Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
61. Nakura hamil


__ADS_3

"Maaf, aku gak akan pernah bisa balikan sama kamu. Aku ini sudah memiliki suami," jawab Aoi tegas, meninggalkan yang tidak pasti akan lebih baik daripada sakit hati.


Ryuji mengangguk. "Iya, itu hak kamu. Aku pergi."


Aoi menatap kepergian Ryuji dengan hati yang bersalah.


***


Aoi membuka kulkasnya, kosong. Persediaan makanan sudah habis.


"Bi Idah! Bi! Udah beli persediaan bahan buat masak sama camilan belum?" Aoi meninggikan suaranya, bi Idah biasanya tak mendengar malah sibuk dengerin musik melalui handset.


Aoi menghela nafasnya, kemana lah bi Idah itu.


Aoi mencarinya di ruang tengah, bi Idah sedang duduk santai dan ketawa-ketiwi dengan poselnya jangan lupakan handset yang melekat di kedua telinganya.


Aoi menarik salah satu handset itu. "Bi Idah asyik banget ya? Kulkasnya gak di cek udah habis kosong gak ada apa-apa tuh," omel Aoi kesal.


Bi Idah hanya tersenyum kikuk. "Iya kah nona? Aduh lupa nih bibi. Ya udah ke minimarket dulu ya."


"Tunggu."


Bi Idah menoleh. "Kenapa nona? Apa beli camilannya banyak?"


Aoi menggeleng. "Belikan buah-buahan juga. Nanti aku mau menjenguk Nakura."


"Ok, siap nona!"


***


Fumie dan ibu tirinya saling diam dalam satu meja makan. Keduanya tak berani memulai pembicaraan.


"Kakamu sudah meninggal, apa yang kau minta dariku? Kalau uang aku tidak punya kamu lebih baik mengemis saja."


Fumie menggeleng. Bukan seperti itu caranya. "Aku bakalan kerja kok bu," Fumie sendiri merasa tidak yakin dengan ucapannya baru saja.


"Bagus lah kalau mau kerja. Kalau bisa kerja kantoran, jangan yang serabutan gak jelas. Ibu gak mau ya nerima gaji sedikit dari kamu sekali-kali gaji jutaan dong," ujarnya terdengar menuntut.


Uang. Fumie hanya ingin kasih sayang saja. Sejak kecil dirinya tak pernah mendapatkan perhatian atau kasih sayang dari ibu tirinya itu.


"Pasti bu," Fumie mengangguk. "Aku akan kerja kantoran, kempuan bahasa asingku pasti berguna."


"Ya udah sana cari aja sekarang. Jangan buang-buang waktu."


"Iya bu. Aku berangkat kerja dulu," Fumie berpamitan, kebiasannya adalah mencium kedua pipi ibu tirinya itu.


***


Haruka menuju fakultas bahasa, mencari Fumie mengambil kotak bekalnya yang masih di bawa Fumie.


Haruka mengintip dari ambang pintu kelas, matanya menelisik mencari keberadaan Fumie.


Tapi nihil.


Haruka bertanya pada cewek yang duduk paling depan.


"Fumie gak masuk kelas?"

__ADS_1


"Gak. Bentar lagi kelas di mulai, dosennya juga udah on the way kesini."


"Oh ya udah, makasih."


Haruka mengirimkan pesan menanyakan keberadaan Fumie dimana tapi cewek itu tidak online, Haruka mencoba telepon mungkin bisa di angkat.


Panggilan anda sedang di alihkan, silahkan tunggu.


Haruka berdecak kesal, pasti Fumie memiliki kesibukan lain.


"Sibuk apa sih sampai gak masuk kelas?" gerutunya kesal.


"Tupperware itu harus di balikin lagi. Kalau gak bisa kena omel mama. Nanti aja deh ke rumah Fumie."


***


Fumie menatap gedung kantor pajak itu. Hatinya yakin bekerja disana.


Fumie melangkahkan kakinya memasuki kantor pajak.


"Apa saya bisa bertemu dengan-"


"Maaf, anda harus membuat janji dulu."


"Apa saya boleh meminta nomornya?"


"Ini, apa anda sudah mengenal manager kami?"


Fumie mengangguk. "Saya mengenalnya. Saya permisi dulu."


"Sampai aku rela gak masuk kelas, gak apa-apa kalau demi kerja buat ibu aku sanggup kok," Fumie menyemangati dirinya.


***


Aoi memilih naik taksi saja, kemampuannya menyetir masih amatir.


"Rumah sakit Dazaifu pak."


"Baik mbak."


Di rumah sakit, Aoi menyapa Nakura dengan hangat. Cewek itu membalas senyumannya.


Nakura tampak lebih segar dari sebelumnya, bibir pucat itu tak lagi mengering sekarang lebih merah muda kembali dan fresh.


"Kapan kamu bisa pulang?" tanya Aoi berbasa-basi sebagai pembuka obrolan, rasanya masih kaku mengenal Nakura yang dulunya adalah sang musuh paling membenci dirinya.


Nakura menggeleng. "Aku gak tau tapi-" jeda sejenak, rasanya berat menyampaikan hal ini pada Aoi. Cewek itu pasti terkejut.


"Tapi kenapa?"


"Aku hamil Aoi. Dan usia kandunganku juga udah satu minggu. Aku gak nyangka," kedua mata Nakura berkaca-kaca siap meluncur sebuah tangisan air mata.


"Hamil?" tanya Aoi masih tak percaya.


"Anak siapa? Apa kamu pernah ke klub?


Nakura mengangguk. "Asalkan kamu tau Aoi, yang menolongku waktu itu adalah pak Makoto."

__ADS_1


"Oh, jadi kamu-"


"Dengerkan aku, bukan seperti itu. Pak Makoto hanya mengantarkan aku pulang, dia gak apa-apain aku," sela Nakura cepat sebelum terjadi sebuah kesalahpahaman.


Aoi terdiam, kenapa dirinya disini merasa paling bersalah? Ia memarahi Makoto tanpa mendengarkan penjelasannya dulu.


Ao menghubungi Makoto, mencoba meminta maaf.


"Halo?" Aoi senang akhirnya bisa mendengar suara itu yang di rindukannya berhari-hari.


"Kenapa telepon? Lagi kangen berat nih?" tanya Makoto di seberang sana menggoda.


"Maafin aku ya? Terntaya kamu pulang malam banget itu menolong Nakura yang lagi mabuk," cicit Aoi lirih. Entah reaksi suaminya itu heran atau kegeeran dan baper.


"Makannya kamu dengarkan penjelasan aku dulu. Gitu aja langsung ngambek."


"Iya ya ya ya tau. Kamu betah ya disana?" Aoi mengganti topik, mengobrol lebih lama dengan Makoto sangat ia harapkan atau setidaknya waktu di perlambat sedikit agar rindunya terobati.


"Gak betah kalau gak ada kamu."


Aoi hanya berkedip-kedip baper. 'Mas Makoto bisa aja. Gombalnya kok receh,' batinnya senang.


"Mas kapan pulang?"


"Belum tau Aoi, tapi kalau udah pulang nanti mas kabari. Udah dulu ya? Mau meeting nih. Bye bye aishiteru."


"Ciee di telepon sama suami nih? Aku jadi iri deh," goda Nakura mengedipkan matanya, Aoi tersipu malu.


"Apa sih Naku, kamu juga nanti bisa teleponan sama suami kamu."


"Aku aja gak tau ini anak dari siapa. Kalau saja aku tak perlu ke klub demi meminum alkohol untuk pelarian sebuah masalah, semuanya tak akan terjadi begitu cepat," Nakura menunduk, ia kembali sedih.


"Kamu masih ada hubungan sama Ryuji?" tanya Aoi hati-hati takut Nakura tak bisa menjawabnya mengenai sikap dingin Ryuji sekarang berubah 180 derajat jauh lebih berbeda.


Nakura mengangguk. "Ryuji belum bilang putus. Jadi aku sama dia masih pacaran. Tapi bukan seperti pasangan kekasih biasa, Ryuji menjauhiku karena mencelakaimu. Ryuji juga sudah memblokir semua akses agar aku tak bisa lagi menghubunginya," Nakura mencurahkan keluh kesahnya pada Aoi, satu-satunya orang yang peduli dengannya sampai saat ini.


"Kamu se-kesal itu padaku kenapa? Karena aku merebut Ryuji darimu?" tanya Aoi bingung, ia tau Nakura cinta mati dengan Ryuji.


Nakura mengangguk. "Iya, aku aja gak bisa meluluhkan hati Ryuji dengan mudahnya daripada kamu."


Aoi menghela nafasnya, ia harus meluruskan semua ini. Tujuan awalnya mendekati Ryuji sampai terjebak dengan cinta.


"Sebenarnya aku berpacaran dengan Ryuji karena tak ingin di jodohkan dengan mas Makoto. Awalnya Ryuji menolak, tapi ia menerimanya. Perhatiannya seperti seorang kekasih membuat hatiku baper. Kami selalu dekat, meskipun mas Makoto selalu menjadi penghalangnya karena merasa cemburu. Darisini kamu faham kan Naku? Dari awal aku gak ada perasaan sama Ryuji. Hanya saja aku terjebak dengan permainanku sendiri."


Nakura terkejut. "J-jadi kamu gak ganjen?"


Aoi menggeleng. "Maaf ya? Tapi sekarang aku menerima perjodohannya. Jatuh cinta juga sama mas Makoto," Aoi tersenyum malu-malu. Ternyata cinta tumbuh dengan sendirinya.


"Gak apa-apa. Yang penting sekarang aku tau alasanmu."


"Mau di kupasin gak apelnya?"


Nakura mengangguk. "Boleh banget."


***


Menatap langit sore dengan segudang ide yang mengalir tenang.

__ADS_1


4:13 sore


Sampai jumpa-,


__ADS_2