
Aoi bertopang dagu, setelah makan masakan dari Ryou, pikirannya berkelana entah kemana.
"Pingin banget camping sama Haruka dan Fumie. Kalau Nakura pasti lagi bulan madu gak bisa di ganggu," Aoi merasa bosan di rumah, tak ada yang bisa menemaninya ngobrol. Ryou? Ah, pemuda itu akan membuat hatinya baper lagi karena perhatiannya yang berlebihan.
Aoi celingak-celinguk memastikan keadaan sekitarnya aman. Tentu saja, dirinya berada di kamar. Para 4 pria itu menjaganya di luar pintu, lebih untung lagi kalau kamarnya kedap suara.
Aoi menelepon Haruka.
"Haru, kamu sama Fumie ada waktu sampai 3 hari gak? Aku pingin ngajak kamu sama Fumie camping, biar pernah," ucap Aoi ketika sudah terhubung dengan Haruka.
"Camping? Mau dong! Kapan lagi coba bica camping bertiga. Nanti aku bilangin ke Fumie deh. Mulai kapan nih?" rupanya Haruka sangat antusias dan senang.
"Nanti malem kita kumpul di e-gimana kalau promnade? Aku mau kabur diam-diam, semoga aja bodyguard ku itu gak tau kalau aku pergi. Bawa tenda, baju, makanan sama minuman terus obat kalau sakit. Ok?"
"Siap!"
Aoi mematikan sambungan teleponnya. Nanti malam, kabur diam-diam seperti pencuri yang berhasil membawa kabur barang berharga.
***
Malam harinya, Aoi melipat beberapa baju kesukaannya, di masukkan ke dalam tas besar yang di dalamnya juga menampung makanan ringan. Ada tas lagi khusus makanan pokok untuk sarapan nanti, dan 2 botol minuman berukuran besar.
Aoi tersenyum puas. "Kayaknya udah aku bawa semua deh. Eh, tapi ada yang kurang. Em-apa ya?" Aoi berpikir sejenak, mengingat barang yang terlupakan, siapa tau penting.
Aoi menepuk dahinya. "Power bank! Biar disana nanti bisa baca novel online sepuasnya. Haruka sama Fumie juga harus bawa, hehe masa iya di hutan pohonnya bisa buat cas hp?" Aoi terkekeh sendiri. Kamarnya sudah ia kunci, pria-pria cool itu tak mungkin masuk apalagi ketok pintu mengenai sekarang jam menunjukkan pukul 9 malam.
"Semuanya udah lengkap. Kabur lewat jendela, semoga berhasil," Aoi menyampirkan dua tasnya di bahu, se-berat rindu yang jauh disana.
Tap!
Akhirnya Aoi mendarat dengan sempurna tanpa menimbulkan suara apapun.
Aoi melihat gerbang depan, tak ada siapa-siapa disana.
"Hm, berarti gak ada yang jaga nih? Ok," Aoi kembali melanjutkan langkahnya dengan hati-hati.
Sedangkan Haruka, cewek itu berpamitan pada mamanya. Untuk sang ayah masih belum pulang dari kerjanya.
"Emangnya Aoi di bolehin camping sama orang tuanya?"
"Kalau sama aku dan Fumie, pasti di bolehin kok. Kan mereka udah kenal," untungnya Haruka mempunyai jawaban yang tepat, lain di ucapkan padahal Aoi pergi diam-diam.
"Oh, hati-hati ya? Jangan di tengah hutan, kalian itu cewek. Apalagi Aoi yang lagi hamil muda. Jaga baik-baik," pesan mamanya.
"Siap ma. Aku berangkat dulu ya?"
Haruka pergi dengan izin sang mama.
__ADS_1
Beralih ke Fumie, cewek itu berpamitan pada ibu tirinya. Yasmin mengizinkannya camping jika di temai Haruka dan Aoi.
"Jangan lama-lama, ibu kangen," itulah ucapan Yasmin ketika Fumie berada di ambang pintu.
Fumie menoleh, hatinya tersentuh dengan kata 'kangen' dari ibu tirinya.
'Akan jauh lebih bahagia lagi kalau yang bilang ibu kandungku,' batinnya.
Sedangkan Aoi baru saja sampai dengan taksi yang ia pesan. Promenade.
Aoi menelisik sekitar, mencari keberadaan Haruka dan Fumie.
"Kayaknya belum datang. Duduk disana aja deh, kakiku juga capek," Aoi berjalan menuju kursi panjang yang kosong, ada beberapa yang duduk berpasangan lagi kasmaran.
Tak jauh dari Aoi duduk, sekelompok orang berjubah hitam dengan topeng sebagai aksi penyamarannya.
"Mereka mau kemana malam-malam begini?"
"Tidak tau. Kita lihat saja, karena ini perintah dari bos Takeru. Siapa tau Nakura juga ikut."
"Kalau gak?"
"Ish! Ya masih untunglah! Mereka semua kan cantik-cantik."
Haruka datang dengan diantar supirnya.
Dengan berlari kecil Haruka menghampiri Aoi. Raut kebahagiannya terpancar, satu kali saja mengadakan camping mendadak dan di izinkan.
"Fumie aja nih yang belum datang?" tanya Haruka matanya menatap sekeliling, siapa tau Fumie sudah muncul.
Aoi mengangguk. "Tunggu aja. Sebentar lagi pasti datang."
Fumie mengatur nafasnya, berlari dengan sekuat tenaganya karena ojek yang ia tumpangi itu mogok di tengah jalan.
Fumie tersenyum akhirnya sampai juga di promenade. Matanya menelisik mencari Aoi ataupun Haruka.
"Itu Fumie!" Ao menunjuk Fumie yang melambai dengan senyuman cantiknya. Ah, cewek itu memang kalem. Sayangnya Fumie memilih sendiri daripada sibuk dengan seorang kekasih.
"Fumie!" Aoi dan Haruka kompak memanggil Fumie.
"Itu mereka!" Fumie berlari kecil, rasanya tak sabar menanti camping. Entah dimana ia tak tau, yang pastinya hanya Aoi merencanakan tempatnya.
"Semuanya lengkap kan? Apalagi powerbank," tanya Aoi sekedar memastikan saja. "Kalau ada yang ketinggalan gak bisa di ambil, keburu malem aja. Aku udah pesan taksi, bentar lagi datang."
Tak lama kemudian taksi yang di tunggu-tunggu datang.
Selama perjalanan, Haruka membawa buku cerita hantu creepypasta untuk di jadikan pengantar tidur nantinya.
__ADS_1
"Haruka! Aku gak suka cerita hantu, bikin mimpi buruk aja ah," ujar Fumie kesal.
Haruka terkekeh. "Makannya baca doa dulu sebelum tidur. Minta perlindungan sama Tuhan."
"Ini semuanya mau camping di hutan gitu?" tanya sang supir taksi.
Aoi mengangguk. "Benar pak."
"Kenapa datangnya pas malam? Gak bisa pagi atau sore?" sang supir taksi merasa heran saja.
"Karena tempat yang kami sewa kosong untuk malam ini. Kemarin rame pak," ya, Aoi sendiri lah yang sudah membooking hutan itu duluan sebelum di ambil alih orang lain.
Selama 2 jam perjalanan itulah akhirnya mereka sampai di sebuag hutan yang tak terlalu gelap karena ada lampu jalanan yang sinarnya menembus pohon-pohon yang rindang.
"Makasih ya mbak. Semoga lancar campingnya," ujar sang supir setelah menerima uang dari Aoi.
"Sama-sama pak. Yuk, kita bangun tenda dulu."
Sampai di tujuan yang sama, dengan segerombol orang misterius berjubah hitam. Ya, mereka mengikuti Aoi kemanapun cewek itu pergi.
"Apa kita beraksi sekarang?"
"Jangan dulu, biarkan saja mereka bersenang-senang. Lalu kita serang rame-rame."
"Seriusan cuman mereka bertiga? Kirain ada cowoknya gitu."
"Nakura gak ikut, tapi gak apa-apa. Yang penting mereka bertiga bakal ketakutan."
"Setuju banget bos. Daripada di serang rame-rame mending bawa pulang bos. Jadiin mantu."
"Sadar diri lo! Masa suka sama anak kecil sih?"
"Ya gak apa-apalah bos, udah cantik terus body-nya pas."
"Kalian malah ribut masalah cewek, pantau terus dong. Kita serang itu pas mereka lagi tidur. Sekarang masih asyik bakar-bakar jagung."
"Masih lama ah. Duduk dulu napa bos, capek nih kakinya daritadi berdiri terus."
"Ya deh iya. Jangan berisik."
"Siap bos."
***
Akan merindu dalam semalam tanpa canda tawamu.
3:04 sore
__ADS_1
See you-,