Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
83. Hikaru terluka


__ADS_3

Hikaru baru sadar setelah Aoi mengolesi minyak telon di bagian pelipis dan memijatnya perlahan.


"Syukurlah kamu udah sadar nak. Bagaimana? Apa ada yang sakit?"


Hikaru ingin duduk, Aoi membantunya menjadikan bantal sebagai sandarannya.


Hikaru menunjuk keningnya. "Disini ma, pusing banget. Laper," belajar dengan serius membuat tenaganya terkuras.


"Kamu belajar cuman boleh sama ayah dan mama. Kalau soal matematika, biar ayah yang ngerjain kamu tinggal liat aja dan fahami caranya. Mama ambilin sarapan buat kamu ya? Jangan kemana-mana kalau masih pusing," Aoi pergi mengambilkan sarapan untuk Hikaru, dirinya belakangan saja asalkan Hikaru makan duluan.


"Tapi kan kalau akau belajar itu bisa punya semuanya kata omah," gumam Hikaru lirih.


Di meja makan, hanya ada Makoto dan Amschel entahlah mamanya itu kemana.


"Kamu mau sarapan? Aku temenin," Makoto tersenyum riang. "Atau aku suapin deh."


Aoi menggeleng, bukan itu. "Aku kesini mau bawain sarapan buat Hikaru. Dia udah sadar, laper."


"Aku kesana juga," Makoto beranjak dari duduknnya.


"Jangan, mas kerja aja. Hikaru sudah jadi tanggung jawabku," tolak Aoi, ia dan sang mama ada di rumah saja.


"Benar kata Aoi, kamu kerja saja. Jangan bolos sehari, kantor sangat membutuhkanmu," ujar Amschel setelah menghabiskan Rice Ball-nya sama seperti Onigiri.


'Padahal sih aku pingin berdua sama Aoi. Karena ada Hikaru, gak bisa. Nanti malem, capek pulang dari kerja terus peluk-'


"Mas? Kok gak kedip? Ngelamunin apa?" Aoi melambaikan tangannya di depan Makoto.


"Kamu? Ah bukan, cuman kebelet ngelamun aja," jawab Makoto kikuk. Tuh kan mulutnya keceplosan.


Aoi mengernyit. Memikirkan dirinya?


"Ngapain aku di pikirin mas? Aku baik-baik aja," jawab Aoi, perasaannya tidak peka. Meikirkanmu karena rindu, ingin bertemu atau sekalu berada di dekatmu.


"Kalau cowok udah bilang gitu, ya bisa gombal atau serius lagi kangen berat," sahut Amschel yang masih anteng di tempat duduknya, menarik nafas terlebih dahulu sebelum beranjak dari duduk dan berangkat kerja.


"Terserah deh. Emang tiap hari juga suka gombal."


***


Cuaca yang tadinya cerah kini menjadi mendung, mungkin sebentar lagi akan hujan.


Di sekolah dasar, Hikaru dan Aiko ke kantin. Untungnya bukan di luar, banyak yang memilih kantin setelah bel istitahat tiba daripada pergi ke perpustakaan.

__ADS_1


"Hikaru, kalau aku perhatiin kamu daritadi kok lemes gitu. Kamu sakit?" tanya Aiko, ia sudah menyadari wajah Hikaru yang agak pucat. Jalannya pun pelan tak seperti biasanya yang selalu bersemangat.


Hikaru mengukir senyumnya. Ia masih sehat. "Aku gak apa-apa kok. Cuman lagi males aja. Pingin cepet pulang. Mendung kayak gini nanti bakalan hujan deras. Aku gak bawa jas hujan soalnya," jawab Hikaru berkilah, kalau Aiko tau dirinya sakit mungkin di suruh beristirahat di UKS.


Aiko mengangguk. "Bawa, mama nyuruh aku harus bawa jas hujan buat jaga-jaga aja. Daripada nanti aku demam. Machta hangat? Kayaknya pas di minum lagi suasana mendung gini," saran Aiko, daripada memesan es yang malah menambah dingin.


Hikaru mengangguk. "Matcha hangat sama Onigiri. Aku laper banget," setelah memikirkan matematika tadi, perutnya keroncongan tiada henti. Ia tak terlalu serius dengan pelajaran itu karena sudah ada Aiko yang akan membantunya.


Sambil menunggu Aiko membeli makanan, Hikaru melihat sekeliling kantin yang sangat ramai.


Brak.


Hikaru tersentak kaget ketika Ayumi menggebrak mejanya. Entah ada masalah apa sampai Ayumi datang menghampirinya dengan wajah marah.


Seketika kantin menjadi sepi, memperhatikan apa yang akan Ayumi lakukan pada Hikaru.


"Helikopter? Kaya banget ya. Berapa sih hartanya?" tanya Ayumi penasaran, posisinya sebagai siswa terkaya di sekolah tergeser begitu saja oleh Hikaru.


'Kata mama, aku gak boleh berantem di sekolah. Lebih baik diam aja,' batin Hikaru. Ayumi tak perlu di ladeni daripada kemarahan cewek itu semakin tersulut setelah ia jawab berapa hartanya. Hikaru sudah tau semua aset keluarganya.


Aiko yang mendengar keributan itu pun membelah kerumunan. Mencari Hikaru, pasti ada sangkut pautnya dengan Ayumi. Hanya cewek itu yang membenci Hikaru sejak pertama kali memasuki sekolah dasar.


"Hikaru, kamu gak apa-apa kan?" tanya Aiko khawatir. Perasannya cemas, apalagi Hikaru nenunduk. Apa takut dengan Ayumi? Apa yang sudah di katakan Ayumi sampai Hikaru ketakutan.


"Hey! Aku belum selesai ngomong! Awas aja kamu ya!" seru Ayumi setengah berteriak. Rasanya tak puas belum membuat Hikaru melawannya seperti dulu.


***


Akhirnya Hikaru bisa mengistirahatkan dirinya di kamar. Pikirannya masih terbayang bagaimana Ayumi memarahinya tadi. Apakah soal barbie?


"Tapi aku gak pernah bawa barbie ke sekolah," Hikaru mengubah posisi tidurnya menjadi nyaman, mendekap guling yang hangat. Angin sejuk dari AC mrmbuat matanya terasa berat ingin segera tidur.


Omah Eva memasuki kamar, rasanya sangat rindu dengan princess cantik itu.


Dengan langkah pelan, omah Eva menghampiri Hikaru yang sudah tidur. Tapi, omah Eva membangunkan Hikaru untuk bermain.


"Hikaru, ayo main di teras. Kamu tau gak? Disana ada kucing yang lucu banget. Kamu pasti gemes dan suka," omah Eva menepuk pipi gembul Hikaru. Ah menggemaskan, pantas saja Hikaru sedikit berisi karena doyan mangan.


Hikaru menggeliat. "Hoammt kucing apa omah? Aku pingin tidur," sedikit terganggu, tapi kalau bermain dengan omah Eva tak mungkin ia menolaknya.


"Cantik banget. Kucingnya sedikit gemuk kayak kamu. Ayo, nanti sore kamu bisa tidur lagi," ajak omah Eva meraih tangan Hikaru membantunya turun dari ranjang.


Di teras atau halaman rumah, kucing yang gemuk itu bukan milik omah Eva, melainkan tetangga sebelah yang titip karena keluar sebentar.

__ADS_1


Hikaru langsung menggendong kucing itu di pangkuannya. Mengelus bulu lembutnya.


"Omah, lucu banget ya. Pipinya juga gendut kayak aku," Hikaru antusias, ia menyukai gemuk karena menggemaskan bukan?


Omah Eva tersenyum. "Suka? Jadi pingin punya kucing sendiri kan kamu?"


Hikaru mengangguk. "Pingin banget. Apa aku boleh minta sama mama ya?" karena permintaan apapun harus mendapat persetujuan dari mama atau ayah.


Sret.


"Aww, omah sakiit banget," dengan refleks Hikaru melepaskan kucingnya yang kini kabur.


Omah Eva panik. "Tangan kamu kenapa? Sini omah liat," ia meraih tangan Hikaru, meneliti ada luka cakaran yang memerah bahkan ada sedikit darah.


"Kamu terluka. Tapi gak sakit kan?" tanya omah Eva khawatir, terlihat Hikaru ingin menangis namun tertahan karena bibirnya meringis menahan rasa sakit di tangannya.


"Siapa yang terluka?" Aoi datang, setelah mencari Hikaru tak ada di kamarnya malah mendapati anaknya itu duduk di terars dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya.


"Ya ampun! Kamu kenapa nak? Kok tangannya merah? Di cakar," Aoi meraih tangan Hikaru. "Ayo mama obatin, pasti perih," Aoi mengajak Hikaru duduk di ruang tamu.


Aoi mengambil kotak P3K, mengobati luka Hikaru dengan hati-hati. Anaknya itu menangis. Aoi jadi tak tega, ia menghentikan aktifitasnya mengolesi sedikit betadine di kapas.


"Kenapa bisa luka?" tanya Aoi curiga, dan ia tak mendapati omah Eva masuk. 'Pasti omah. Sekali aku meninggalkan Hikaru, pasti akan terluka,' batinnya dalam hati.


Hikaru hanya diam.


Aoi mengerti, luka cakaran seperti itu pasti Hikaru bermain dengan kucing.


"Ayo jujur sama mama. Dan kenapa kamu gak ganti baju? Itu seragamnya harus di cuci nak," ucap Aoi lembut, ia ingin mendengar sendiri dari Hikaru.


"Aku main sama kucing. Tadi aku mau tidur ma, tapi omah bangunin aku ngajak main," jawab Hikaru dengan berani meskipun takut akan di hukum.


"Jangan main sama kucing lagi ya kalau gak mau terluka kayak gini lagi?"


Hikaru mengangguk. Padahal hewan menggemaskan itu kesukaannya.


***


Celah matahari menerobos jendela tanpa permisi dan bilang aku jatuh cinta.


06:13 pagi.


See you-,

__ADS_1


__ADS_2