Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
39. Bahagia


__ADS_3

Hari ini, Aoi sangat semangat. Ya, apalagi sekarang ia akan melaksanakan tes seleksiĀ  universitas.


"Aoi, kerjakan soalnya dengan teliti ya? Jangan grogi. Tetap tenang dan pikirkan baik-baik jawabannya," ucap Karin memberikan nasehat.


Aoi mengangguk. "Iya ma. Doain semoga aku di terima disana ya?"


"Amien," jawab Amschel dan Karin bersamaan.


"Makan yang banyak biar kosentrasi disana. Kamu kalau makan satu centong nasi, diet apa gak suka nasi?" Karin sampai lelah menasehati Aoi makan lebih banyak sesuai porsi, tapi satu centong tak mungkin akan kenyang lebih lama.


Aoi terkekeh. Mamanya memang bawel tapi mencemaskan kesehatannya.


"Kan aku gak laper ma. Kalau lapernya banget baru deh makan yang banyak," Aoi kurang suka dengan sayuran, sang mama selalu memberikan sayur di piringnya setiap sarapan. Aoi tak suka rasa pahit.


"Karena sayur lagi? Aoi, sayur itu buat kebutuhan gizi dan zat besi. Kamu aja sering pusing. Dokter kan udah nyaranin kamu buat doyan makan sayur," omel Karin tak mau tau.


"Dengerin tuh kata mama. Baik buat kesehatan. Kalau kamu doyan makan sayur, ayah bakal kasih apa aja yang kamu mau bahkan kapal pesiar atau rumah baru sekalipun," tutur Amschel tenang dan santai, kalau imbalannya begini makan sayur sampai jadi cemilan pun rela aku.


"Itu mobil lamborghini kamu pasti beli pakai black card yang di kasih ayah ya?" tanya Karin sangat heran.


Amschel menggeleng. "Gak ma, uang yang di black card Aoi sama sekali gak berkurang sampai satu miliar cuman limapuluh enam juta aja."


Karin mengangguk. "Oh, terus dari siapa dong?"


"Kayaknya dari Makoto ma. Bener kan?" Amschel tersenyum miring.


Aoi salah tingkah. "Ha? Anu-e gak kok."


"Bener. Dari Makoto, mana ada cowok yang sanggup beliin mobil semahal itu?" bahkan Amschel tau siapa saja yang dekat dengan Aoi terutama kemampuan ekonominya.


'Maksud ayah nyindir Ryuji gitu? Kenapa sih cinta kok di ukur dari materi?' batin Aoi kesal, menurutnya cinta itu di ukur dari hati.


Aoi hanya diam. Mood-nya hilang. Disini Ryuji seperti bukan selera ayahnya.


"Habisin Aoi, kok malah ngelamun. Mikirin Makoto kan? Ya ampun baru kemarin udah ketemu sakarang kangen lagi," goda Karin berhasil membuat pipi Aoi bersemu.


"Apa sih ma aku kan mikirin soal seleksi susah apa gak. Ngapain juga mikirin dia," sedikit kesal, Aoi meletakkan sendok dan garpunya. Tiba-tiba sudah kenyang.


Aoi pergi begitu saja.


"Kok jadi ngambek yah?"


"Buat Aoi jatuh cinta sama Makoto itu susah ma."


Tapi Amschel yakin suatu saat nanti, Aoi akan membalas cintanya Makoto.


***


Aoi mengendarai lamborghini-nya dengan kecepatan standard, kali ini ia tak mau mengebut.


"Kenapa sih ayah sama mama selalu aja nyomblangin aku dengan om Makoto?"


Aoi mendesah lesu. "Lupakan Aoi, sekarang kamu harus fokus dengan soal-soal memusingkan itu. Anggap saja kamu tidak mengenal om Makoto."

__ADS_1


Tin tin!


Haruka dan Fumie tersenyum. Secepat ini Aoi datang? Bahkan terbilang masih pagi yaitu jam 6 lebih sepuluh menit.


"Hah? Seriusan kita naik lamborghini? Haru, aku gak lagi mimpi kan?" Fumie masih syok, ia hanya bisa memandangi mobil cantik dan mengkilap itu lewat layar kaca.


Haruka menggeleng. "Udahlah, ayo sekarang naik. Ujiannya di mulai jam 7 jadi ada kesempatan buat kita belajar meskipun sebentar aja."


Selama perjalanan, Fumie ingin tau harga mobil Aoi.


"Hadiah dari om Makoto. Aku gak tau harganya berapa. Huh, kadonya terlalu berlebihan," Aoi tak habis pikir, kenapa Makoto rela mengeluarkan uang banyak demi dirinya? Apakah se-cinta itu?


"Itu bagus Aoi, pak Makoto ngasih kado spesial ini dengan tulus. Dia tau kalau kamu sering jalan kaki, makannya di belikan mobil. Bener gak Haru?"


Haruka setuju dengan pendapat Fumie.


"Iya, terima aja apa pemberian pak Makoto. Ada untungnya juga kamu punya mobil sendiri, kalau mau kemana-mana enak gak perlu jalan kaki."


Tapi bukan itu harapan Aoi.


"Tapi aku gak suka Haru, kamu tau kan sekarang kejahatan itu ada dimana-mana? Mobil se-mahal ini aja bisa jadi incaran mereka. Tenang aja, ayah sekarang mengirimkan beberapa mata-mata untuk mengawasiku," Aoi sangat yakin ayahnya itu selalu memantau aktifitasnya, ia tak risih melainkan tenang karena ada yang menjaganya.


Tak lama kemudian mereka sampai di US (Universitas Sakura) kampus terbesar di kota Jepang. Gedungnya juga luas, beberapa anak mahasiswa berseliweran sibuk dengan aktifitasnya.


Aoi memarkirkan mobilnya. Saat keluar dari mobil pun, ia ikutan jadi sorotan anak mahasiswa.


"Itu cewek kaya banget! Siapa namanya?"


"Kayaknya dia peserta ujian seleksi di kampus kita deh."


"Haruka, kenapa kita di liatin terus ya? Apa penampilan kita aneh?" Fumie merasa risih, apalagi kampus ini adalah lingkungan baru.


"Jangan di pikirin Fumie. Kita fokus aja sama ujiannya," bisik Haruka lirih.


***


Setelah 2 jam ujian seleksi universitas, akhirnya selesai juga. Ujian itu sesuai sesi yang di tentukan oleh kampus.


"Kapan nih pengumuman lolosnya?" tanya Fumie penasaran.


"Dua minggu lagi kok. Kita liat aja melalui website kampusnya," jawab Aoi, semoga saja lulus mengenai soal-soal tadi sangatlah rumit.


"Yuk pulang. Waktunya istirahat, kepalaku rasanya mau pecah aja Haru," keluh Fumie sedih.


"Gak sabar nih bisa peluk bantal sama guling," Haruka mengembangkan senyumnya, selesai otak berpikir keras saatnya beristirahat.


***


Dua minggu berlalu, saatnya pengumuman lolos peserta calon mahasiswa US di umumkan.


Aoi mengecek pengumuman itu di laptopnya.


"Duh, mana ya namaku?" Aoi scroll perlahan meneliti nama awalan huruf A.

__ADS_1


Ketemu!


"Nah! Ini dia. Aoi Mianami Rotschild lulus seleksi dengan pencapaian skors 985. Hah? 985? Astaga! Akhirnya aku lolos! Yeayy!!" Aoi berjoget ria, apalagi namanya berada di urutan 5 besar.


Tapi senyum Aoi pudar. Seingatnya di posisi nomor satu ada nama Ryuji Sakuma lalu di susul nomor dua yaitu Koko Nakura. Sangat tidak adil!


"Kenapa harus mereka berdua sih? Jadi kesel deh liatnya!" sungut Aoi kesal.


Aoi menarik nafasnya. Sabar. "Tapi gak apa-apa, nilai itu gak buruk. Hm, gimana sama Haruka dan Fumie ya?"


Aoi kembali scroll mencari nama kedua sahabatnya itu.


Hati Aoi gelisah ketika nama Haruka belum di temukan.


Sampai di urutan ke-20 barulah nama Haruka Meido ada.


"Haruka skornya 827. Lumayan, duh Haruka bikin panik aja. Mana US cuman ada kuota mahasiswa baru 50 lagi," rasanya lebih deg-degan melihat pengumuman kampus daripada ketemu doi atau mantan. Tapi Aoi senang ia lolos dengan nilai sesuai targetnya.


"Sekarang Fumie. Mana ya?"


Kalau yang ini mungkin Aoi bisa gigit bantal jika nama Fumie susah di temukan.


Ada. Tapi hampir di urutan 10 terakhir dari jumlah 50 peserta.


"Fumie lolos dengan skor 775? Fumie ambil jurusan apa sih?"


Aoi mengangguk faham, ternyata Fumie mengambil bahasa Inggris, mungkin soal yang di ujikan susah tak semudah dirinya yaitu ekonomi perkantoran.


Aoi ingin menelepon seseorang. Memberitahulannya bahwa ia bisa lolos di kampus impian semua orang.


Aoi menghubungi Makoto. Tak lama kemudian panggilannya tersambung.


"Aku lolos! Tau gak? Namaku berada di posisi lima besar lho. Kamu seneng gak?" Aoi tak bisa melunturkan senyumannya.


Di seberan sana, Makoto hanya terkekeh.


"Bagus deh kalau kamu lolos. Haruka sama Fumie gimana? Lolos juga kan?"


Aoi mengangguk. "Lolos kok meskipun gak masuk sepuluh besar. Ini kan hasil usaha keras belajarku sama mereka. Rasanya gak sabar deh ke kampus. Kamu pernah kuliah kan?"


"Ya, aku ambil jurusan bahasa Jepang. Dan aku juga pernah menjadi dosen satu tahun disana. Nanti aku kasih bocoran deh biar skripsi kamu gak revisi terus. Gimana?"


Sebuah tawaran yang menguntungkan. Aoi sangat merasa beruntung bisa di pertemukan Makoto. Hidupnya akan terjamin dengan pria itu.


"Boleh banget! Makasih ya? Tapi bantuin Haruka sama Fumie juga. Masa aku aja?"


"Iya deh. Selamat ya? Kalau ke kampus jaga matanya, banyak cowok tampan disana. Apalagi presiden mahasiswanya gantengnya ngalahin aku," ucap Makoto sedih, rasanya ia ingin kembali mengajar menjadi dosen. Ia akan usahakan ke kampus itu lagi, asalkan Aoi aman tanpa di ganggu cowok-cowok nakal.


"Hm," hanya bergumam, Aoi juga kurang suka dengan cowok tampan tapi genit.


***


Penulis yang halu kapan bisa kuliah ya.

__ADS_1


Sab, 5 Juni 8:33 am


See you next episode-,


__ADS_2