Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
50. Ulang tahun Aoi


__ADS_3

"Yah?" panggil Karin, Amschel mengalihkan fokusnya menatap sang istri.


"Iya? Ada apa ma?"


"Besok lusa ulang tahun Aoi. Ayah udah lupa?"


Amschel menepuk dahinya. "Ya ampun, kenapa baru ingat ma. Ya udah, mulai sekarang persiapkan pestanya."


Karin mengangguk. "Iya yah siap yah."


***


Haruka beranjak dari kasurnya, kebiasaannya setelah bangun tidur adalah melihat kalender.


Haruka mengucek matanya. Ia terpaku pada tanggal 18 Juni yang sengaja di berikan lingkaran merah.


Ulang tahun Aoi Mianami.


Haruka menelpon Fumie, memberitahukan bahwa besok lusa itu saatnya Aoi bertambah umur.


"Wah Haru, kalau gitu kita harus beli kado sekarang. Ayo Haru, kita ke mall," Fumie sangat antusias, apalagi soal memilih hadiah.


"Ayo, tapi kamu aja yang pilih. Selera Aoi kan sama kayak kamu," Haruka menutup panggilan teleponnya, saatnya kejutan dimulai.


***


Aoi berjalan sendirian menuju perpustakaan. Mencari buku tentang ekonomi pembangunan.


"Hm buku apa yang bisa jadi referensi?"


"Itu Aoi," bisik Haruka pelan, sengaja mengikuti Aoi secara diam-diam.


Haruka dan Fumie hanya menjaga jarak satu meter dari Aoi.


"Haru, cariin kamus bahasa Inggris disini dong yang paling lengkap biar aku faham penjelasan dosen," sengaja suaranya ia kerasakan sedikit sampai Aoi menoleh ke arahnya.


Kerja bagus Fumie.


"Haruka! Fumie!" sapa Aoi dengan senyum cerianya, akhirnya Haruka dan Fumie menampakkan dirinya.


Keduanya tak menyahut, justru sibuk mencari buku.


"Haruka? Fumie? Kalian dengar gak aku panggil dari-"


"Yuk Haru, kita ke kantin," Fumie mengajak Haruka pergi tanpa peduli Aoi yang terus-terusan memanggil namanya.


Aoi heran. Kenapa mereka tidak mendengarnya?


"Haru sama Fumie kenapa sih?" Aoi sedikit kesal, padahal jaraknya hanya sekitar satu meter.


"Apa udah gak menganggap aku sebagai sahabat lagi?"


Entahlah, Aoi masih bingung.


Langkahnya menuju kantin, tentu menyusul Haruka dan Fumie.


Di kantin, Haruka dan Fumie terkekeh melihat reaksi Aoi yang kebingungan di abaikan.


"Kasihan loh Haru, masa iya kita cuekin Aoi 2 hari? Kalau dia marah terus ngajak tanding kita kick boxer gimana?"


Haruka berdecak kesal. "Emangnya Aoi bakalan se-marah itu?"


Fumie menganga. "Ssstt! Ada Aoi, fokus aja makannya."


Haruka mengangguk. Bisa gawat nanti acara nge-prank tak menyapa Aoi 2 hari.


"Haruka, Fumie. Kalian marah sama aku?" Aoi mengambil posisi duduk di sebelah Haruka. Yang di tanya fokus memakan Bento-nya.


'Gak Aoi, aku sama Fumie mau nge-prank kamu. Kapan lagi coba ngerayain ulang tahun tapi di cuekin dulu? Haha, pingin ngakak tapi takutnya kamu heran,' batin Haruka.


'Haduh Aoi, kamu polos banget sih. Masa gak tau kalau 2 hari lagi ulang tahun kamu sendiri loh,' ucap Fumie dalam hati, mungkin mulai pikun.


Aoi kesal, Haruka dan Fumie sama-sama diam.


"Oh, aku udah jadi musuh kalian ya? Ya udah deh. Makasih buat semuanya," Aoi beranjak pergi dengan perasaan dan hati yang kecewa.


Fumie menatap Haruka bingung, kenapa jadi salah faham?


"Gimana dong? Kita kan gak berniat memusuhi Aoi Haru," suara Fumie bergetar, ia tak mau kehilangan Aoi apalagi jauh-jauh dari cewek tomboy itu.


Haruka menghela nafasnya, jika sudah begini mungkin prank-nys gagal total.


"Nanti aku bilangin ke Aldebaran, biasanya Aoi kan sama dia. Entah curhat atau di temenin kemana-mana," usul Haruka dengan ide cemerlangnya.


"Bagus deh, serem juga ya kalau Aoi kesel kayak tadi?"


Haruka mengangguk setuju. "Tapi bikin mood Aoi balik gampang Fumie."


"Emang apa?" tanya Fumie penasaran.


"Ada deh, tunggu aja ya tanggal 18 Juni."


"Siap! Bos Haruka!"


Ryuji yang mendengar tentang ulang tahun Aoi pun baru menyadarinya. Mau bagaimana pun juga, Aoi sudah pernah hadir dalam hidupnya memberikan kebahagiaan dan warna meskipun ada penghalang yang tak mau mengalah, siapa lagi kalau bukan Makoto?

__ADS_1


'Aku akan buat kejutan juga untukmu Aoi. Ternyata, aku sangat merindukanmu,' batinnya sedih. Kalau waktu bisa di putar kembali, Ryuji akan menarik kata-katanya saat itu. Lebih baik balikan lagi dan membuka lembaran baru dengan Aoi, bukan Nakura cewek yang sama sekali tak ia cintai.


***


Aoi mengajak Aldebaran duduk di kantin setelah jam kuliah selesai. Ia ingin berbicara empat mata dengan cowok itu.


Aldebaran mengernyit, tak ada salju dan hujan Aoi mengajaknya ke kantin. Padahal kemarin masih bertengkar.


"Aoi? Ada apa? Tumben banget ngajak gue kesini. Pasti ada maunya nih," tebak Aldebaran, sudah bisa terbaca apa yang di pikirkan Aoi. Sedari tadi, pandangan cewek itu kosong.


Aoi mengangguk. "Iya, gue ada perlu sama lo. Gue pingin cerita."


"Cerita aja, gue siap mendengarkan semua keluh kesah lo kapanpun dimanapun."


"Haruka dan Fumie menjauhi gue Al, bahkan gak menyapa atau menganggap gue ada. Gue seolah-olah udah jadi musuh aja bagi mereka," Aoi menumpahkan kekesalannya, nafasnya memburu dan kedua matanya berkaca-kaca. Jangan. Jangan menangis lagi.


Aldebaran mengangguk faham, oh jadi ini inti permasalahannya?


"Terus? Sekarang lo musuhan sama mereka?"


Aoi mengangguk. "Iya. Gue cuman punya lo. Jadi jangan tinggalin gue ya?" pinta Aoi dengan suara paraunya, jika sudah begini ia ingin menangis meraung-raung tapi gengsi di depan Aldebaran. Ia bukan cewek cengeng.


Aldebaran mengangguk. "Janji lah. Kita itu teman, ya meskipun kadang berantem gak jelas tapi nanti juga baikan."


Aoi terkekeh, benar juga. "Pokoknya kemana-mana gue sama lo bersama. Teman?"


"Teman!"


***


Satu hari lagi, ulang tahun Aoi. Segala persiapan dari pesta, dekorasi lampu, kue, dress dan undangan sudah selesai. Hanya menunggu hari itu tiba.


Amschel dan Karin sudah menyiapkan hadiah untuk anak tunggalnya itu. Hanya hadiah kecil yang bermakna, akan selalu menemani Aoi tidur.


Karin menatap kagum boneka teddy bear berjumlah 5 berukuran besar itu.


"Kayaknya ayah kebanyakan deh belinya. Masa lima?"


Amschel terkekeh. "Gak lah ma, ini udah cukup banget. Lagian limitied edition, tau gak ma?


Karin mengangguk. "Gak tau yah!" serunya gemas.


"Jangan marah dulu dong ma. Nah, untungnya ayah beli tepat waktu sebelum di borong sama pasangan bucin waktu itu," Amschel merasa bangga dengan perjuangannya meskipun harus bernegoisasi menambah 2 kali lipat agar boneka itu jatuh ke tangannya.


"Makasih yah. Aku aja bingung mau beli hadiah apa buat Aoi," Karin memeluk Amschel, rasanya terharu.


"Kembali kasih untukmu ma."


***


Jam menunjukkan pukul 11 tepat.


Amschel, Karin, Makoto, Haruka, Fumie dan keluarga Anekawa sudah siap berkumpul di ruang tamu.


Sengaja semua lampu di matikan agar terlihat sudah tidur nyenyak. Padahal di ruang tamu rame sekali seperti rombongan ingin merayakan ulang tahun Aoi.


"Nanti kita mengucapkan tanjoubi omedetou ya? Awas lidahnya ada yang keliru malah bilang happy birthday," ujar Amschel kesal.


"Oh ya! Kan sama aja om artinya selamat ulang tahun," seru Haruka bersemangat.


Amschel mengangguk. "Seratus! Kamu benar Haruka. Ya udah, kurang 10 menit lagi jam 12 tepat. Ayo ke kamar Aoi, hati-hati ya kalau jalan liat-liat. Jangan sampai ada bunyi apapun itu."


Semuanya mengangguk.


Aoi tidur sangat nyenyak. Kelelahan, setelah jalan-jalan dengan Aldebaran untuk menenangkan pikirannya.


Amschel membuka pintu kamar Aoi perlahan dan hati-hati.


"Satu..Dua..Tiga!" Amschel memberikan aba-aba.


Denting jam berbunyi, sudah jam 12 tepat.


Anata ni okuru basudei songu yo ok


( Happy Birthday to you you


あなたに贈るバースディソングよ OK?)


Odorokasete gomen tokubetsu na hi ni 


aete yokatta 


rousoku no hi o keshite 


kanpai shimashou omedetou! 


( 驚かせてごめん 特別な日に 


会えてよかった 


ローソクの火を消して


乾杯しましょ オメデトウ! )


Aoi terbangun. Terkejut semuanya menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Aoi menemukan Haruka dan Fumie yang tersenyum menatapnya.

__ADS_1


Happy birthday to you you 


itsumo arigatou! 


( いつも アリガトウ!)


Happy birthday to you you 


happy birthday to you you 


anata ni okuru basudei songu yo ok?


( あなたに贈るバースディソングよOK? )


Itsumo chikaku ni ite tokubetsu na yume 


kikasete hoshii 


kore kara mo yoroshiku 


purezento mo aru yo omedetou! 


( いつも近くにいて 特別な夢 


聞かせてほしい


これからもよろしく


プレゼントもあるよ オメデトウ! )


"Tanjoubi omedetou Aoi!" seru semuanya kompak.


"Tiup lilinnya Aoi, jangan lupa berdoa," Karin mendekat, ia membawakan kue stroberi kesukaan Aoi.


'Terima kasih Tuhan memberikan aku orang-orang yang baik di dekatku selama ini. Semoga mereka engkau berkati. Amien,' Aoi memejamkan matanya, lalu meniup lilin.


"Eh, potongan kue pertama buat suaminya dong," goda Haruka membuat Aoi tersenyum malu-malu.


"Sana, suapin Makoto dulu."


Aoi menggeleng. "Kue pertama itu buat mama sama ayah. Ayo yah, ma aku mau suapin nih."


Makoto sedikit kecewa, tapi ia mengerti Aoi sangat menyanyagi orang tuanya.


Dan kue kedua untuk Makoto.


Semuanya hanya bisa bersorak cie-cie.


Aoi menatap Haruka dan Fumie kesal.


"Kalian ngerjain aku ya waktu itu? Ngaku!"


Fumie mengangguk. "Maaf Aoi, kamu serem juga ya kalau marah banget. Takut di tinju aku sama Haruka."


"Jangan marah gitu ah, mau aku cium?" ancam Makoto jahil.


Aoi diam. Kalau begini ancamannya lebih baik selalu menjadi sabar.


Malam itu semuanya makan kue dan hidangan yang sudah di siapkan. Malam-malam makan dengan lahap juga baik, apalagi Aoi sudah habis 3 bento sekaligus.


***


Aoi, Haruka, Fumie melangkah beriringan dengan gelak tawanya. Mereka masih ingat bagaimana keseruan tadi malam.


"Eh, Aoi awas gendut loh. Aku aja gak percaya kamu bisa makan 3 bento. Waw rekor nih!" seru Fumie terkagum-kagum.


Aoi berdecak kesal. "Jangan doain aku gendut ah! Doain kurus dong. Atau gak, semoga Aoi tetap langsing selalu. Gitu aja!" Aoi tak terima, sampai kapanpun kata gemuk, gendut, atau berisi sangat di hindarinya dan tak pernah ada dalam kamus hidupnya.


Ryuji tersenyum, ternyata Aoi hari ini se-bahagia itu. Dengan langkah percaya dirinya, menghampiri Aoi. Memberikan kado.


"Aoi yang cantik tak pernah terlupakan di hatiku ini. Selamat ulang tahun ya? Maaf aku gak bisa hadir saat acara ulang-"


SRET!


Aoi membuang kado itu. "Aku gak butuh ucapan dari kamu," langkahnya berlari menjauh.


Percayalah, rasa cintanya dengan Ryuji sudah hilang meskipun kadang cemburu melihat kebersamaan Ryuji dengan Nakura.


Haruka menatap Ryuji kesal. "Heh sadar diri dong! Aoi itu udah menikah dengan pak Makoto!"


Fumie mengangguk sangat setuju. "Iya! Urus aja sana pacarmu itu!"


Ryuji menatap kadonya sedih, ia pikir Aoi akan menerima hadiahnya dengan senang hati. Tapi tidak.


Ryuji tersenyum miris. "Mimpi, kalau kamu mau baikan sama aku Aoi. Kita seperti orang asing dan musuh."


***


Panjang? Lagi lancar ngetik idenya.


Jangan lupa minumnya, makan juga sama senyum. No galau-galau.


2:16 siang


See you-,

__ADS_1


__ADS_2