Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
52. Sekedar tamu undangan


__ADS_3

Aoi tak semudah itu untuk mempercayai Makoto.


"Kalau emang nganterin ke klub itu bener, ya udah. Aku percaya," Aoi mengangguk. Tak perlu bertanya langsung pada Nakura, yang ada mencari masalah dan ribut saja.


***


Di kampus, dengan bahagianya Nakura membagikan undangan ulang tahunnya. Tentu saja di temani dengan Rumi, cewek bermulut pedas tapi savage di hati.


"Datang ya?" Rumi memberikan undangan pada geng cowok-cowok yang duduk berteduh di pohon rindang.


"Pasti ada dansa yang harus punya pasangan kan? Heh gue jomblo!" tolak cowok berambut acak-acakan, mungkin tak suka di sisir.


Kedua alis Rumi menyatu. "Di suruh datang apa susahnya sih? Hargai Nakura dong. Udah susah-susah nyiapin pesta, dekorasi, sama makanan enak berkelas masih aja nolak," semprot Rumi dengan ketusnya, kedua tangannya berkacak pinggang.


Semuanya tertawa.


"Pasti datang kok. Tenang aja."


Nakura berdecak kesal, inilah yang ia tak sukai. Rumi akan meladeni siapapun yang berani melawannya.


"Rumi! Gak usah di ladenin ah!" Nakura menarik tangan Rumi menjauhi cowok duduk di emperan pohon itu.


"Naku! Jangan di tarik ah tanganku. Emangnya aku ini kambing?" tanya Rumie kesal.


"Nih, kamu bagikan undangan aku ke fakultas ekonomi. Aku ogah nemuin Aoi, semuanya harus datang," Nakura melangkah pergi meninggalkan Rumie dengan keterbengongannya.


"Nakura! Nakura! Nyebelin! Masa aku yang bagikan undangan ini sendiri?" Rumi menghela nafasnya. Siapkan kesabaran, semangat Rumi!


***


Rumi memasuki fakultas ekonomi, membagikan semua undangan.


Tersisa 3 undangan saja, Haruka, Fumie dan Aoi pastinya.


Rumi mencari ke kantin, biasanya 3 cewek itu suka nongkrong disana.


Haruka dan Fumie tertawa dan Aoi hanya memasang wajah datarnya saja.


Rumi menghampiri tiga cewek yang sangat di benci Nakura dan dirinya.


"Kalian datang ke pesta ulang tahun Nakura. Pakai dress yang bagus! Jangan kampungan!" tegas Rumi kesal, apalagi Fumie cewek dari kalangan bawah yang tak punya apa-apa.


Fumie menggeleng. "Kalau dress mahal, aku gak usah datang aja. Biar Haruka sama Aoi kesana," tolaknya halus.


Aoi berdecak kesal. "Kamu harus datang Fumie. Nanti aku pinjemin dress bagus deh. Kalau gak ada kamu gak rame."


Haruka mengangguk setuju. "Tumben banget temen kamu ngundang kami?" tanya Haruka heran.


"Gak usah banyak tanya! Cuman datang aja udah cukuplah. Bye, males ah ngomong sama kalian. Gak selevel sama aku!" Rumi melangkah pergi.


Fumie menye-menye. "Gik isih binyik tinyi! Cimin diting iji idih cikiplih. Kalau gak niat ngasih undangan gak usah deh. Apalagi tadi, nyindir aku kan? Iya deh dia sama Nakura kaya sedangkan aku miskin gak punya apa-apa!"


Haruka mengusap bahu Fumie. "Sabar, jangan emosi. Gak usah di masukin ke hati ya?"


Fumie menarik nafasnya, sabar. "Ya Haru. Aoi, makasih ya udah mau pinjemin aku dress," Fumie beralih menatap Aoi.


"Sama-sama. Biar aku aja yang jemput kalian ya? Kayak biasanya di rumah Haruka."


"Siap Aoi!" ujar keduanya kompak.


***


"Naku! Kenapa kamu undang Haruka, Fumie sama Aoi?" tanya Rumi ketus. Seharusnya ketiga cewek itu tak perlu hadir.

__ADS_1


Nakura tersenyum miring. "Karena aku mau kasih kejutan juga buat mereka bertiga, terutama Aoi."


Rumi menggeleng heran. Tak habis pikir sampai kapan kebencian Nakura dengan Aoi itu selesai. Hanya karena masalah cinta dengan Ryuji, cinta bertepuk sebelah tangan.


"Terserah kamu deh. Kalau aku yang penting makan," Rumi nyengir dan mendapatkan satu suapan cilok dari Nakura. "Nwkurwa!" serunya kesal.


Nakura terkekeh. "Kamu gemesin sih. Coba kalau ada cowok yang punya pacar kayak kamu, udah di bawa pulang ke rumah biar sekalian di nikahin!"


Rumi menggeleng cepat. Ia mengunyah cilok itu tergesa-gesa. "Nikah nanti aja. Aku masih mau bersenang-senang di masa remaja ini Naku. Memangnya kamu yang kebelet nikah sama Ryuji?"


Pipi Nakura bersemu, ah dia. Tapi Ryuji tak akan mau menikah dalam waktu dekat, mengenai Ryuji terlalu sibuk dengan kuliahnya. Kemana-mana pun Nakura bisa melihat bahwa pacarnya itu selalu membawa buku, membaca di perpustakaan dengan menyendiri.


'Tapi di hari ulang tahunku ini, aku akan membalas semuanya. Termasuk Aoi, gara-gara dia Ryuji gak mau mencintai aku kalau bukan karena terpaksa aku menangis,' ucap Nakura dalam hati.


***


Aoi tersenyum puas melihat pantulan dirinya di cermin yang begitu cantik. Ia siap datang ke pesta ulang tahun Nakura.


Makoto yang baru memasuki kamar melihat Aoi menjadi princess tiba-tiba pun heran.


"Kamu mau kemana kok dandan gitu?"


"Ke pasta ulang tahunnya Nakura. Kamu jangan ik-"


"Biar aku aja yang kesana, Nakura mengundang aku juga kok. Kamu di rumah aja," sela Makoto cepat, pasti di pesta itu ada Ryuji. Yang ada Aoi akan gagal move on lagi.


Aoi menghentakkan kakinya kesal. Ini tidak adil.


"Tapi aku udah janji bakal jemput Haruka sama Fumie! Aku gak mau ah di rumah. Sepi! Mending ke pesta Nakura, bisa se-"


"Pokoknya gak Aoi. Nurut ya sama aku?"


Aoi terpaksa mengangguk, kalau tidak menuruti Makoto mungkin akan di adukan ke ayahnya.


"Sampaikan ucapan selamatku pada Nakura. Aku mau makan dulu," Aoi melangkah pergi, padahal hadir di pesta itu adalah keinginannya. Kenapa sih Makoto melarangnya?


***


Makoto menjemput Haruka dan Fumie, dua cewek itu tampak bingung kalau dirinyalah yang menjemputnya.


"Kenapa? Ayo cepetan masuk. Daripada telat datang ke pestanya," titah Makoto tak sabaran.


Haruka berbisik pada Fumie. "Aoi gak ikut nih? Yah, gak seru dong. Masa iya kita sama pak Makoto?"


Fumie menghela nafasnya, kalau sudah begini tak akan seru lagi suasananya.


Selama perjalanan, hanya terdiam sepi tanpa ada suara sedikit pun. Beginilah kalau bukan Aoi yang menjemputnya, sangat heran kenapa malah Makoto?


'Kayaknya pak Makoto gak mau deh Aoi ketemu sama Ryuji. Kan Nakura pasti ngundang pacarnya itu,' batin Haruka mulai berpikir jernih, pantas saja Makoto yang menggantikannya. Tapi sudahlah, mungkin pria itu cemburu kalau Aoi bertemu dengan mantan terindah dan pertamanya.


Akhirnya sampai di kediaman rumah Nakura, dengan dekorasi indah dan lampu-lampu yang bersinar menerangi hati ini masih sendiri.


Saat memasuki rumah Nakura, kesan pertama kalinya adalah megah. Banyak tamu udangan yang sudah datang, kue ulang tahun yang berukuran besar itu menambah kesan indah dan meriahnya pesta kali ini.


Nakura tersenyum senang melihat kedatangan Haruka, Fumie dan..


Tunggu, kemana Aoi? Kenapa harus Makoto yang hadir? Padahal rencana itu sudah siap.


'Hm, ayolah rencana apalagi? Aduh, pokoknya harus dapet sekarang juga. Ck, apa sih?!' batin Nakura kesal, kalau ada Makoto memangnya apa yang harus ia lakukan?


'Oh ya! Astaga! Sekarang aku tau apa yang harus di lakukan,' batin Nakura senang, senyum liciknya terukir di bibir kecilnya.


Dengan langkah anggunnya Nakura menghampiri Makoto. Sampai pada akhirnya...

__ADS_1


GREP!


Dengan sigap Makoto memeluk Nakura yang hampir saja terjatuh ke lantai.


Pandangan keduanya beradu temu, Nakura mengangumi pahatan wajah tampan Makoto.


"Kamu ganteng banget," mata Nakura tak bisa berkedip.


Kamera glitch memotret dari segala sisi, moment ini memang di abadikan. Apalagi Makoto, orang kaya yang terkenal tapi sudah memiliki istri.


"Keluar malam-malam demi bertemu Nakura? Oh jadi mencoba selingkub diam-diam?"


"Kasihan ya kalau istrinya tau gimana?"


"Bakalan berantem lah!"


Makoto berdecak kesal, bakal ada kesalahfaham lagi.


Langkahnya bergegas pergi.


Haruka dan Fumie tampak bingung.


"Kok pak Makoto pergi?" tanya Fumie kecewa. "Apa kita di tinggalin disini Haru?"


Haruka mengangguk, bisa jadi. Karena raut wajah Makoto sudah menahan amarahnya.


"Tapi gak apa-apa kok, nanti kita naik taksi aja ya?"


Fumie mengangguk.


***


Aoi memakan camilannya dengan segelas matcha latte hangat. Sangat pas saat menjadi teman nonton TV.


Aoi bosan, ia mengganti channel TV beberapa kali sampai ia menemukan acara gosip yang menampilkan Makoto dan Nakura saling memeluk dengan pandangan tak berkedip satu sama lain.


Inikah yang Makoto mau? Modus dengan Nakura?


Makoto mempercepat langkahnya, ia harus meluruskan semua ini. Jangan sampai Aoi mengetahuinya lebih dulu.


"Aoi? Aoi kamu dimana? Aoi? Kamu di rumah kan?" teriak Makoto suara menggema ke seluruh ruangan.


Aoi menoleh ke sumber suara. Langkahnya menghampiri Makoto.


"Kenapa pulang? Mending kamu kesana aja pesta dan bersenang-senang sama Nakura! Ini alasan kamu nyuruh aku di rumah aja? Biar kamu bisa modus ke Nakura? Jawab!" Aoi sudah sangat emosi, wajarlah ia cemburu karena Nakura juga pernah merebut Ryuji dulu.


Makoto tercekat, Aoi sudah tau?


"Kamu tau darimana?"


Aoi terkekeh. "Gak perlu kepo lah. Kenapa kalau aku tau duluan? Gak boleh?"


Makoto menggeleng. "Sayang, percaya sama aku ya kalau cintaku ke kamu cuman satu," Makoto meyakinkan Aoi.


"Cinta kok di bagi-bagi ke semua cewek," sindir Aoi pedas. Bagus Aoi! Lanjutkanlah!


Makoto mendekap tubub Aoi dalam pelukannya. "Kalau kamu gak percaya tanya aja sama Haruka dan Fumie. Sahabat kamu itu tau, aku cuman bantu Nakura biar dia gak jatuh. Selebihnya gak ada."


Lagi-lagi percayalah, kalau sudah begini Aoi harus bertanya langsung pada sahabatnya besok.


***


Garam asam wedang perut keram pas dapet, sepahit perasaanku ke kamu daripada manis bikin sakit gigi.

__ADS_1


4:51 sore


Sampai jumpa-,


__ADS_2