
Kenriki dan Fukuie mengecek rumah kosong itu.
"Jangan sampai dia lolos!" gertak Fukuie pada rekan-rekannya yang lain.
Setelah di lakukan pencarian semua ruangan, tak di temukan siapa-siapa. Hanya botol minuman dan bekas kemasan makanan ringan.
Kenriki menghampiri Fukuie. "Tidak di temukan siapapun disini. Sepertinya dia kabur."
"Ayo kita harus bergerak lebih cepat. Semuanya! Kita kembali berpencar!" teriak Fukuie lantang.
***
Takeru duduk dengan tenang, akhirnya ia bisa lolos dari kejaran polisi. Bersama anak buahnya yang kini menikmati satu loyang pizza dengan lahapnya.
"Gila! Tadi kita hampir ketangkap loh. Tapi bos nyuruh kita pindah kesini. Nyewa kos-kosan lagi," ujar si pria berambut gondrong.
"Makannya bos, kalau udah tau ada suara mobil polisi langsung kabur. Bukannya malah sana cek dulu, keburu di tangkap ah," celetuk yang lain ikut kesal. Tapi hampir saja.
Semuanya tergelak.
"Hahaha, panik gak? Iya lah masa gak."
Takeru mendengus kesal, semua pengikutnya sudah stress.
"Udah jelekin gue? Terus aja sampe puas. Jangan sembunyi disini, keluar sana biar di tangkep polisi tau rasa kalian semuanya!" Takeru menyumpahi pengikutnya dengan wajah masam.
"Gitu aja marah bos. Bercanda doang jangan baperan."
"Emang gue cewek?" tanya Takeru sewot.
"Sellow bos, lagian ngapain sih ke wedding chapel? Terus kenapa berkhianat sama Ryuji?"
Takeru terdiam, untuk alasan itu tak perlu di ketahui oleh mereka. Jika tau, dirinyalah dalam bahaya.
"Kalian gak usah kepo. Yang penting turuti perintah gue dan gaji uangnya gue transfer," tegas Takeru.
"Iya lah bos. Kalau ada uang, semuanya bakalan selesai secepatnya."
"Intinya kalian jangan keluar dulu sampai keadaannya aman. Buat makanannya pesan di Gelay Food aja daripada susah masak," ujar Takeru. Demi aman dari kejaran para polisi itu.
"Tapi bos kan yang bayarin?"
"Gak ngutang kan bos?"
Takeru berdecak kesal. Kenapa mereka meragukannya?
__ADS_1
"Iyalah, gue yang bayarin kalian semuanya."
"Wah bos makasih banyak."
"Di habisin pizzanya, jangan buang-buang makanan. Gue udah beli mahal-mahal," ketus Takeru kesal, biasanya mereka selalu alasannya kenyang karena di gombalin.
***
Sedangkan Nakura, saat ini ia berada di rumahnya dengan Ryuji. Aoi dan yang lainnya sudah pulang beberapa menit yang lalu.
Nakura menatap pantulan dirinya di cermin. Kejadian itu membuat hatinya syok.
"Kamu jangan main-main sama samurai dong," Nakura menatap Ryuji kesal, suaminya itu duduk di ranjang.
"Main-main? Kalau mereka bakal mencelakai aku sama kamu gimana?" Ryuji balik bertanya, ia hanya tak ingin Nakura celaka.
"Apa udah di tangkap ya? Aku takut kalau mereka masih berkeliaran dan mencelakai kita lagi."
"Kamu tenang aja, pasti polisi itu akan mencarinya sampai ketemu. Kamu istirahat aja ya? Aku laper, pingin makan."
"Ikut, aku...takut," meskipun di rumah sendiri, Nakura tak ingin jauh-jauh dari Ryuji.
Di rumah Aoi, ia hanya duduk termenung. Kejadian itu masih terngiang-ngiang di otaknya.
Tsubasa mengedikkan bahunya. "Mungkin nona Aoi sedang memikirkan sesuatu."
"Galau karena tuan Makoto gak pulang-pulang?" tanya Ryou heran.
Nonomura menggeleng. "Gak, berhari-hari juga nona Aoi gak merasa sedih dengan kepergian tuan Makoto."
"Aku mendengar kabar bahwa di wedding chapel ada kekacauan. Untungnya nona Aoi bisa selamat," ujar Ryoto setelah menerima laporan dari ponselnya.
"Apakah ada penyusup?" tanya Nonomura.
Ryoto mengangguk. "Dan ada sekitar 5 orang. Salah satunya membawa revolver, siap melepas pelurunya tapi semua itu gagal karena polisi sudah datang. Pernikahan sudah selesai dengan khidmat lalu datanglah mereka dengan melepas tembakan sebanyak tiga kali," jelas Ryoto sangat rinci.
"Nona Aoi bersembunyi di bawah kursi. Semua para tamu undangan kabur menyelamatkan diri. Penyebab penyerangan ini adalah-"
Aoi yang mendengar grasak-grusuk gosip para bodyguard-nya pun penasaran. Ia melangkah dengan hati-hati menguping ingin tau apa yang di sampaikan mereka.
"Karena salah satu dari mereka itu menyimpan perasaan cinta pada pengantin wanitanya. Dia tak terima jika wanita yang di cintainya menikah dengan pria lain. Makannya dengan melancarkan aksi penyerangan penembakan untuk membunuh pengantin pria," jelas Ryoto, informasi begitu akurat ia dapatkan dari CCTV yang merekam dengan pemasang suara. Semuanya terdengar begitu jelas meskipun Ryoto harus menyuruh temannya memutar ulang beberapa kali untuk mendengarkan ucapannya dengan cermat.
Aoi terbelalak. Benarkah?
"Aku kira gak ada yang cinta sama Nakura selain Ryuji. Tapi, ternyata ada. Aku harus kasih tau Nakura, siapa tau Nakura kenal sama orang itu," Aoi melangkah menjauh dari para bodyguard-nya, saatnya menelpon Nakura.
__ADS_1
"Nakura, kamu harus tau!" Aoi langsung heboh ketika teleponnya tersambung dengan Nakura.
"Ha? Tau apa? Jangan bikin aku kaget dong."
"Ternyata orang yang mau nembak Ryuji itu suka sama kamu. Dia cinta sama kamu. Dia gak rela kamu nikah dengan Ryuji. Makannya nekat melakukan itu," jelas Aoi setengah panik.
"Ya ampun, ya Tuhan. Jujur ya Aoi, sejak sekolah dulu gak pernah tuh ada yang suka sama aku. Mereka semua menganggap aku teman, gak lebih. Tapi kalau yang ini aku benar-benar gak tau dia siapa. Ha? Eh iya sayang, udah dulu ya? Ryuji minta di pijetin tuh." Nakura menutup sambungan teleponnya.
Aoi mengangguk. Ternyata Nakura tidak tau sosok itu.
"Nona Aoi?" suara Ryou itu mengejutkan Aoi.
"Kenapa nona di dekat kolam renang? Apa nona mau berenang?" tanya Ryou ramah, jangan lupakan senyuman manisnya. Aoi di buat aku terpesona, tapi buru-buru ia sadar karena ingat Makoto.
"Eh? Aku gak bisa berenang. Takut kedinginan sama pilek. Aku hanya duduk mencari udara sejuk. Kenapa kamu kesini?" Aoi heran dengan sikap Ryou, salah satu bodyguard yang paling dekat dengan dirinya.
"Mereka mencari nona, kirain keluar. Makannya saya kesini," Ryou tetap berdiri, tak ada niatan untuk duduk karena ia tau Aoi adalah istri Tuan Makoto.
'Nona sungguh cantik, Tuan Makoto sangat beruntung bisa mendapatkan nona. Andai saja nona masih single, aku pasti melamar nona,' batin Ryou, paras cantik Aoi itulah yang membuat hatinya kagum akan kecantikan majikannya itu.
Merasa di tatap lekat oleh Ryou, tentu membuat Aoi salah tingkah.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
Ryou tersadar dari lamunannya. "Tidak, nona selalu cantik. Bagaimana dengan kondisi calon bayi nona?"
"Puji Tuhan, calon bayiku sehat kok. Semoga aja nanti di berikan kelancaran saat melahirkan."
"Amin."
Suara gemuruh petir dan awan yang mendung. Aoi berdecak kesal, kalau begini terpaksa ia masuk ke dalam dan di awasi lagi dengan bodyguard-nya.
"Sepertinya mau hujan, nona masuk ke dalam saja. Aku akan buatin teh hangat untuk nona."
Ah, Ryou begitu baik. Aoi suka dengan perhatiannya.
"Terima kasih."
***
Tak mengerjap melihat sebongkah emas penghargaannya.
8:41 malam
See you-,
__ADS_1