
Waktu yang begitu lama, sampai Hikaru menginjak usia 2 tahun. Meskipun belum bisa berjalan dengan tegak dan masih merangkak, tapi Hikaru dengan kesulitannya berbicara. Masih belajar, tapi untuk memanggil Aoi dan Makoto mama dan ayah lancar.
Dengan senyum yang mengembang diapit pipi tembemnya, Hikaru merangkak menghampiri Aoi yang duduk mengobrol serius dengan Makoto.
"Hikaru sayang, sini nak. Kamu jangan jauh-jauh mainnya. Hikaru, sini ayo nenek gendong," Karin berhasil menggapai Hikaru dan menggendongnya, justru menangis dan meronta-ronta. Mungkin ingin turun. Tapi Karin tak ingin Aoi dan Makoto terganggu dengan Hikaru, keduanya membahas soal serius. Entahlah, Karin tak mau ikut campur.
Amschel menggeleng heran. "Ma, itu Hikaru nangis pingin turun."
Karin mengangguk. Baiklah, kalau Amschel menyuruhnya akan di turuti. Daripada nanti ngambek seharian.
Karin menurunkan Hikaru. "Dia kok bisa gendut gitu ya? Padahal kan Aoi kurus."
"Mungkin saat hamil, Aoi makannya banyak dan lebih. Jadi Hikaru gendut," Amschel menutup laptopnya. Sudah selesai pekerjaannya.
"Aoi gak takut gendut? Biasanya kan gak mau makan banyak," Karin sampai hafal berapa ukuran porsi makan Aoi dalam sehari, hanya habis dua lembar roti lalu susu coklat.
"Seperti kamu sayang. Sampai sekarang juga tetap sama, langsing dan enak di pel-aww ampun ma," Amschel menghindar dari amukan Karin yang melemparkan bantal.
***
Kebahagiaan Nakura dan Ryuji pun juga sama, Aiko yang kini tengah bermain boneka bersama Hinana.
"Aku merasa waktu begitu cepat, sampai Aiko sekarang berusia dua tahun," Nakura menatap Aiko yang tertawa karena Hinana mengajak boneka itu berbicara kepada Aiko.
"Mungkin karena kita lalui bersama. Oh ya, cek tuh airnya udah mateng. Jangan sampai lupa," Ryuji mengingatkan Nakura yang kebiasaan pikun.
"Ya ampun! Aku sampai lupa," dengan langkah terburu-buru Nakura ke dapur.
Sedangkan di kampus, Haruka dan Fumie merasakan kebahagiaan yang sama. Mereka lulus dengan nilai yang di inginkan.
"Haruka! Aku masih gak percaya nilaiku bagus banget. Aku gak nyangka Haru!" Fumie masih saja seperti mimpi.
Haruka mencubit pipi Fumie biar sadar. "Itu karena usaha kamu selama belajar dengan giat terbayarkan dengan nilai sempurna."
"Padahal aku pikir bahasa Inggris itu susah banget. Ternyata gampang," Fumie tersenyum lebar.
"Karena nilai kita bagus, ayo makan di kantin sepuasnya. Aku yang bayarin."
Yes! Di traktir, sorak Fumie dalam hatinya.
"Kapan kita ketemu Aoi? Aku gemes dan pingin bawa Aiko pulang, biar jadi adikku aja," Fumie ingin mempunyai seorang adik, rumahnya terasa sepi. Meskipun dulunya sang kakak, Megumi selalu mendominasi rumah lebih ramai dengan omelannya.
"Nanti sore? Aku jemput di depan rumah kamu. Kalau malem takutnya ganggu, kan biasanya Aoi kumpul keluarga."
Fumie menghela nafasnya. Padahal ingin bermain lebih lama dengan Hikaru.
"Ya deh. Kantin yuk."
"Kuy lah laper nih."
***
"Haduh pakai baju apa ya?" sekarang Fumie masih bingung memilih baju mana yang pas untuk di pakai ke rumah Aoi yang megah itu.
Yasmin yang melihat Fumie memilih baju dengan bingung sampai kamarnya berantakan.
"Mau pakai baju apapun kamu cantik. Emang mau kemana?"
"Ke rumah Aoi. Main sama Hikaru. Haruka sebentar lagi jemput aku. Aduh, baju mana yang pas buat aku?"
Yasmin memilih baju berwarna coklat pastel. "Ini aja, warna juga kalem."
"Daritadi juga aku mikirnya mau pakai itu," dengan cemberut, Fumie mengambil bajunya yang di pegang Yasmin. "Aku ganti dulu ya bu. Kalau Haruka datang, suruh tunggu aja."
Yasmin mengangguk. "Iya baiklah."
***
Makoto sangat sibuk dengan laptopnya, ia hanya berdiam diri di kamar. Tak ada waktu dengan Aoi dan Hikaru.
"Aku harus selesai sekarang. Aku ingin bermain dengan Hikaru."
Di belakang rumah, Aoi dan Hikaru asyik bermain. Apalagi Hikaru mengajak bonekanya berbicara meskipun terbata-bata.
"Halo aku Hikalu. Kamu siapa?" Hikaru mengajak boneka yang di belikan Aoi itu berbicara, tak ada teman bermain selain benda itu.
Kawasan keluarga Rotschild sedikit jauh dari rumah tetangga.
"Mama pingin ngajak kamu main sama temen-temen di kota sebelah. Biar kamu gak main sama boneka terus," Aoi merasa sedih, apalagi kalau Hikaru tak mempunyai seorang teman.
__ADS_1
"Aoi! Ada di dalam gak ya? Aoi!"
Suara Fumie yang membahana itu membuat Aoi beranjak dari tempat duduknya, tapi-
"Silahkan masuk, kalian sahabatnya itu kan?" tanya Ryou mengintrogasi, siapapun tamunya harus berhadapan dengannya. Ya, demi keamanan juga.
"Iya lah. Masa udah lupa gitu aja sama aku. Tega banget kamu," ucap Fumie dramatis seolah Ryou akan melupakannya, yang berarti saja akan di lupakan.
"Saya masih mengingatmu. Mari masuk, saya panggilkan nona Aoi."
Akhirnya Fumie dan Haruka duduk di ruang tamu.
"Kayaknya Aoi lagi di belakang rumah. Makannya daritadi kamu panggil gak denger."
Fumie mengangguk. Haruka sangat benar!
"Main sama Hikaru. Aduh jadi gak sabar pingin gendong dia. Gendut, terus pipinya chubby, matanya-"
"Eh Fumie sama Haruka. Ryou, tolong awasi Hikaru ya? Aku mau ngobrol dengan mereka."
"Siap nona."
"Yah, sama dia. Ck, padahal aku pingin main sama Hikaru," Fumie masih kesal dengan Ryou, cowok itu menyebalkan.
"Gimana nih? Lulus semua?" tanya Aoi mengalihkan topik, daripada melihat wajah cemberut Fumie.
"Fumie peringkat sepuluh loh dari seluruh mahasiswa. Dapat apa nih dari Aoi?" Haruka hanya bercanda, Aoi juga tak mungkin memberikan sesuatu.
"Dapat makan. Tuh, masih banyak. Ada ayam, mie instan, buah-buahan sama-Fumie? Kalau udah makanan pun, dia pasti gesit," Aoi menggeleng heran melihat Fumie berjalan ke arah meja makan dengan berani, tak ada nyali takut dengan ayah dan mamanya.
"Kalau aku bawa tali, udah aku iket biar anteng."
"Rencananya mau kemana? Kerja ya? Atau nyusul nih?" Aoi tersenyum penuh arti, sontak membuat Haruka salah tingkah.
"Apa? Nyusul kamu? Aku aja gak ada gandengan, masa mau nikah," jawabnya memang paling jujur dan benar dari hati yang terdalam.
Aoi terkekeh. Reaksi Haruka pun galak. Pantas saja tak ada yang bisa meluluhkan hati bekunya itu.
"Masa-masa remaja itulah yang paling aku rindukan. Kuliah berhenti di tengah jalan terus nikah," Aoi menghela nafasnya, sangat berat tapi inilah takdirnya yang di buat sendiri oleh orang tuanya.
Sedangkan di belakang rumah, Hikaru dengan susah payahnya berbicara pada Ryou.
Ryou mengernyit. "Mau pipi? Pipinya siapa dek?"
"Pipi! Aku mau pipi!" Hikaru setengah berteriak, agar Ryou faham maksudnya.
Dengan cepat Ryou faham. "Oh, pipis? Aku anterin ya?"
Hikaru menggeleng. "Laki-laki gak boleh ikut." setelahnya Hikaru mulai berjalan meskipun beberapa kali jatuh, tak menangis mungkin Hikaru memang kebelet.
Tapi Ryou tetap mengikuti Hikaru.
Di kamar, akhirnya Makoto selesai dengan kesibukannya. Saatnya meluangkan waktu dengan Hikaru dan Aoi.
Makoto masih menunggu file-nya tersimpan sempurna.
"Daripada di matiin tapi nanti hilang. Aku gak mau capek-capek bikin lagi," Makoto menatap laptopnya jengah, lama sekali.
Sedangkan Hikaru yang sampai di kamar Makoto pun mengambil ponsel yang tergelatak di meja rias Aoi. Tak lupa pula, jam tangannya pun diambil.
Mata Hikaru menyapu sekeliling, ia meraih jas Makoto.
"Hujan. Dingin," gumam Hikaru lirih, suaranya sangat kecil sampai Makoto tak mendengarnya.
Hikaru pergi dengan jas kantor sebagai jas hujan andalannya.
Ryou hanya mengintip di balik tembok. Ternyata Hikaru berbohong.
Ryou mengetuk pintu. Makoto menoleh.
"Iya Ryou? Ada apa?"
"Apa saya mengganggu anda?" tanya Ryou ragu, wajah Makoto tampak kelelahan terlihat mata sayunya yang ingin terpejam meskipun satu detik saja menahan rindu.
Makoto menggeleng. "Tidak. Ada apa kau kesini?"
"Begini pak-"
"Ambilkan ponsel saya di meja itu ya. Saya ingin bilang dengan Ayah kalau hari ini tak bisa kemana-mana."
__ADS_1
"Kenapa begitu? Apa anda tidak merindukannya?"
"Ambilkan saja."
Ryou kebingungan, di meja tidak ada ponsel.
"Tidak ada. Apakah anda lupa dimana menaruhnya?"
"Disitu," Makoto menunjuk meja. "Kamu saja yang salah liat." wajahnya berubah masam.
Tak mau di pecat, Ryou mencarinya di loker meja. Tetap saja tak menemukan benda pipih berwarna gold itu.
"Maaf, tidak ada. Mungkin ada di dalam jas anda," Ryou ragu untuk mengatakannya kalau jas Makoto di bawa kabur oleh Hikaru.
Makoto beranjak dari duduknya. Matanya fokus pada kasur yang kosong. Entah jas-nya itu jalan sendiri atau terbang.
"Aoi yang ambil?" tebaknya, bisa saja akan di cuci.
Ryou berdeham. "Hikaru yang ambil."
"Kenapa? Aduh, disitu ada dompet aku. Kalau hilang, kartu ATM dan yang lain pasti di buat mainan sama Hikaru," Makoto berlari kecil, harus mencari keberadaan Hikaru sebelum semua isi dompetnya musnah.
Ryou menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa bakal di marahin ya? Kasihan dek Hikaru."
Di dapur, Hikaru berusaha membuka kulkas namun tak bisa.
"Aww. Susah," bukan tak bisa, melainkan tingginya saja yang tak bisa menggapainya.
Fumie yang asyik menghabiskan ayam pun mencari sumber suara.
"Hikaru? Kamu disitu?" Fumie menghampiri Hikaru yang di depan kulkas. Tapi entah jas siapa itu tergeletak begitu saja di lantai. Fumie jadi panik, kalau punya Makoto pasti dirinya yang terkena omelan.
"Aduh. Ngapain bawa jas? Apa pak Makoto udah tau ya?"
"Hikaru! Kamu dimana?"
Suara Makoto yang memanggil Hikaru itu seperti ingin marah. Fumie jadi bingung mencari tempat persembunyian yang pas.
"Kalau pak Makoto liat aku bawa jas, bisa di marahin aduh," Fumie memilih bersembunyi di bawah meja makan. Asalkan aman dan tidak ketauan.
"Laparr. Makann!" rengek Hikaru. Tak sabar ingin makan.
Mendengar suara Hikaru, langkah Makoto menuju dapur yang satu ruangan dengan ruang makan.
Yang pertama Makoto cari adalah ponselnya.
"Duh, dimana ya?" Makoto menatap tangan Hikaru, tak membawa apa-apa. Lalu dimana?
"Masa iya jatuh di tangga atau lantai? Tapi aku gak menemukan apa-apa," pikirnya, karena benda itu sangat penting apalagi ada nomer keluarga dan saudaranya.
Ting!
Fumie mendelik terkejut. Tidak mungkin ada di saku jas.
Makoto melihat di bawah meja. Menemukan Fumie yang bersembunyi membelakanginya.
"Fumie? Ternyata kamu yang ambil jas dan ponselku ya? Sini."
Fumie kepergok sudah. "Bukan pak. Tapi, Hikaru. Dia lapar ingin makan," daripada kena omel, lebih baik memberitahukan Hikaru yang kelaparan.
"Aoi kemana? Kok Hikaru gak di kasih makan?" tidak marah, hanya kesal.
"Ngobrol sama Haruka pak. Biar aku saja yang menyuapi Hikaru."
"Terima kasih. Kembalikan jas-ku. Rasanya gerah, aku mau mandi dulu. Jaga Hikaru ya?"
Fumie mengangguk. Selamat.
"Ish, Hikaru kalau mau ngerjain pak Makoto gak tanggung-tanggung ya? Malah aku yang ketauan dan hampir aja di marahin," ucap Fumie menggerutu.
***
Tak melihat apapun. Gelap, daripada tau akhirnya kecewa tapi tak sengaja jujur lebih menyakiti hati.
8:59 pagi.
See you-,
__ADS_1