun menatapnya heran.
"Tinggal disini? Terus omah kesini ngapain?" tanya Karin balik, ibunya itu sudah hampir membuat Hikaru celaka. Ia tak ingin kejadian itu terulang lagi.
"Kalian semua sibuk dengan dunianya masing-masing. Coba perhatikan Hikaru, berarti sejak kecil tak ada yang membacakan dongeng untuknya," omah Eva menambah-nambahi, demi mendapatkan perhatian dari Hikaru.
"Maaf, keluarga Yosio pasti akan merindukanmu. Lebih baik setelah acara puncak ini selesai, omah pulang saja," ujar Karin seperti mengusir omahnya.
"Baiklah," sahut omah Eva datar.
"Ih kok pulang? Omah disini aja. Jangan pulang kesana. Bacain aku dongeng."
"Makan, jangan bicara. Setelah ini langsung ke helikopter. Jangan menunda-nunda waktu," celetuk Aoi dingin, kalau terus berdebat kapan sarapannya?
Selesai makan, mereka menuju helikopter. Lagi-lagi Hikaru ingin duduk dengan omah Eva, Karin sudah membujuknya agar jangan jauh-jauh darinya sebelum nanti mabuk perjalanan udara.
"Hikaru, nurut sama mama ya? Jangan duduk di belakang, kamu suka muntah," kali ini Aoi berusaha membujuk Hikaru setelah mamanya gagal merayu anaknya. "Kamu tau gak? Mama bawain camilan banyak loh di helikopter. Kamu bisa makan sambil liat pemandangan yang indah."
"Beneran ma? Wah! Aku duduk sama mama aja deh. Omah duduk sendiri di belakang ya?"
Sekali iming-iming jajan, Hikaru akan menurut padanya. Bagus, Aoi menatap omahnya itu yang sekarang ekspresinya datar. Rencananya gagal, ia menang.
"Iya gak apa-apa. Nanti juga kita satu tenda kok," tapi tak semudah itu omah Eva menyerah. "Biar omah bacain dongeng."
"Iya dong, pasti sama omah."
"Ayo Hikaru, masuk. Jangan ngobrol terus," ucap Aoi yang sudah memasuki helikopter duduk di kursi depan.
"Iya ma!"
***
Membuang masa lalu jauh-jauh dan menjaga perasaanmu sebagai satu hati yang akan selalu ku hargai.
__ADS_1
3:49 sore.
See you.