
Dalam helikopter, Hikaru mengobrol lebih banyak dengan sang mama. Berbeda dengan omah yang kesal karena tak bisa duduk dengan Hikaru.
"Ma, nanti disana ada lampunya kan?" Hikaru takut gelap, apalagi itu di alam bebas.
"Ada kok. Kamu jangan jauh-jauh dari mama ya? Kalau kenapa-napa mama yang khawatir sama kamu. Itu alam bebas, kalau misalnya nanti ada binatang buasnya gimana? Kayak Harimau, Macan atau Beruang. Tau kan sayang?"
Hikaru menggeleng takut. "Ih serem banget ma. Mereka kan gigit, suka makan manusia."
"Kalau suka makan manusia dinamakan apa?" Aoi bertanya pada Hikaru, penasaran sejauh mana pengetahuan anaknya itu tentang Ilmu Pengetahuan Alam.
"Em-apa ya?" Hikaru mencoba berpikir, sangat sulit menemukan jawabannya.
"Karnivora. Hewan pemakan daging," jawab Aoi. "Kamu kurang baca bukunya nak. Pulang sekolah baca materi dari guru bentar aja. Terus kamu boleh istirahat," Aoi tak ingin memaksa Hikaru, apalagi menjadi pintar yang terpenting Hikaru senang.
Hikaru tertawa. "Oh iya, aku lupa ma hehe. Mama pinter banget."
"Iya dong, kan dulu ayah di sekolah mengajari mama-aduhh," Makoto meringis kakinya di injak oleh Aoi, istirnya itu memberikan tatapan tajam. "Kenapa ma? Kan emang bener."
"Gak usah gombal," jawab Aoi tanpa suara, jangan sampai Hikaru tau kehidupan remajanya selama di kejar-kejar Makoto dan Ryuji, mantan terindahnya.
Akhirnya Makoto memilih diam daripada saat pulang dari puncak nanti tidur di ruang tamu yang dingin.
***
Setelah menempuh jalur udara yang lumayan lama, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Aoi menggendong Hikaru, takut kalau anaknya itu tak sanggup melewati bebatuan yang licin dan terjal.
"Sebaiknya omah pulang saja. Daripada ikut, aku takut nanti omah kenapa-napa," ucap Makoto khawatir, omah Eva sudah tua dan tenaganya tak akan sanggup menempuh perjalanan lama yang penuh perjuangan sepertimu.
Omah Eva kesal, ucapan Makoto seperti mengusirnya untuk pulang. Padahal niatnya kesini ingin bersenang-senang dengan Hikaru, tidak siapapun juga. Hikaru sudah membuatnya nyaman.
"Gak, omah ikut karena pingin ngerasain liburan sama kalian. Bahagia bersama dan bersenang-senang. Omah juga jenuh dan bosan di rumah Yosio, mereka mementingkan bisnis saja. Omah disana merasa kesepian," ujarnya berpura-pura sedih, berbanding terbalik dengan yang nyata kalau Yosio sangat me-spesialkan dirinya.
'Omah, seharusnya di rumah aja. Atau pulang di rumah paman Yosio, untuk apa omah kesini jika ingin membuat Hikaru celaka. Omah gak bisa di percaya,' batin Aoi, dan ia akan menjaga Hikaru baik-baik tak akan lepas pengawasannya dari omah Eva.
"Ya sudah, sebelum perjalan ke puncak. Kalau mau ada yang ingin buang hajat disana, atau makan sebentar agar tenaganya lebih kuat nanti."
"Ma, aku pingin pipis anterin," pinta Hikaru, padahal dirinya di gendong sang mama.
Aoi tersenyum. "Iya, mama anterin."
"Biar omah aja. Ayo Hikaru, nanti kita makan sebentar. Lapar kan?" sekaligus membujuk, omah Eva ingin selalu di dekat Hikaru. 'Karena omah ada sesuatu, dan itu tentangmu Hikaru. Kau harus tersingkirkan sebelum nantinya menjadi ahli waris utama Rotschild. Rasanya gak rela, semua hartanya di limpahkan pada Hikaru. Aku ini omah, yang harus di-'
"Gak usah, biarin aja sama Aoi. Omah kalau laper makan aja dulu," Makoto membuyarkan lamunan omah Eva.
"Oh iya. Mari makan," omah Eva mengeluarkan bekalnya. "Padahal ini buat Hikaru," gumamnya.
Karin menoleh. "Hikaru alergi udang, jangan kasih itu omah. Nanti kulitnya gatal-gatal," ucap Karin memperingati, Hikaru salah makan semuanya juga yang repot.
"Oh, maaf. Aku kira gak alergi. Pasti ini nurun dari kamu."
Karin mengangguk, memang benar. Tapi Aoi tidak mengalaminya.
"Iya, dari aku. Tapi Aoi sama sekali gak alergi udang."
"Omah! Nih aku bawain bunga, indah kan?" Hikaru memberikan bunga biasa, seperti bunga matahari tapi berukuran kecil. Kelopaknya berwarna putih. Di ambil asal di rerumputan.
Omah Eva menerima bunga itu. "Wah, bagus banget. Cantik kayak Hikaru," pujinya.
Hikaru tersenyum nalu-malu. "Ah omah bisa aja. Emang aku cantik kata mama. Iya kan ma?"
Aoi yang menatap omah Eva, lebih tepatnya memperhatikan setiap gerak-geriknya buyar. "Eh? Iya nak, kamu cantik."
"Udah semuanya?" Makoto menghampiri Aoi. "Ayo kita lanjut lagi."
***
"Karin, pijetin aku dong. Pegel-pegel nih kakiku," dengan santainya omah Eva menyelonjorkan kakinya, meminta Karin agar memijatnya. Perjalanan tadi sungguh melelahkan dan lama.
Karin mengangguk, mau bagaimana pun juga itu adalah ibunya.
Di tenda Aoi, Hikaru mengajaknya bermain.
"Sambil nungguin ayah nyalain api unggunnya kita main ABC 5 dasar yuk ma. Tapi ini nama hewan."
"Kamu yakin? Nanti kalah," Aoi akan menang kalau hewan, coba makanan sudah kalah dan menyerah duluan. Ini pantasnys Fumie memecahkan teka-tekinya.
"Yakin! Deal!" Hikaru meraih tangan sang mama, seperti super deal saja.
"Ayo ma! Dari A dulu," Hikari memilih 7 jari, sebelah kiri lima dan kanan dua.
"Ok. A b c d e-"
"M. Hewan dengan awalan huruf M, hm apa ya?" Aoi mulai berpikir, sedikit sulit menang. "Musang!" serunya senang, akhirnya ketemu juga.
Hikaru cemberut. "Ih mama! Kan aku jadi kalah gak ketemu jawabannya."
Aoi terkekeh. "Yuk kita intip, apa api unggunnya udah jadi."
"Ngintip gimana ma?" Hikari masih loading, tak faham.
"Sini. Udah hampir selesai api unggunnya. Pasti gak sabar kan makan jagung bakar yang udah di siapin sama ayah?"
Ya, daripada ribet. Makoto menyiapkan langsung dari rumah. Tapi tetap terjamin masih hangat karena di simpan tempat khusus.
"Ayo kesana ma."
"Yuk nak," Aoi menggandeng Hikaru.
Sedangkan Karin tangannya pegal memijat kaki omah Eva.
"Omah, udah ya? Tanganku pegel nih."
"Makasih. Udah mendingan."
"Omah! Ayo kesana! Jangan disini terus," suara Hikaru membuat omah Eva dan Karin menoleh.
"Mama mana?" Karin tak melihat Aoi, biasanya selalu lengket dengan Hikaru.
__ADS_1
"Lagi makan jagung. Omah ayo, kita makan bareng disana."
"Dan nyanyi dong," tambah omah Eva.
Mendengar kata nyanyi, Hikaru sangat senang. "Nyanyi apa? Omah bisa nyanyi?"
"Bisa. Ayo kesana, nanti omah nyanyiin lagi spesial buat Hikaru."
Di tempat api unggun, Makoto mengambil alih jagung Aoi dan menghabiskannya. Aoi cemberut.
"Mas! Itu punyaku! Mas rakus banget sih. Kan bisa ambil lagi," Aoi merajuk.
Amschel hanya menggeleng. "Kamu mau lagi? Tuh masih banyak. Kalau sanggup habisin semuanya."
"Ayah, nanti aku gendut ah. Ini aja udah langsing," setelah melahirkan Hikaru, Aoi berolahraga seperti biasanya juga porsi makannya di atur.
"Omah bakal nyanyi loh. Dengerin ya?" Hikaru duduk di sebelah omah Eva, sedikit jauh dari mamanya.
"Nyanyi apa?" tanya Makoto. "Lagu kuno?"
Omah Eva tak menjawabnya.
"Ehm, dengerin aja. Lagu ini spesial buat kamu Hikaru. Semoga suka."
Hikaru bertepuk tangan. "Bagus banget omah lagunya."
Aoi menahan tawanya. "Belum nyanyi Hikaru. Nanti kalau udah selesai tepuk tangan."
"Gitu ya? Salah dong aku hehe."
Ringkasan
Lirik
Rekaman Lainnya
Hasil Utama
Betapa bagusnya jika itu adalah mimpi
夢ならばどれほどよかったでしょう
Aku masih memimpikanmu
未だにあなたのことを夢にみる
Seperti kembali untuk mengambil apa yang kamu lupakan
忘れた物を取りに帰るように
Debu kenangan lama
古びた思い出の埃を払う
Bahwa ada kebahagiaan yang tidak pernah kembali
Akhirnya kamu memberitahuku
最後にあなたが教えてくれた
Bahkan masa lalu konyol yang tidak bisa kukatakan
言えずに隠してた昏い過去も
Tanpamu, aku akan selamanya
あなたがいなきゃ永遠に昏いまま
Aku yakin itu akan menyakitkan lagi
きっともうこれ以上 傷つくことなど
Saya tahu itu tidak ada
ありはしないとわかっている
Bahkan kesedihan hari itu Bahkan penderitaan hari itu
あの日の悲しみさえ あの日の苦しみさえ
Aku menyukai semuanya bersamamu
そのすべてを愛してた あなたとともに
Aroma lemon pahit yang tidak akan meninggalkan dadamu
胸に残り離れない 苦いレモンの匂い
Aku tidak bisa pulang sampai hujan berhenti
雨が降り止むまでは帰れない
Kamu tetap cahayaku
今でもあなたはわたしの光
Menelusuri punggung Anda dalam kegelapan
暗闇であなたの背をなぞった
Saya ingat garis besarnya dengan jelas
その輪郭を鮮明に覚えている
Setiap kali saya bertemu sesuatu yang tidak dapat saya terima
受け止めきれないものと出会うたび
__ADS_1
Satu-satunya hal yang tidak pernah berhenti mengalir adalah air mata
溢れてやまないのは涙だけ
Apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu lihat
何をしていたの 何を見ていたの
Dengan profil saya tidak tahu
わたしの知らない横顔で
Di suatu tempat Anda sekarang seperti saya
どこかであなたが今 わたしと同じ様な
Beri aku air mata jika kamu dalam kesepian
涙にくれ 淋しさの中にいるなら
Tolong lupakan aku
わたしのことなどどうか 忘れてください
Saya sangat berharap untuk hal seperti itu
そんなことを心から願うほどに
Kamu tetap cahayaku
今でもあなたはわたしの光
Dari yang saya kira
自分が思うより
Untukmu yang sedang jatuh cinta
恋をしていたあなたに
Seperti yang Anda pikirkan dari itu
あれから思うように
saya tidak bisa bernafas
息ができない
Saya berada di sisi itu
あんなに側にいたのに
Ini seperti kebohongan
まるで嘘みたい
Sangat tak terlupakan
とても忘れられない
Hanya itu yang pasti
それだけが確か
Bahkan kesedihan hari itu Bahkan penderitaan hari itu
あの日の悲しみさえ あの日の苦しみさえ
Aku menyukai semuanya bersamamu
そのすべてを愛してた あなたとともに
Aroma lemon pahit yang tidak akan meninggalkan dadamu
胸に残り離れない 苦いレモンの匂い
Aku tidak bisa pulang sampai hujan berhenti
雨が降り止むまでは帰れない
Seperti salah satu buah yang dipotong
切り分けた果実の片方の様に
Kamu tetap cahayaku
今でもあなたはわたしの光
(Lagu berjudul Kenshi Yonezu)
Omah Eva menyanyi dengan tenang dan penuh penghayatan. Semuanya tersentuh.
Berbeda dengan Aoi. Lagu itu menurutnya sama dengan kisah cintanya dulu. Ryuji meninggalkannya setelah tau Makoto akan menikahinya. Ah, masa yang sangat pahit harus di laluinya. Sampai ia merasa bahagia di berikan Hikaru.
"Suka banget. Tapi sedih, omah lagi sedih ya?" tanya Hikaru khawatir.
Omah Eva tersenyum. "Gak kok. Nih omah senyum. Jangan sedih, meskipun memang sulit tersenyum. Tapi sembunyikan kesedihanmu dari orang lain. Biar mereka gak tau kalau Hikaru sedih. Tetap senyum ya?"
Hikaru mengangguk. "Iya omah. Aku akan selalu senyum."
'Semoga ayah selalu lihat senyumanmu itu nak,' batin Makoto. Senyum yang sangat berarti baginya.
***
Random, ungkapan isi hati melalui lagu.
10:27 siang.
__ADS_1
Sesok ketemu neh.