Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
59. Kecelakaan


__ADS_3

Hari ini Nakura ingin berbelanja ke mall dengan Megumi menggunakan mobilnya.


"Ini mobil kamu harganya berapa?" tanya Magumi kepo, sangat bagus dan mengkilat. Megumi ingin bisa membeli mobil suatu saat nanti.


"Hampir satu milyar sih. Kenapa? Kamu sanggup belinya?" tanya Nakura dengan nada sedikit meremehkan.


Megumi berdecak kesal. "Kamu meremehkan aku? Ya pasti bisa lah, tapi itu nanti. Aku masih sekolah belum kerja. Huh, hidup miskin aku gak pernah bisa merasakan naik mobil atau makan enak. Kamu beruntung Nakura, bisa merasakan kehidupan berkecukupan."


"Semuanya pasti akan indah pada waktunya Megu, Tuhan sudah memberikan rezeki kepada hambanya. Oh ya, adik kamu yang namanya Fumie itu masih males gak?"


Magumi mengangguk. "Kemarin, dia gak mau nyapu sama ngepel. Aku yang jadi gantinya. Enak banget tidur makan main hp doang. Uang aku yang di meja belajar aja di ambil sama Fumie, gak bilang-bilang lagi. Cuman beli kuota doang malah mencuri uangku, huhh menyebalkan. Awas aja ya nanti," ucap Megumi penuh penekanan, tangannya gatal ingin menonjok Fumie karena gemasnya.


Nakura meringis mendegar kekesalan Megumi. "Sabar dong, masa marah-marah. Cepat tua, darah tinggi mau?"


Megumi menggeleng cepat. "Mana masih muda. Gak lah Naku, aku sabar kok. Em-mau ke mall mana emang? Aku gak bawa uang banyak Naku, cuman limapuluh ribu aja," sengaja Megumi memelas agar Nakura membelikannya apa saja saat di mall nanti.


"Tenang Megu. Aku bawa uang banyak kok. Nih, blackcrad pemberian ayah. Bisa belanja sepuasnya," Nakura menunjukkan kartu spesial yang di impikan banyak orang.


Megumi meneguk salivanya, begitukah rupanya? Tangannya ingin merampas paksa kartu itu, tapi Megumi tak boleh gegabah.


"Kalau kamu punya dua, kasih ke aku satu dong. Eh tapi aku gak maksa kok," ucap Megumi dengan senyuman kikuknya, tapi dalam hatinya ingin Nakura harus memberikan itu.


"Nakura? Kok mobil kamu tambah ngebut. Kurangi kecepatannya Naku!" Megumi bisa merasakan bagaimana pepohonan yang lewat sangat cepat.


Nakura panik lah masa enggak. "Megumi! Rem-nya gak bisa! Terus gimana? Aku takut kita celaka."


Beberapa jam sebelumnya.


Suasana sepi, keadaan inilah di manfaatkan seseorang untuk mencelakai Nakura. Setelah memutuskan kabel rem-nya ia kabur sebelum ada yang memergoki aksinya.


"Nakura! Awas! Itu ada orang yang menyebrang!" teriak Megumi panik.


"Megumi, kalau ini adalah hari terakhirku. Aku hanya ingin bilang ke Ryuji, maaf buat semuanya atas kesalahanku. Megumi, bersiap-siaplah," nafas Nakura tersengal.


Nakura membanting stir ke samping kiri. Meskipun berusaha menghindari orang yang menyebrang, tetap saja mobilnya menabrak tembok pembatas jalan dengan kerasnya.


Nakura dan Megumi tidak memakai sabuk pengaman. Keduanya terbentur kaca.


"Sshh sakit," Nakura meringis memegangi pelipisnya yang mengucurkan banyak darah.


Mobil Nakura mulai di hampiri orang-orang yang ingin menolong Nakura, ada pula yang hanya merekam.


"Cepat bawa ke rumah sakit!"


"Panggil ambulance dulu lah!"


"Kelamaan, pakai mobil saya aja."


***


Kecelakaan Nakura di siarkan berita.


Aoi yang sedang sarapan pagi dengan Haruka di meja makan pun menguping. TV di ruang tengah menyala, bi Inah suka melihat berita pagi-pagi.

__ADS_1


"Pemirsa, telah terjadi kecelakaan tragis di dekat U-Mart. Dua wanita terluka parah dan tak sadarkan diri itu di bawa ke rumah sakit terdekat. Kronologisnya adalah mengindari orang yang menyebrang karena rem-nya rusak," ujar sang presenter cantik di televisi.


Bi Idah hanya menggeleng heran. "Apa gak ada berita lain ya?" bi Idah mengganti saluran channelnya mencari acara yang pas sesuai selera hati ini.


"Emang siapa yang kecelakaan?" tanya Haruka kepo.


Aoi menggeleng. "Aku gak-"


Ponselnya berdering, telepon dari Fumie.


"Fumie telepon nih! Kangen banget tau," Aoi menunggu Fumie berbicara.


"Aoi. Aku sedih banget. Hiks kakakku kecelakaan sama Nakura juga. Sekarang aku di rumah sakit. Kalian kesini ya?"


"Ok. Aku sama Haruka kesana. Ayo, kok bisa kecelakaan sih?"


"Kayaknya kecelakaan itu yang ada di berita deh," jawab Haruka.


"Kalian mau kemana?" tanya bi Idah melihat Aoi dan Haruka sangat terburu-buru.


"Ke rumah sakit bi, kakaknya Fumie kecelakaan sama Nakura juga. Bibi jaga rumah ya?"


"Siap nona."


***


Di rumah sakit, Fumie dengan setianya duduk menunggu kabar dari dokter bagaimana kondisi kakaknya.


"Itu Fumie, kasihan ya nunggu sendirian? Orang tuanya mana?" tanya Haruka heran, sejak dulu ia tak pernah melihat orang tua Fumie. Sahabatnya itu selalu pulang jalan kaki, di antar pulang pun menolak.


Fumie mengangguk. "Makasih ya?"


"Ibu sama ayah kamu kemana?" tanya Haruka hati-hati, selama menjalin persahabatan Fumie tak pernah menceritakan tentang orang tuanya. Cewek itu menutup diri.


"Cuman ibu tiriku aja. Ayahnya kakak udah meninggal sejak kakak baru lahir di dunia ini. Dan aku cuman anak yang di pungut Haru," jawab Fumie berusaha tegar, ia sangat berharap bisa bertemu dengan orang tua kandungnya. Tapi mustahil.


"Maaf ya Fumie, aku terlalu banyak tanya," Haruka merasa bersalah, ternyata hidup Fumie begitu pedih.


Seorang dokter baru saja keluar dari ruang UGD.


"Dokter, bagaimana kondisi kakak saya? Dia yang berambut merah," Fumie sangat khawatir dengan Megumi.


"Kakakmu mengalami luka ringan di kepalanya. Tapi akan terjadi amnesia sementara karena benturan yang keras," jelas si dokter, namanya Yabuo.


"Kalau Nakura gimana?" tanya Fumie lagi.


"Gak usah peduli sama dia deh. Nakura itu jahat," Haruka memanas-manasi suasana. Memang faktanya begitu, Nakura sangat menbenci Aoi.


"Heh Haru, gak boleh gitu. Nakura sekarang lagi sakit," Aoi membela Nakura. Meskipun pernah jahat, tapi Aoi yakin Nakura bisa berubah. Cewek itu baik, pasti ada alasan tersendiri mengapa bisa berbuat jahat.


Haruka menghela nafasnya. "Jadi kamu sekarang ada di pihak Nakura?"


"Apakah boleh masuk dok?" Fumie mengalihkan topik, Haruka sedang kesal.

__ADS_1


"Silahkan."


Fumie menghampiri kakaknya yang terbaring lemah. Nafasnya pelan, hati Fumie sangat sedih melihat kakaknya bisa begini.


"Kakak? Sadarlah, aku kangen kakak," Fumie menatap kakaknya sedih.


"Mending sekarang kita masuk juga," ucap Aoi.


Aoi duduk di sisi Nakura. "Pasti ngebut."


"Ya baguslah ngebut. Biar kecelakaan," sahut Haruka marah.


"Kamu kenapa sih? Masih kesel sama Nakura?" tanya Aoi heran, bahkan Haruka menjaga jarak 2 meter tak ingin berdekatan dengan Nakura atau Megumi.


"Nakura udah-"


"Hmm shh aduh kepalaku pusing banget," Nakura memegangi kepalanya yang sudah di perban.


"Nakura? Kamu udah siuman?" tanya Aoi senang. "Sakit?"


Nakura mengangguk. "Kenapa kalian ada disini?"


"Menjenguk kamu lah Naku, Fumie juga kangen sama kakaknya," jawab Aoi yang angkat bicara, Fumie dan Haruka sama-sama terdiam membisu sepi.


"Aku pulang aja deh. Males tau ada disini," Haruka pergi begitu saja.


"Haruka! Haruka!" panggil Aoi sedikit berteriak.


"Haruka pulang sama siapa?" akhirnya Fumie berbicara setelah sekian lamanya.


"Kayaknya naik ojek atau taksi. Gak tau kenapa Haruka gitu."


"Aoi?" panggil Nakura lirih. "Maafin aku ya? Bahkan saat aku sakit aja kamu menjenguk. Aku kira kamu bakalan benci banget sama aku."


Aoi mengangguk. "Orang tua kamu udah tau?"


Nakura menggeleng. "Mereka sibuk dengan pekerjaanya. Aku selalu sendirian di rumah. Kadang aku ke rumah Ryuji."


Aoi merasa bersalah. "Kamu cinta banget ya sama Ryuji?"


"Aoi?"


Aoi menoleh menatap Fumie. "Kenapa?"


"Aku beli makanan dulu ya? Laper nih."


"Ya silahkan. Aku disini aja jagain Nakura sama Megumi."


Kebaikan Aoi menbuat hati Nakura teeharu. Kenapa dirinya bisa sejahat itu pada Aoi? Ternyata inilah mengapa Ryuji sangat cinta mati pada Aoi.


***


Lomba memenangkan perasaan.

__ADS_1


10:34 malam


See you-,


__ADS_2