
Hai, maaf lama banget update novel ini. Tenang aja, aku udah nambah 150 bab dan udah selesai mikirin konfliknya. Selamat membaca ya, terima kasih telah mengikuti kisah Aoi dan Makoto sampai tamat. Tunggu aku update ya, selain tambah seru pelaku sebenarnya dari insiden di restoran bakalan terungkap. Kira-kira siapa? Apakah dia?
Setelah kematian Makoto dan omah Ema, Aoi mencoba lebih kuat dan tegar meskipun sedikit tidak rela.
"Hari ini kamu mau ikut ke kantor?" tanya Karin pada Aoi, daripada anaknya itu sendirian di rumah dan kembali bersedih.
Aoi mengangguk malas. "Ikut ma."
Hikaru sudah berangkat beberapa menit yang lalu bersama Amschel.
"Jadi model majalah mama ya? Kamu pasti terlihat cantik," Karin akan memberikan yang terbaik untuk Aoi apalagi dari penampilan.
"Ma, aku gak bisa banyak gaya," keluh Aoi sedikit cemberut, bahkan foto saja hanya sekali jika ingin memiliki kenangan. Kenangan, kalimat itu mengingatkannya akan Makoto dan omah Ema.
Karin yang memperhatikan Aoi mulai melamun pun meraih tangannnya. "Aoi, jangan di pikirkan lagi. Mama gak mau kamu stress terus jatuh sakit," ucap Karin sangat khawatir.
Aoi tersenyum hambar. "Hikaru aja kuat masa aku gak? Hehe, ayo ma kita berangkat ke kantor. Aku mau jadi model majalah mama," dengan wajah cerianya Aoi berusaha untuk bahagia hari ini meskipun bukan dari orang yang paling ia cintai.
Hari ini kota Jepang sedang musim semi, terik matahari itu menyinari tumbuhan yang kembali subur setelah beberapa minggu yang lalu salju.
Cherry Blossom lebih megah daripada minggu sebelumnya, pembangunan gedung pencakar langit serta beberapa perusahaan besar yang semakin luas dengan tingkat kecanggihannya masing-masing. Alat transportasi pun berkembang dan semakin maju, ada mobil terbang sebuah kendaraan terbaru yang telah di ciptakan.
Keluarga Rotschild pun tak mau ketinggalan zaman, saat ini Aoi sendiri yang menyetir mobil terbang itu. Tanpa bahan bakar dan lancar selama perjalanan, tak ada kata macet. Di jalanan hanya pengguna sepeda yang berlalu-lalang.
"Enak ya ma sekarang ada mobil ini. Ayah langsung beli gitu aja padahal kan belum di rilis," Aoi tetap fokus menyetir meskipun tak ada kemacetan tapi pengguna mobil terbang dari kalangan atas tetap berkeliaran.
Karin terkekeh. "Kamu kayak gak tau ayah aja. Dia kan yang punya perusahaan transportasinya."
"Ma, emang model majalahnya buat apa?" tanya Aoi penasaran, dunia model bukan kesukaannya tapi kesempatan ini ia akan mencobanya demi sang mama.
"Majalah bulanan, fashion terbaru. Semua design baju sudah di rancang. Makannya kamu aja jadi modelnya, manager mama juga pingin ketemu sama kamu. Dia tampan, baik, ramah juga," Karin ingin Aoi segera melupakan Makoto, terlalu hanyut dalam kesedihan membuat akhir-akhir ini ***** makan Aoi menurun.
Senyum Aoi pudar. "Maksud mama aku di kenalin sama dia?" nadanya sedikit tidak suka, hatinya sudah berjanji akan tetap setia pada mendiang suaminya.
Karin mengangguk. "Kamu pasti langsung suka sama dia. Lihat aja nanti," Karim tersenyum penuh arti, karena tujuannya kali ini adalah mencarikan sosok ayah untuk Hikaru.
***
__ADS_1
Saat sampai di kantor, Aoi sama sekali tak menampilkan senyumannya. Selama melangkah hanya wajah judes dan tatapan sinisnya yang membuat beberapa orang yang melewatinya bahkan karyawan merasa takut.
Karin yang menyadari hal itu berbisik pada Aoi agar tetap ramah.
"Sebentar lagi kamu pemotretan loh, masa cemberut gitu?" tanya Karin sedikit menggoda. Namun usahanya berhasil Aoi menarik sudut bibirnya sedikit membuat senyuman kecil.
"Nah, gitu dong," Karin sumringah.
Karin duduk menunggu Aoi memakai fashion baju yang sudah di design sebelumnya dengan indah. Ia tak sabar bagaimana penampilan anaknya itu.
"Ma, aku kok kayak anak muda sih?" tanya Aoi setelah beberapa menit kemudian keluar dari ruangan ganti. Karin mengalihkan pandangannya menatap Aoi sampai tak berkedip, sangat memukau.
"Jadi ini Aoi ya?" seorang pria muda memakai tuxedo hitam dan rambut yang rapi itu menyapa Aoi.
Karin menoleh. "Eh iya. Ini Aoi anak ku. Bagaimana? Cantik kan?"
Pria itu mengamati Aoi. "Sangat cantik. Aku jatuh cinta," ia mengangguk, sesuai seleranya.
Aoi yang di perhatikan seperti itu pun merasa risih dan menjaga jarak. 'Kenapa sih mama harus ngenalin aku sama om ini? Kayaknya usianya jauh dari aku,' batinnya. Sejak perjodohan dulu kedua orang tuanya selalu memilihkan lelaki yang usianya terpaut jauh darinya.
Saat siap memotretnya, sang fotografer menyuruh Aoi untuk tersenyum.
"Jangan cemberut. Coba senyum sedikit. Karena nanti menambah kesan kurang di majalah. Ini demi kualitas foto kami," ujar sang fotografer.
Aoi terpaksa menyunggingkan senyumannya. Tangannya merangkul bahu pria pilihan mamanya dengan mesra. Dalam hati ia sangat menolaknya kalau bukan karena permintaan mamanya.
Setelah beberapa banyak gaya, akhirnya selesai juga. Aoi melangkah pergi, Karin yang memanggil namanya berkali-kali pun tak ia gubris.
Karin merasa tidak enak dengan manager-nya. "Maaf ya? Aoi baik kok, dia ramah dan mudah bergaul. Kamu tenang aja, hanya menunggu waktu."
"Tak apa."
Di jalan, Aoi melepas high heels-nya memilih jalan tanpa alas kaki meskipun sedikit kesakitan karena bergesakan dengan kerikil kecil. Biarlah rasa sakit itu ia tanggung sendiri, sama halnya merasa kehilangan suaminya sekaligus omah.
Aoi berjalan tak tentu arah, menyusuri pinggir jalan. Hari sudah mulai sore, awan sedikit mendung mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
'Aku gak tau harus bagaimana lagi. Kenapa mama mengenalkan aku dengan om itu? Apa maksud mama aku menikah lagi? Gak ma, hati aku masih buat mas Makoto sampai kapan pun,' ucap Aoi dalam hati. Cukup adanya Hikaru saja membuat hidupnya terasa bahagia, seperti ada sosok suaminya yang selalu hadir di setiap mimpinya.
__ADS_1
***
Di mansion, Karin sudah sampai setelah selesai mengurus pemotretan majalah model fashion-nya.
Saat langkahnya masuk ke dalam, Karin memanggil nama Aoi beberapa kali namun tak ada sahutan.
"Aoi kemana ya?" gumamnya. "Mungkin di kamar ketiduran," langkahnya menuju kamar memastikan Aoi ada atau tidak.
Namun nihil, kosong tidak ada siapapun. Karin sedikit cemas, ia menghubungi Aoi menunggu beberapa saat panggilan tersambung namun tidak aktif.
"Kamu dimana nak? Mama khawatir," Karin sedih, hal ini ia beritahukan pada Amschel.
Di kantor, Amshel yang mendapat pesan dari Karin itu membuat suasana hatinya tidak tenang.
Amschel menghubungi Ryou. Panggilan tersambung cepat. Amschel mengatakan bahwa Aoi hilang.
"Cepat kamu temukan dimana Aoi. Istri saya sangat sedih. Jangan sampai Aoi kenapa-napa," Amschel begitu sangat khawatir, baru kali ini Aoi pergi begitu saja tanpa ada kabar.
"Sebenarnya ada apa sampai Aoi begini?" tanya Amschel bingung.
Ryou dan ketiga partner pengawalnya berada dalam mobil. Ryou mengarahkan mereka agar segera menemukan Aoi dengan berbagai cara dari melacak, dan memeriksa CCTV jalanan.
"Ketemu!" pekik Nonomura senang. Sontak semuanya menatap Nonomura kepo.
"Dimana nona Aoi?" tanya Ryou tak sabaran. "Lokasinya?"
"Dekat jalan Cherry Blossom, hanya 5 menit darisini. Ryou, cepat! Nona Aoi sudah memanjat jembatan. Dia mau mencoba aksi bunuh diri," dengan cepat dan panik Nonomura memberitahukan informasi itu.
Ryou mengangguk. "Baik. Aku akan mengebut."
***
Belum tamat ya, episodenya 115 karena menurut aku biar lebih jelas lagi kehidupan Aoi setelah di selimuti duka yang mendalam.
19:52 malam.
Penulis yang merasa kesepian tak ada teman dan siapapun.
__ADS_1