Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
22. Dinner?


__ADS_3

Di ruang tengah, Aoi dan Makoto menonton televisi kisah romansa dua remaja SMA.


Aoi memakan camilannya dengan lahap, sushi kesukaannya.


"Kamu kalau ada apa-apa cerita sama aku ya? Kalau gak mau juga gak apa-apa kok," Makoto menoleh menatap Aoi yang serius melihat televisi.


"Kenapa sih cowok gak bisa pakai logika? Kenapa harus perasaan?" tanya Aoi gemas, Ryuji tak bisa memikirkan bagaimana perasannya yang sakit ketika Nakura berhasil mengajak Ryuji saat itu.


"Mungkin dia mau yang baru dan berbeda. Semua cowok itu gak sama Aoi. Ada yang memilih perasaan karena gak rela atau kasihan. Ada juga yang pakai logika karena dia pikir kembali atau pergi adalah pilihan terbaiknya," jelas Makoto bijak. Meskipun ia bukan ahli cinta, tapi ia faham bagaimana pemikiran seseorang.


Aoi terpaku. Apakah benar seperti itu?


"Terus kalau lo?"


"Apanya?" tanya Makoto bingung.


"Pakai apa? Perasaan atau logika?" karena Aoi tak mau kalau Makoto sama dengan Ryuji.


"Kalau khusus buat kamu sih perasaan. Tapi bukan berarti aku sama kayak pacarmu itu. Emangnya gak cukup ya satu cinta?" sekalian Makoto curhat bagaimana pahit manisnya cinta.


"Pikir sendiri!" Aoi beranjak dari duduknya. Langkahnya menuju ke kamar, masalah cinta lama-lama membuatnya pusing.


***


Ting!


Makoto mengunduh sebuah foto yang di kirimkan oleh Syougo.


Pacar Aoi itu tengah makan malam dengan seorang perempuan.


"Sebelum ada yang nyebarin foto ini, setidaknya aku harus lebih dulu," Makoto mengambil kunci mobilnya. Langkahnya menuju kamar Aoi.


"Udah selesai belum belajarnya?" Makoto mengetuk pintu beberapa kali.


"Emangnya kenapa?" sahut Aoi dari dalam kesal.


"Kita makan di luar aja. Cepet ganti baju yang bagus. Aku tunggu," Makoto memilih duduk di sofa. Entah Aoi mau apa tidak, ia harap Aoi mau daripada cewek itu sakit hati.


Di dalam kamar, Aoi memakai dress biru berlian yang memukau. Aoi yang melihat dirinya di pantulan cermin pun sampai terpesona.


Aoi menuruni tangga seperti putri kerajaan. Ia melihat Makoto yang memakai tuxedo hitam. Kenapa pesona pria itu tak bisa di tolak oleh matanya?


Makoto tersenyum melihat Aoi berdandan cantik. Sepertinya cewek itu mempunyai naluri akan dinner.


"Yuk my princess. Kita dinner," Makoto menggamit tangan Aoi. Ini baru couple goals.


"Dinner dimana sih?"

__ADS_1


"Wagyu restaurant. Biar kita pernah dinner gitu. Romantis kan aku?"


Aoi melepaskan tangan Makoto. "Apa sih? Gak usah gombal deh!"


Di Wagyu restaurant, Syougo terus mengawasi gerak-gerik Ryuji. Untung saja tampilannya saat ini terlihat misterius dengan masker hitam dan jaket.


"Kamu beneran suka sama aku?" tanya Nakura memastikan. Bisa saja Ryuji hanya sekedar membuat Aoi cemburu.


Ryuji hanya diam. 'Aku sukanya sama Aoi. Dan aku hanya butuh waktu menjaga jarak dari Aoi,' Ryuji menjawab dalam hati.


"Kenapa gak kamu jawab? Apa bener kamu masih suka Aoi? Dan aku jadi pelampiasannya?"


Di dalam mobil, Makoto malah menutup mata Aoi dengan sebuah kain merah.


"Kenapa harus di tutup segala sih? Gue gak bisa liat! Yang ada lo malah bawa gue ke hutan!" protes Aoi cerewet.


"Turutin aja apa kataku. Kan ini dinner pertama kita. Jadi harus ada kejutannya sedikit gitu," Makoto keluar dari mobil, ia meraih tangan Aoi dan menggenggam


Aoi menurut. Kejutan apa yang di siapkan Makoto. Semoga tidak aneh-aneh.


Makoto memilih duduk membelakangi Ryuji, dan Aoi harus menghadap ke arahnya agar melihat Ryuji dan cewek itu secara nyata.


Makoto melepaskan penutup mata itu.


"Nah, sekarang kejutannya sudah di depan mata," Makoto tersenyum senang, tak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Aoi ketika ada Ryuji yang makan bareng dengan cewek lain.


Aoi menatap lurus, terutama pandangannya langsung fokus pada satu titik. Ryuji dan Nakura?


"Maksud lo apa bawa gue kesini?" tanya Aoi dengan suara bergetarnya. Sekuat tenaga ia tak menangis, yang ada Ryuji senang melihatnya sakit hati.


Ryuji yang mendengar suara Aoi pun beralih menatap cewek itu. Dengan Makoto? Kenapa harus pria itu sih?


"Sayang? Suapin aku dong," Nakura sudah faham kalau Aoi berada disini.


"Maaf, aku cuman pingin kamu tau ini duluan sebelum menye-"


Aoi berdiri. "Apa?! Menyebar di sekolah? Terus gue jadi bahan gosip gitu? Gak habis pikir ya. Terutama lo!" Aoi menunjuk Ryuji dengan mata penuh kilat kebencian.


Ryuji menghampiri Aoi. Ia harus meluruskan semua ini.


"Aoi. Dengerin aku-"


"Gak perlu. Semuanya udah jelas. Awalnya gue gak ngerti kenapa lo tiba-tiba cuek. Pada akhirnya, lo pulang dengan Nakura dan makan bareng disini. Apa lo gak mikirin perasaan gue hah?!"


"Aoi. Aku masih-"


"Masih sayang sama Nakura? Atau gue?" sela Aoi cepat. Memangnya hati bisa di bagi-bagi?

__ADS_1


Pengunjung restaurant pun memperhatikan Aoi dan Ryuji.


"Pasti ada yang jadi pelakornya nih!"


"Cowok kayak gitu putusin aja mbak!"


"Aku cuman cemburu Aoi. Kenapa kamu selalu dekat sama pak Makoto? Apa aku bukan pacarmu lagi?"


Aoi terkekeh miris. Apa? Pacar?


"Terus Nakura lo anggap apa? Simpenan gitu?" tanya Aoi dengan nada remeh.


Nakura yang mendengar itu pun tak terima. Ia mengambil jus jeruk milik Ryuji dan menyiramkannya di dress cantik Aoi.


"Ryuji gak pernah ngomong gitu tuh. Asal lo tau ya Aoi, gue dan orang tuanya udah saling kenal. Jadi mundur aja deh, gak pantes!"


Aoi mundur perlahan. "Ayo kita pulang. Gue males liat wajah kalian berdua!" Aoi melangkah terlebih dahulu. Tak peduli dress bagusnya terkena tumpahan jus jeruk.


Makoto menyusul langkah Aoi.


***


Makoto mengajak Aoi ke amusement park, hanya duduk dekat dengan kincir angin.


Aoi menangis tanpa suara, Makoto hanya bisa memberikan pelukan hangat.


"Tau aja daridulu gue gak usah pacaran sama Ryuji!" adu Aoi kesal. Hanya Makoto yang bisa mendengarkan keluh kesahnya.


"Makannya, kalau nyari cowok yang pasti aja. Jadi sakit hati sendiri kan kamu?" Makoto mengusap rambut Aoi, cewek itu tak berhenti menangis.


Di Wagyu restaurant, Ryuji meninggalkan Nakura begitu saja.


"Sayang! Jangan tinggalin aku! Tunggu!" Nakura berlari menyusul Ryuji, tapi langkah cowok itu terlalu cepat sampai motor ninja itu menjauh.


"Liat aja pembalasanku nanti," hatinya di liputi rasa kecewa. Ryuji tega meninggalkannya sendirian. Awalnya saja manis, setelah bosan di buang.


***


Ryuji duduk sendirian di halaman rumahnya.


"Apa caraku salah ya menyakiti Aoi?"


"Kenapa Aoi mau nangis?"


Hati Ryuji merasa bersalah.


"Andai aja Aoi gak dekat sama pak Makoto. Mungkin aku gak bakal se-cemburu ini," Ryuji menatap langit yang di penuhi taburan gugus bintang yang indah.

__ADS_1


***


See you-,


__ADS_2