Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
64. Sabarlah


__ADS_3

Ponsel Aoi berdering, pagi-pagi seperti ini entah siapa yang berani mengganggu tidur nyenyaknya.


"Siapa sih yang telepon? Ganggu banget," Aoi mengipitkan matanya, mas Makoto?


"Mas? Hallo? Kenapa jarang telepon? Aku kangen tau," ucap Aoi merajuk.


Terdengar kekehan yang membuat Aoi semakin kesal.


"Kok ketawa sih mas? Gak lucu!"


"Maaf, banyak banget yang harus di selesaikan Aoi. Dan sekarang aku baru aja selesai meeting. Lagi kangen,makannya telepon."


Aoi menyunggingkan senyumnya, kalau sudah bilang kangen amarahnya hilang entah dimana.


"Kapan sih mas pulang? Di rumah sepi. Bi Idah nonton tv terus, aku juga jarang keluar rumah kalau gak sama Haruka, Fumie dan Nakura," raut wajah Aoi sedih, biasanya ramai dengan candaan dari mama dan ayahnya, Makoto hanya tersenyum biasa sangat mustahil pria berkacamata itu tertawa lepas.


"Nakura?" tanya Makoto setengah tak percaya. Nakura itu sangat membenci Aoi.


"Tenang aja mas, sekarang Nakura udah jadi orang yang lebih baik. Dia juga minta maaf sama aku. Nakura baikk banget, kalau ada apa-apa aku selalu minta tolong sama dia," jelas Aoi dengan hati yang ceria.


"Tapi kamu harus hati-hati juga. Jangan mudah percaya gitu aja sama Nakura. Oh ya, besok aku bakal kirim pengawal buat kamu. Biar aman dan gak kenapa-napa. Udah dulu ya? Love you," Makoto menutup sambungan teleponnya.


"Ck, aku masih kangen malah di matiin," Aoi menghela nafasnya. Mengobrol sekian detik saja tak cukup untuk membayar rasa rindunya.


"Kalau ada pengawal, pasti aku gak di bolehin kemana-mana. Aku masih bisa jaga diri," ingin Aoi katakan keluhannya itu pada Makoto, tapi suaminya itu super sibuk dengan pekerjaannya.


"Tapi bagus juga sih, aku jadi aman gak bakalan ada yang ganggu. Jadi gak sabar bisa di kawal," Aoi tersenyum tipis.


***


Bi Idah mengetuk pintu kamar Aoi, sudah jam 8 pagi tapi majikannya itu tak mau bangun dari mimpi halu.


"Nona Aoi? Nona? Sudah pagi mih. Sarapan juga siap. Nona?" Bi Idah membuka pintunya secara perlahan, kepalanya celingak-celinguk sampai pandangannya berfokus pada Aoi yang tertidur pulas dengan dengkuran halusnya.


Bi Idah melangkah mengendap-endap. Membangunkan Aoi dengan lembutnya. Menyibak selimut dan memites hidung Aoi.


"Aww sakit! Siapa sih?" Aoi membuka matanya, mendapati bi Idah yang terkikik geli.


"Kenapa kok ketawa? Emangnya wajahku lucu?" tanya Aoi ketus dan sengit.


Bi Idah memudarkan senyumannya. "Pagi-pagi jangan marah gitu non. Mending bangun, mandi terus sarapan. Masa jam 8 pagi nona masih tidur ngorok."


Aoi mendelik. "Aku gak ngorok bi!" sanggah Aoi menahan malu, memang tidurnya kadang ngorok karena kelelahan.


Bi Idah hanya terkekeh. "Iya deh, sana basuk wajah nona tuh ada ilernya."


Aoi mendelik kedua kalinya. "Ha? Mana?" Aoi segara tampil di depan cermin, memang ada.

__ADS_1


"Aduh, ck bibi ah daritadi ngomelin-"


Suara Aoi tak terdengar lagi.


"Mau mandi aja ngomel dulu non," bi Idah menggeleng heran. Aoi sudah masuk ke kamar mandi.


***


Hanya suara dentingan garpu dan sendok beriringan. Aoi makan sendirian. Dimanakah bi Idah? Wanita berusia 40 tahun itu masih menyapu halaman dan menyiram tanaman.


"Kerja atau sengaja liburan sih? Mereka enak disana menikmati pemandangan dan seneng-seneng. Sedangkan aku? Berdiam diri di dalam rumah gak melakukan aktifitas apa-apa," keluh Aoi kesal, biarlah ia berbicara sendiri jika itu memang membuat setengah hatinya lega.


Ting tong!


Suara bel rumah itu membuat perhatian Aoi dari makannya terhenti. Siapa yang datang pagi-pagi?


Aoi melangkah, penasaran siapakah orang itu. Sampai...


"Dor!" seru Haruka dan Fumie kompak.


Aoi mengusap dadanya. "Astaga kalian, bikin jantungan aja. Gak bilang permisi, malah dor. Sekalian aja tuh bilang dan teriak P P P," kesal Aoi emosi, ia sering di chat para cowok kurang asupan dengan awalan P kenapa bisa begitu?


Haruka terkekeh, Fumie terbahak.


"Hahaha, itu wajahmu kesel banget kayak pel-pelan," senyum Fumie lebar, wajahnya memancarkan kebahagiaan dan badai kesedihan pun berlalu dengan cepatnya.


"Jleb sekali kata-katamu Aoi," Fumie tersenyum getir, kata-kata itu mengingatkannya pada sosok laki-laki bernama Mistsuru.


"Nona! Hati-hati lantainya masih lic-"


Bruk!


Aoi terduduk manis, ia meringis memegangi pantatnya yang sakit.


"Bi Idah! Kenapa kalau ngepel airnya kebanyakan sih?" Aoi mengomeli pembantunya itu.


Bi Idah hanya menyengir. "Hehe, maaf nona. Tadi kan saya mau bilang nona, hati-hati lantainya licin tapi nona udah jatuh duluan," jawab bi Idah dengan wajah tanpa dosanya.


"Kalian berdua juga! Malah ikutan ketawa," Aoi berusaha bangkit dan berdiri.


"Gak peka banget sih, di tolongin dong," omelnya lagi.


"Udah jangan ribut, maaf ini salah bibi yang kebanyakan ngasih airnya. Jadi licin lantainya, terus nona aoi yang pertama kali jatuh."


"Lain kali jangan di ulangi ya bi? Nanti kalau kandungan Aoi kenapa-napa gimana? Mau di pecat om Amschel sama pak Makoto?"


Bi Idah menggeleng cepat.

__ADS_1


"Jangan dong. Nanti anak saya mau makan apa? Nona Aoi, mau di bawa ke rumah sakit gak? Bibi takut kandungan nona kenapa-napa," tutur bi Idah sangat khwatir.


"Maaf ya nona?" sekali lagi bi Idah meminta maaf, Aoi hanya mengangguk memaklumi sikap bi Idah.


***


Saat siang harinya, Haruka mengusulkan untuk jalan-jalan di luar. Ide itu di setujui oleh Aoi dan Fumie.


"Emang mau jalan-jalan kemana sih?" tanya Fumie kepo.


"Kok muter-muter terus ya daritadi. Kamu tau gak Haru? Yang ada kita malah nyasar lagi," Aoi ikutan kesal, kakinya juga terasa pegal kalau ada Makoto sudah meminta di gendongkan.


"Tuh, gimana tamannya? Tambah bagus kan? Kita udah lama gak kesana. Ini tempat kesukaanmu dulu Aoi," Haruka menunjuk taman yang kini terlihat asri dengan pohon sakura yang berguguran.


Aoi berdecak kagum. "Itu. Itu kan pohon natal saat aku dan mas Makoto saling menghibur," langkah Aoi menghampiri pohon cemara yang masih sama dengan hiasan lampu warna-warni itu.


"Kamu mau foto sama pohon cemara ini kan?" tanya Haruka memastikan, Aoi mengangguk cepat. Cewek itu sangat antusias.


"Ok, ambil posisi yang aestetik ya. Sendiran apa sama Fumie nih?" tanya Haruka sekali lagi, karena moment ini sangat di tunggu oleh Aoi.


"Sendiri sama Fumie juga."


"Ok. Satu dua tiga!"


Cekrek.


"Foto bersama aja gimana?" usul Fumie dengan segala ide cemerlangnya.


Potret terakhir, kali ini berbeda karena perut Aoi sedikit membuncit.


"Bagus gak?" tanya Haruka dengan hasil jepretan maha karyanya.


Fumie mengangguk. "Bagus kok."


"Semoga kita selalu bersama-sama terus amien," Aoi berdoa, sejak awal masuk SMA Haruka dan Fumie hadir menjadi teman pertamanya.


"Amien."


"Pasti dong."


***


Kamu itu tidur matanya merem tapi mulutnya masih aja ngomel, kenapa? Pusing aku dengerin kamu yg lagi tidur tapi ngigo.


5:21 pagi


See you-,

__ADS_1


__ADS_2