
Karin tersenyum senang, Aoi pulang. Tentu saja dengan Makoto.
"Jadi kamu bangun pagi-pagi mau jalan berdua sama Makoto ya?"
Aoi duduk di sebelah sang mama. Apa? Jalan berdua?
"Gak kok ma. Kan aku mau-"
"Iya, Aoi kangen sama aku. Jalan berdua sebagai obat rindu aja kok, ya kan Aoi?" sela Makoto cepat, kalau beneran kangen hatinya baper tak karuan, tapi rasanya mustahil mengenai hati Aoi masih stand by dengan Ryuji.
"Apa itu benar? Wah udah kangen aja. Makoto, yuk makan bareng-bareng. Mas Amschel sendiri loh yang masak. Jangan nolak, nanti dia galak," Karin sangat senang hari ini, apalagi Makoto bisa makn bersama. Semakin dekat dan akrab.
Makoto mengangguk. "Aku juga pingin ngobrol sama ayah. Lebih asik aja daripada ayahku yang kadang-kadang susah buat ketawa," Makoto mulai bercerita tentang keluarganya.
Aoi berdecak kesal. "Gak usah makan aja deh," Aoi melangkah memasuki kamarnya, yang ada sang mama lebih banyak berbincang dengan Makoto, dirinya di abaikan.
Di ruang makan, Amschel, Karin dan Makoto sudah berkumpul.
"Loh, Aoi kemana?" tanya Karin heran, seingatnya tadi Aoi berada di belakang Makoto.
"Istirahat mungkin, Aoi kelelahan habis dari rumah Haruka belajar bareng," jawab Makoto pengertian.
"Owalah gitu, ya udah di makan dulu. Bi Idah! Bi Idah!"
Bi Idah datang dengan tergopoh-gopoh. "Iya nyonya? Apa makanannya kurang?"
"Antarkan makanan Aoi ke kamarnya ya? Jangan sampai telat makan, saya gak mau lambungnya kambuh lagi," Karin selalu memantau pola makan Aoi, dari sayuran, daging sampai kacang-kacangan. Anggap saja 4 sehat 5 sempurna.
Bi Idah mengangguk. "Baik nyonya."
Di kamar, Aoi menggerutu kesal. Lebih baik ia tak pergi ke rumah Haruka daripada bertemu Makoto yang akhirnya bisa makan bersama.
Tok tok tok.
"Nona Aoi? Apakah saya boleh masuk?" tanya bi Idah dari luar pintu kamar Aoi.
"Iya masuk aja bi."
Bi Idah tersenyum. "Ini makanannya nona, nyonya gak mau nona Aoi sakit. Saya taruh disini ya? Jangan lupa di habiskan. Oh ya, di bawah ada tuan Makoto. Kenapa nona gak ikut makan bareng-bareng aja?"
Aoi menghela nafasnya. Ikut makan bersama? Yang ada sang ayah dan mamanya selalu mencomblangkan dan mencocokkan dengan Makoto.
"Aku lagi capek, mau tidur. Kamu pergi saja," Aoi ingin sehari saja tanpa ada nama Makoto.
Bi Idah membungkukkan badannya. "Baik nona."
Sedangkan di ruang makan, Karin berbisik lirik pada Amschel.
"Aku mau ngomong hal penting, tapi gak disini. Ayo," Karin memiliki ide cemerlang, dan ini ada hubungannya dengan Aoi dan Makoto.
Amschel mengangguk. Pasti ada hal penting.
__ADS_1
"Sebentar ya nak Makoto, gak lama kok. Habisin aja makanannya, hehe daripada mubadzir," Karin tersenyum kikuk.
Makoto hanya mengernyit heran.
Karin mengajak Amschel mengobrol di teras rumah.
"Tau gak yah? A-"
"Gak ma, emang aku bisa nebak?" sela Amschel cepat.
"Dengerin dulu. Kenapa Aoi sekarang kok menjauh gitu sama Makoto? Apa hubungan mereka gak baik?"
Amschel mengedikkan bahu. "Gak tau sih kalau itu ma. Memangnya akhir-akhir ini begitu?"
Karin mengangguk. "Pertunangan mereka semakin dekat. Seharusnya Makoto dan Aoi saling mengerti dan akrab. Tapi tenang aja yah, aku tau caranya bagaimana," Karin mengembangkan senyumnya. Pasti akan berhasil.
"Apa?"
"Makoto quality time dengan Aoi. Entah jalan-jalan kemana, asalkan mereka bisa ngobrol dan terbuka satu sama lain. Setuju kan yah?"
Amschel mengangguk. "Setuju! Ya udah, bilang aja sama Makoto. Aku yang akan panggil Aoi di kamar."
Karin menghampiri Makoto yang masih fokus makan.
"Bisa gak kalau nanti malam sama besok itu quality time dengan Aoi?" pinta Karin hati-hati, bisa saja Makoto memiliki kesibukan lain.
Makoto mengangguk. "Tentu bisa. Saya akan izin pada ayah dulu biar gak mendadak pulang urusan kerja."
"Terima kasih ya?" Karin merasa senang, dengan begini Aoi semakin dekat dan serasi.
"Aoi sayang. Bangun, princess ayah jam segini kok tidur. Ini masih pagi Aoi, jam sepuluh. Aoi Aoi bangun nak," Amschel mencubit lagi hidung Aoi, cara terampuh agar putrinya itu bangun.
Aoi menggeliat. "Apa yah? Aku ngantuk. Capek habis belajar tadi. Aku butuh istirahat," Aoi tau mengapa ayahnya membangunkannya, alasannya pasti Makoto lagi.
"Makoto ingin jalan-jalan sama kamu sekarang," Amschel tak mau tau, waktu sekarang lebih baik daripada nanti.
Aoi beranjak dari kasurnya. "Sekarang? Emang kemana yah?"
"Udah, ikut aja. Kayaknya ngajak kamu jalan-jalan ke tempat indah. Pasti suka."
Di ruang makan, Amschel berpesan agar Aoi di jaga baik-baik.
Awalnya Makoto terkejut kalau quality time itu sekarang, tapi ini perintah Tuan Amschel.
"Iya, pasti yah. Tapi Aoi harus makan dulu. Kemarilah Aoi, aku suapi kamu," lumayan modus sedikit, Aoi tak akan menolaknya karena ada kedua orang tuanya.
Dengan langkah malas, Aoi duduk di sebelah Makoto.
Karin ikut senang, Makoto bisa romantis juga.
"Bukannya tadi bi Idah nganterin makanan ya? Udah di makan? Apa mau yang hangat?"
__ADS_1
Aoi menggeleng. "Gak perlu kok ma. Aku-emm" Aoi terpaksa menerima suapan pertama dari Makoto.
Amschel dan Karin tertawa melihat kedua insan yang satunya perhatian dan Aoi bawel.
"Kalian sangat cocok. Ayah gak salah menjodohkanmu dengan Makoto," Amschel tersenyum, pilihannya akan selalu tepat. Makoto adalah pria terbaik untuk Aoi.
'Salah. Ayah salah menjodohkan aku dengan Makoto. Ayah gak tau kalau aku mustahil jatuh cinta sama dia. Ayah gak adil!' jerit Aoi dalam hatinya.
***
Pertama, Makoto mengajaknya ke mall. Aoi hanya membeli beberapa tas LV dan G sebagai tambahan koleksi. Lalu kaos, dan sepatu. Terakhir make up. Semua biaya di tanggung Makoto.
Kedua, Aoi di ajak ke amusement park. Menaiki beberapa wahana, menonton bioskop dan membeli pop corn. Sangat menyenangkan, bahkan disini yang ketakutan adalah Makoto. Ia mual-mual, juga pusing. Aoi memijat pelipis Makoto, mengajaknya duduk sebentar sampai keadaan Makoto membaik.
Ketiga, adalah pantai. Aoi kagum dengan pemandangan sunrise yang cantik dengan langit merah muda merona.
"Suka?" Makoto menatap Aoi. Wajah ovalnya yang membias indah karena sinar senja semakin menambah kesan ayu.
Aoi mengangguk. "Suka. Fotoin aku ya?"
"Oke. Tapi kamu senyum ya? Jangan cemberut nanti hasilnya jelek hehe," Makoto mulai siap dengan kamera ponsel Aoi.
Cekrek.
"Lagi dong. Aku mau yang foto siluet aja. Cepetan!"
"Iya sabar."
Cekrek.
"Mana liat?"
Aoi merekahkan senyumnya. Hasil yang sempurna.
"Kamu gak foto juga?"
"Fotonya bareng sama kamu aja ya?"
"Oke. Ayo liat kamera, jangan liat aku ya," Aoi menatap Makoto sengit, dasar modus memang.
Cekrek.
"Kalau bisa, kamu jadikan wallpaper aja. Kirimkan ke whatssapp ku. Biar kita sama-sama pakai foto itu. Jadi kalau kangen liat fotonya aja."
"Iya deh. Nanti aku kirim. Yuk pulang, jangan kemaleman nanti ayah marah," meskipun dengan Makoto, tapi ayahnya itu harus bisa pulang tepat waktu.
Quality time yang tidak buruk apalagi canggung. Aoi sedikit terbuka dan ramah dengan Makoto meskipun kadang kesal dan was-was kalau pria itu modus sewaktu-waktu.
***
Penulis yang pijetin jarinya karena pegel ngetik seharian.
__ADS_1
Semoga kuat deh tangan ini buat ngetik.
See you tomorrow-,