Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
71. Menyelamatkan Aoi


__ADS_3

"Apakah hutan pinusnya masih jauh?" tanya Nonomura.


Ryou menggeleng. "Sebentar lagi kita akan sampai."


"Jangan lupa, senjatanya kalian bawa kalau memang ada apa-apa disana," tambah Ryou memperingati.


"Siap!" sahut semuanya kompak.


"Ryou, apakah nona Aoi berada di sebuah gubuk? Untuk apa? Bukankah nona Aoi sedang camping?" tanya Tsubasa.


"Menurut informasi dari nona Aoi, mereka sedang di kejar oleh orang misterius dan berjubah. Aku tidak tau lagi, tapi yang terpenting nona Aoi masih aman."


"Tunggu," Tsubasa nampak berpikir. "Kenapa bisa nona Aoi di kejar oleh mereka? Apa nona Aoi ada masalah dengan mereka?"


Ryou mengangguk. "Bisa jadi, karena gak mungkin juga mereka mengejar nona Aoi. Kalau aku sudah dapat informasi tambahan tentang orang-orang itu, akan aku sampaikan pada nona Aoi juga Tuan Makoto."


"Jangan dulu, nanti pekerjaan Tuan Makoto terganggu. Bagaimana jika nanti Tuan Makoto memilih pulang karena khawatir dengan nona Aoi?" Nonomura mengutarakan pendapatnya, karena sekali mengambil tindakan akan kacau semuanya.


Ryou menghela nafasnya. "Baik, aku tidak akan melaporkan hal ini kepada Tuan Makoto."


"Lebih baik begitu, nanti saja menunggu waktu yang tepat," ujar Ryoto.


Mobil Ryou berhenti.


"Kita sudah sampai di hutan pinus. Kalian turun saja dulu, aku mau mengunci mobilnya."


"Memangnya nona Aoi camping dimana?" tanya Nonomura setelah keluar dari mobil.


Tsubasa menggeleng. "Belum tau. Kita cari saja dulu."


"Ayo, kita cari nona Aoi," Ryou sudah keluar dari mobil, ia siap menyebrang.


***


"Aoi, kalau bayinya perempuan mau di kasih nama apa?" tanya Fumie penasaran.


"Belum tau sih, aku masih nyari nih. Menurut kamu apa?"


"Shizuka bagus. Atau Aiko?" ucap Haruka memberikan sarannya.


"Terserah mas Makoto sih. Pasti pilihannya jauh lebih bagus. Kalian berdua kapan nikah?" pertanyaan inilah yang tak pernah Aoi lontarkan pada Fumie dan Haruka.


"Ha? E-ya gak tau. Calonnya aja belum ada," jawab Fumie merasa gugup.


"Aku masih fokus dulu sama kuliah sampai selesai. Menjadi penerus di kantor mama," jawab Haruka tak ada calon sama sekali.


"Oh, semoga kalian berdua mendapatkan laki-laki yang tepat."


TOK..TOK..TOK


"Aoi? Itu siapa yang ngetuk pintunya? Apa jangan-jangan mereka udah tau kita sembunyi disini?" Fumie beringsut memeluk lututnya.


"Jangan di bukain. Berbahaya, daripada kita kenapa-napa," Aoi mendekatkan dirinya dengan Haruka rasanya tak ingin jauh-jauh.

__ADS_1


"Apakah nona Aoi di dalam?" tanya Ryou.


"Itu kan Ryou. Akhirnya mereka datang. Dia itu bodyguard aku. Ayo, kita keluar darisini."


"Kalian siapa?"


"Oh, jadi Aoi bersembunyi disini?"


"Ada apalagi disana?" tanya Fumie takut.


"Kayaknya orang yang ngejar kita itu. Apa mereka sanggup ya melawannya?" Aoi tampak ragu, mengenai jumlah yang lebih besar di pastikan akan kalah.


"Pasti sanggup. Kita berdoa saja. Aoi, gelap. Senter kamu mati," Fumie paling takut dengan kegelapan.


"Bawa hp gak? Kan bisa pake itu aja sementara," usul Haruka.


"Bawa kok," Aoi menyalakan senter di hp-nya.


Sedangkan di luar, pertarungan saling baku hantam terjadi. Jumlah yang tak seimbang membuat Ryou kehabisan tenaganya meskipun teman-temannya ikut membantu.


"Jangan menyerah! Kalahkan mereka semua!" teriak Tsubasa menyemangati.


Demi Aoi. Akhirnya semangat mereka kembali bangkit, memukul tiada henti.


Sampai semuanya pun tumbang dan kalah.


Ryou dan yang lainnya memasuki gubuk itu. Menemukan Aoi dan sahabatnya yang terdiam. Mungkin masih syok dan takut.


"Ayo nona, kita pulang," ajak Ryou.


"Nanti biar Ryoto yang akan mengurusnya. Kalian tenang aja. Sekarang ayo pulang. Tak baik dan sangat berbahaya disini terus," Ryou sangat mengkhawatirkan Aoi.


***


Setelah kembali ke rumah, bi Idah menyiapkan teh hangat untuk Aoi.


"Apakah nona Aoi kedinginan?" tanya Ryou.


Aoi mendudukkan dirinya di sofa panjang.


"Iya, selama disana aku memang kedinginan. Aku juga gak tau kenapa ada orang-orang misterius itu. Apa kalian tau?" Aoi yakin pasti Ryou dengan cepat mengetahuinya tak perlu membutuhkan waktu yang lama.


"Ini nona, jaketnya. Itu adalah pemberian Tuan Makoto. Beliau berpesan agar nona memakainya jika merasa kedinginan," Tsubasa menyerahkan jaket merah muda dengan hiasan bulu-bulu hangat di leher.


"Terima kasih," Aoi menghirup aroma wanginya, ah jadi merindukan Makoto.


Bi Idah datang membawakan teh hangat untuk Aoi.


"Di minum nona. Biar tambah anget badannya," bi Idah meletakkan secangkir teh melati hangat itu di meja.


"Kenapa nona kabur? Apa nona ingin membahayakan diri di luar sana? Kami sangat mengkhawatirkan nona," ucap Nonomura.


"Jangan bilang ke mas Makoto. Yang ada aku tambah di marahi," Aoi berubah cemberut, biasanya para penjaganya itu selalu jujur dengan apa saja termasuk laporan tentang dirinya.

__ADS_1


"Baiklah nona. Kami tidak akan bilang asalkan nona jangan kabur lagi," akhirnya Ryou setuju.


Sedangkan di pinggir hutan, 15 orang berbaju hitam itu masih berkumpul. Mereka tak ada niatan pulang. Setelah kalah dari para bodyguard, mereka menyusun rencana kembali.


"Bos, kalau udah gagal gini mending nyerah deh. Penjaganya aja kuat gitu."


"Iya, bilang aja kalau kita udah kalah dari dia."


"Gak pulang? Udah tambah malem nih. Tuh kan, jam duabelas tepat. Kalau ada werewolf tiba-tiba muncul? Aku takutt," salah satunya meringkuk di belakang sang ketua.


"Heh! Lo itu cowok! Masa takut sama serigala. Mana ada disini hewan liar."


"Ayolah bos kita balik pulang. Mereka semua udah gak ada disini apalagi yang harus di cari?"


"Ok, pulang."


Akhirnya mereka pulang tanpa membawa Aoi melainkan tangan kosong dan kekalahan.


***


Kandungan Aoi semakin hari dan bertambahnya bulan membesar. Aoi tak bisa kemana-mana. Tapi Aoi memiliki niat untuk aktif bergerak dengan olahraga ringan di halaman belakang rumahnya.


Aoi menghela nafasnya, setelah olahraga ringan yang melelahkan, ia duduk sendirian dengan di temani secangkir matcha latte yang masih hangat.


"Kapan sih pulangnya? Apa udah lupa sama rumah?" gerutu Aoi mulai kesal.


"Katanya bentar, tapi apa? Hampir setahun gini masih aja betah disana. Apa jangan-jangan ada cewek yang lebih cantik dari aku?" pikiran Aoi yang negatif itu berkeliaran di otaknya.


"Karena aku udah hamil sampai di lupain gitu aja?"


"Bukan seperti itu nona."


Tiba-tiba Ryou datang dan berdiri di sebelah Aoi mengejutkan cewek itu.


"Kamu ini! Asal datang aja, kaget tau!" sungut Aoi kesal, jantungnya berdegup kencang.


"Maaf nona. Saya gak bermaksud mengagetkan nona," Ryou jadi merasa serba salah.


"Ada kabar baik untuk nona."


"Apa?"


"Tiga hari lagi-"


"Nona Aoi! Sarapannya udah siap!" suara teriakan bi Idah memotong ucapan Ryou.


"Aku makan dulu. Apa kamu juga sudah sarapan?"


"Nanti saja nona," karena yang terpenting nona makan dulu batinnya.


***


Indahnya sakura di pagi hari hai kamu jaga diri.

__ADS_1


4:39 sore.


See you-,


__ADS_2