Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
46. Hanya kamu


__ADS_3

Selesai makan, Makoto mengajak Aoi ke pantai.


"Liat sunset kan? Jangan lupa bawa hpku! Ambilin di tas ya?" pinta Aoi, ia tengah mager kakinya masih pegal.


Makoto mengangguk.


Di kamar, Makoto suka dengan harum jeruk khas Aoi.


Makoto ingin tau dengan siapa saja Aoi berbalas chat.


Ting!


Ryuji mantanku


Padahal hari ini aku pingin ngajak ketemu sama kamu Aoi. Tapi lain waktu aja, kan kamu lagi liburan.


04:15 pm


Makoto memblokir nomor Ryuji, apa cowok itu tidak tau kalau Aoi sudah menikah dengannya?


Aoi menggerutu kesal. "Lama banget sih? Apa jangan-jangan dia kepo sama chatku?"


Aoi berlari menuju kamarnya, Makoto masih serius dengan ponselnya.


Dengan cepat Aoi merebutnya. "Awas aja ya kalau buka isi chatku. Emangnya mencurigakan apa?"


Makoto menggeleng. "Ayo, nanti keburu malem sayang."


***


Disinilah Aoi dan Makoto, menunggu sunset.


Keduanya sama-sama canggung, tidak tau harus membuka topik pembicaraan darimana.


"Kamu jangan chat dia lagi. Bilang, kalau kamu itu istrinya Makoto Anekawa. Setidaknya jaga perasaanku ini Aoi," ujar Makoto dingin, ia seperti menahan amarah.


Aoi mengernyit bingung. "Maksud kamu? Ryuji?"


"Kalau bisa aku belikan nomor baru sekarang juga. Daripada chat mantan kamu yang gak bisa move on itu," jawab Makoto menatap lurus, kalau sudah menyangkut mantan ia malas melihat Aoi.


"Jangan. Aku sama Ryuji kan balas chat aja gak lebih," sanggah Aoi cepat.


"Kalau kamu masih chat sama Ryuji. Biar hp kamu yang aku pegang. Salah sendiri gak mau nurut," ucap Makoto memberikan ancaman.


Aoi berdecak kesal. "Iya aku janji gak akan chat Ryuji lagi," asalkan gak menyita hp ku aja lanjut Aoi dalam hati.


Keduanya sama-sama terdiam menyaksikan sunset indah dengan mata kepala pundak dan kaki.


"Aoi?" panggil Makoto lirih bahkan terdengar seperti bisikan.


Aoi saja sampai merinding mendengar itu.

__ADS_1


"Iya?"


"Mulai sekarang, terima aku di hatimu ya? Lupain Ryuji sama Aldebaran. Mereka berdua itu gak penting," tegas Makoto tak mau tau.


Aoi tak bisa menjawabnya, karena pilihan dari hatinya itulah yang terbaik.


"Selama kamu di kampus nanti, aku bakal selalu ada di dekatmu kemana pun itu," sifat possesive Makoto mulai kumat lagi, Aoi harus di jaga mata jaga hati kan?


'Jadi gini punya suami yang gak bolehin istrinya deket sama cowok?' batin Aoi sepenuhnya kesal.


Makoto tersenyum miring


"Daripada liatin aku terus, kamu foto aja. Ayo, foto bareng," Makoto membantu Aoi berdiri. Membelakangi sunset.


1


2


3


Cekrek.


"Aku maunya foto sendiri. Cepetan fotoin!" Aoi merasa gugup jika sangat dekat dengan Makoto.


"Senyum ya? Jangan cemberut biar manisnya nambah," Makoto bersiap memotret Aoi.


"Iya," Aoi menarik sudut bibirnya membentuk senyum seindah bulan sabit.


"Oh ya Aoi, tunggu disini ya? Aku gak lama kok," Makoto melangkah pergi.


Setelah beberapa menit, Makoto datang dengan membawakan 2 es krim rasa coklat dan vanilla.


"Nih," Makoto memberikan es krim rasa vanilla, ia tau Aoi tidak suka dengan coklat karena manisnya kebangetan kayak kamu.


Aoi tersenyum. "Wah, makasih ya? Tau banget kalau lagi pingin es krim," Aoi menikmati rasa manisnya es krim yang sama manisnya dengan janji dan gombalmu.


Makoto mengangguk. "Kembali kasih dan sama-sama. Daripada yang coklat, aku pernah di marahin waktu itu soalnya takut kamu sakit gigi."


Aoi terkekeh. "Maaf, aku pernah sakit gigi pas masih umur 5 tahunan. Mau tidur lupa gosok gigi habis makan coklat bon-bon."


Keduanya tak sadar sudah sangat dekat dan sehati, bisa saja kedekatan ini akan selamanya sampai nanti. Semoga.


***


Aoi menghela nafasnya, ponselnya di sita Makoto. Ia hanya duduk memandangi alam yang asri.


Aoi menoleh ke kiri, Makoto sibuk dengan laptopnya. Sesibuk apa sih sampai dirinya di abaikan?


Lama-lama Aoi kesal tak ada teman bicara, langkahnya menghampiri Makoto.


"Sibuk apa? Kerjaan? Katanya kesini liburan," rengek Aoi memang sudah kesal.

__ADS_1


"Aku cuman ngecek aja Aoi, kalau udah selesai liburannya aku kembali sibuk sama pekerjaanku. Kamu tau kan? Selain aku jadi dosen di kampusmu, aku juga bantuin ayah di kantor."


"Jangan sibuk terus. Aku bosen," tapi lain dengan yang di ucapkannya, di hatinya ia ingin Makoto itu bisa romantis daripada berpacaran dengan laptop itu.


Ponsel Makoto berdering, telepon dari ayah.


"Apa yah? Kenapa bisa bangkrut?"


"Aku gak bisa kesana yah," Makoto mementingkan Aoi, dan liburan bulan madu ini.


"Nanti aku bilang ke Tuan Amschel biar ayah bisa di bantu buat stabilin kantor," Makoto menutup sambungan teleponnya.


"Kenapa kamu gak kesana? Kantor kamu kan lagi bangkrut. Atau kita pulang aja?"


Makoto menggeleng. Tangannya memegang kedua bahu Aoi. "Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengamu Aoi. Karena kamu jauh lebih penting dari segalanya, itulah cintaku yang masih kau ragukan hingga saat ini."


Hati Aoi merasa bersalah, benarkah sebesar itu cinta Makoto untuknya?


"Bagaimana pun keadannya, aku akan selalu ada di samping kamu Aoi," Makoto memeluk Aoi, pelukan rindu juga sayang.


Aoi hanya membeku dan terdiam mendengar pernyataan jujur Makoto. Apa ia sudah jahat mengabaikan satu cinta yang begitu besar dan tulus tanpa ada perasaan yang terbalas?


"Kalau aku membalas cintamu?"


Makoto melepaskan pelukannya.


"Aku akan sangat bahagia jika kamu sudah mencintaiku. Dan aku akan selalu disini, seperti jantung dan paru-paru yang menyatu tak bisa terpisahkan sampai kapan pun."


Mendengarnya saja hati Aoi terharu.


***


Aoi dan Makoto duduk di halaman villa melihat taburan bintang di langit yang hitam saat malam.


"Kamu itu langitnya, aku bintangnya. Yang selalu bersinar menerangimu, gombal gak kalau gini?"


Aoi menggeleng. "Tapi sebuah perumpaan. Kamu pikir bintang bakal selalu bersinar menemani langit? Kalau pagi aja sama matahari, gak adil lah bintang menemani langit malam aja," sungut Aoi kesal.


"Iya deh aku juga jadi matahari biar bisa menemani kamu kapan pun mau pagi atau malam aku selalu ada. Duh dingin nih," Makoto hanya melempar kode minta di peluk, entah Aoi peka atau tidak.


"Salah sendiri gak pakai jaket rasain tuh angin malam biar kedinginan," ketusnya, Aoi tau kalau Makoto ingin di peluk.


"Sekali-kali dong kamu nurut sama aku. Ya? Peluk aja kok sini," Makoto menarik Aoi dalam dekapannya, aroma sampo jeruk kesukaan Aoi membuat pikiran dan hatinya tenang.


"Janji ya selalu ada buat aku?" Aoi mendongak menatap Makoto, cahaya rembulan membiaskan ketampanan Makoto. Apalagi tatapan teduh itu membuat Aoi langsung aku terpesona.


Makoto mengangguk. "Janji," Makoto mengecup dahi Aoi beberapa detik, ia sangat menyayangi istrinya itu sampai kapan pun dan selamanya.


***


Terharu nulis part ini, sedih juga seneng karena di cintai lelaki setulus Makoto.

__ADS_1


5:05 pm


Sampai jumpa lagi-,


__ADS_2