Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
88. Sisi rapuh Aoi


__ADS_3

Aoi di rumah, selama Makoto di semayamkan ia tak ikut. Hikaru tidak tau, karena Karin hanya mengatakan bahwa Makoto masih bekerja sangat sibuk sebagai dalih bohong. Sangat tidak mungkin memberikan kabar duka ini pada Hikaru yang masih kecil dan tidak mengerti apa-apa.


Aoi berdiam diri di kamarnya yang penuh dengan kenangan. Beberapa barang Makoto masih ada. Dari foto, pakaian, dan yang paling utama adalah ponsel Makoto dengan wallpaper dirinya saat berada di Bali.


Tatapan Aoi kosong, matanya tak sanggup lagi untuk menangis. Ia benar-benar lelah. Tuhan memberikan cobaan terbesar ini, tak di sangka jika nasib pernikahannya berakhir duka.


Tok tok tok


"Masuk aja," sahut Aoi dari dalam. Karin melangkah memasuki kamar dengan membawakan nampan berisi makanan siang untuk Aoi.


Karin meletakkan nampan makanan itu di meja. Ia menghampiri Aoi yang duduk di tepian ranjang sambil memangku sebuah album foto pernikahan dengan koleksi yang bagus.


"Nak, kamu pasti kuat. Tuhan sedang mengujimu. Mama tau kalau kepergian suamimu itu sangat tidak terduga. Bahkan mama tau dari berita," Karin menatap Aoi, anaknya itu tak menggubris ucapannya. Tetap fokus memandangi beberapa potret foto yang di ambil saat pernikahan berlangsung.


"Kalau saja waktu bisa di putar kembali, aku lebih memilih untuk makan di rumah daripada harus ke restoran itu ma," rasanya kesal, tidak adil. Belum sempat Aoi berbicara sedikit pun dengan Makoto saat itu, dan terakhir suara tembakan.


"Jangan bersedih. Kamu harus makan juga, jaga kesehatan Aoi. Jangan sampai sakit, nanti Hikaru khawatir sama kamu," Karin mengambil nampan itu, kali ini ia akan menyuapi Aoi. "Ayo sekarang makan dulu ya? Hari ini kamu tidak makan apa-apa. Jangan biarkan perutmu kosong, gak baik."


Aoi mengangguk. "Iya ma," dengan senang hati Aoi menerima suapan dari sang mama. Suapan dan Makoto. Kenangan itu, terlintas sekejap di pikirannya. Padahal Makoto baru saja pulang dari luar kota kini pergi lagi tak akan pernah kembali.


***


Hikaru terus saja bertanya dimana Makoto. Ia tak bisa tidur meskupun jam 9 tepat. Aoi berusaha mengalihkan pikiran Hikaru dengan membacakan dongeng tentang putri salju dan cinderella.


Hikaru menggeleng, menutup buku dongeng yang di pegang oleh mamanya. "Aku gak mau dengerin dongeng ma. Seharusnya ayah yang bacain ini. Kok gak pulang? Ayah dimana? Sama siapa? Udah jam sembilan ma," guratan khawatir dan rasa cemas Hikaru itu ikut di rasakan juga oleh Aoi.


Aoi memaksakan senyumannya. "Sayang, ayo tidur. Besok kamu sekolah. Nanti kesiangan terus di hukum sama guru? Kamu mau hm?" Aoi berusaha membujuk Hikaru segera tidur. Karena begadang di malam hari tidak baik bagi kesehatan, hawa dingin yang menandakan segera memasuki musim salju.


Hikaru mengangguk. "Iya ma. Aku gak mau di hukum sama guru gara-gara kesiangan," tangannya menarik selimut membungkus tubuhnya, terasa hangat. Aoi memeluknya. Akhirnya perlahan terlelap.

__ADS_1


***


"Kamu mau pesan apa? Disini makanannya enak semua dan cocok buat kamu yang lagi kelaperan," tawar Makoto bertanya pada Aoi, tangannya memegang buku menu sangat teliti. Tak perlu mempermasalahkan harganya yang mahal, asalkan kenyang saja sudah cukup.


"Terserah kamu aja deh," Aoi tersenyum. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia karena bisa mengobrol lagi dengan Makoto.


Setelah seorang writers menulis pesanan-nya dan menunggu beberapa saat sampai makanannya datang. Aoi tidak mau makan, hanya berharap ingin di suapi oleh Makoto. Tapi suaminya itu tidak peka.


"Mas, suapin aku dong. Biar tambah romantis gitu," pinta Aoi merengek manja. Makoto terkekeh, akhirnya mau juga. Dengan telaten Makoto menyuapinya sampai makanan itu habis.


Makoto juga heran kenapa dengan Aoi yang selalu tersenyum. Apakah memang bahagia makan di restoran?


"Kamu kenapa senyum-senyum terus? Seneng ya makan bareng aku di restoran gini berdua? Udah lama juga gak kencan," seketika ucapannya itu membuat kedua pipi Aoi merona merah muda atau blushing. Istrinya sedang salah tingkah, ah tampak lucu dan menggemaskan. Tangan Makoto mencubit pipi dan hidung Aoi. Istrinya itu malah mengomel karena merasa sakit.


Aoi mengangguk antusias. "Seneng banget mas. Padahal kita kemarin makan disini itu kamu gak ngajak aku-" ucapan Aoi terhenti ketika objek utama Makoto menghilang. "Mas? Mas! Kamu kok pergi sih? Mas! Aku belum selesai ngomong! Mas-hiks hiks jangan bilang kalau ini mimpi," Aoi menangis, rasanya sangat sedih ketika bertemu orang yang paling di cintai lagi lalu pergi tanpa pamit. Kenapa Aoi bisa se-percaya ini dengan bunga tidur?


Tapi Aoi tidak menemukan jalan keluar dari mimpi. Hanya ruangan gelap tak ada sudut. Aoi berdiri mematung, langkahnya merasa lelah. Kalau pun disana ada yang membangunkannya.


***


"Mama, bangun. Ma," Hikaru mengguncang lengan sang mama.


Terik matahari yang menembus jendela kaca menunjukkan waktu pagi.


Merasakan tubuhnya di guncang, Aoi membuka matanya. Akhirnya mimpi itu selesai. Ia harap itu terakhir kalinya meksipun masih ingin berjumpa lagi dengan Makoto.


"Udah pagi ya? Ya ampun, seharusnya mama masak malah ketiduran," Aoi beranjak dari tidurnya, pasti semuanya sudah tersaji di meja makan.


"Ma, gak mandi dulu? Nanti mama ke ruang makan ya? Semuanya udah siap kok," ucapan Hikaru menghentikan langkah Aoi, menoleh dan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Iya sayang, lupa. Kamu kesana aja dulu ya?"


Hikaru mengangguk. "Iya ma."


Saat sarapan pagi, suasana makan terasa hening. Hanya dentingan garpu dan sendok yang beradu. Tak ada yang mau memulai pembicaraan.


Dulu, Makoto dan omah Ema yang membuat suasana menjadi ramai. Makoto dengan gombalan recehnya, dan omah Ema tak bisa berhenti mengobrol leluasa dengan Hikaru.


Tatapan mata Aoi kosong, hanya dua suap makan saja. Pikirannya melayang tentang segala kenangan yang tertinggal.


Karin yang menyadari itu faham. Pasti sangat menyakitkan kehilangan orang yang paling di cintai dan selalu ada di sisi Aoi.


"Mama, aku suapin aja ya? Mama makannya gak semangat," Hikaru mengambil alih sendok dan garpu dari tangan sang mama.


Namun Aoi menoleh, menatap wajah Makoto bukan Hikaru. Suaminya itu tersenyum, Aoi sangat bahagia. Ia tau ini hanyalah ilusi semata lalu perlahan hilang.


Senyum Aoi pudar, yang ia dapati wajah Hikaru.


'Mas, aku kangen. Semuanya pingin kamu kembali,' batin Aoi sangat sedih, inilah takdirnya. Merasaka kepahitan juga hidup sendirian tanpa kehadiran Makoto lagi.


***


Nikmati satu buku ku ini dengan 2 season ya.


Thank you udah baca. Love you se-kebun jagung deh.


11:09 siang.


See you-,

__ADS_1


__ADS_2