
POV KENJIRO
Lebih baik aku yang pergi, melihatmu bersama orang lain membuat hatiku sakit. Aku memang tak sekuat kakakku, tapi aku berjanji akan merebutmu kembali Sarah.
"Apa yang kau lakukan Ani? kamu tahu jika aku mencintainya, mengapa kamu mengambilnya dariku?" tanya Ken.
"Aku mempertahankan apa yang menjadi milikku." ucap Yama tenang.
"Bagaimana bisa dia itu milikmu?! akulah yang selalu bersamanya, aku yang lebih dulu mencintainya!" aku berteriak marah.
"Siapa cepat, dia dapat. Hukum alam selalu berlaku dimanapun, yang kuat menang." Yama memunggungiku.
"Kali ini kamu benar-benar keterlaluan!" ucapku marah.
"Kenapa aku yang keterlaluan? aku tidak pernah menyalahkan mu atau merebut mama papa darimu, aku tidak pernah menuntut kasih sayang mereka untukku. Aku berjuang dengan kemampuanku sendiri untuk meraih segala sesuatu, apakah aku tidak boleh berbahagia juga ketika aku menemukan seseorang yang dapat mengisi hatiku?" Yama merendahkan suaranya padaku.
Aku terdiam lama, masa lalunya memang tak seberuntung diriku. Saat aku menyayangi kakakku, mereka membawanya pergi, menjauhkanku darinya.
"Pikirkan lagi kesalahanmu, aku merebutnya darimu karena ada kesempatan. Maaf, kali ini aku tidak dapat mengalah padamu." Yama berucap sembari berjalan menjauh.
Aku berpikir selama beberapa hari, melihatnya mencariku dari kejauhan sangat tidak nyaman. Aku ingin berlari dan merengkuhnya, tapi aku juga tak dapat memilikinya.
Akhirnya, aku memutuskan untuk meninggalkannya sementara waktu. Aku akan menjadi lebih kuat lagi untuknya, lalu merebut apa yang menjadi kepunyaanku.
"Baiklah ani," ucapku pada Yama di sebuah rumah makan, "aku akan melepaskan Sakura _chan kali ini, tapi jika aku kembali dan melihat dia menangis, maka aku akan merebutnya kembali." ucapku.
"Bagus! aku tidak akan pernah melepaskannya." ucap Yama.
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi esok, aku hanya minta 1 syarat."
"Apa?"
"Ijinkan aku bertemu dengannya 1 kali lagi saat hari ulang tahunnya, aku ingin berdansa dengannya untuk yang terakhir kalinya." pintaku.
"Baiklah." Yama menyetujui nya.
Malam itu hatiku sangat pedih melihat Sakura menangisiku, tapi aku mencoba terlihat tegar dihadapannya.
Dadaku sesak, tenggorokan tercekat, dan air mataku mengalir melihatnya direngkuh oleh saudaraku sendiri.
Selamat berbahagia Sarah. Ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian aku terbang menuju London, dan disinilah aku sekarang. Berada di dalam kamar yang kecil, berjuang untuk hidup sendiri.
Aku yang meminta hidup seperti ini, aku ingin merasakan hidup dari bawah.
Setahun sudah aku berada di London, menempuh pendidikan yang aku rangkap jadi satu. Bagiku belajar adalah hal mudah, tapi aku mempunyai seorang teman wanita yang menyukaiku.
Sebenarnya kami saling menguntungkan, dia menginginkan reputasi dan aku hanya butuh teman ranjang. Tetap saja, aku tak dapat menggeser Sakura dari dalam hatiku.
__ADS_1
*************************************************
POV SARAH.
Pesawat kami telah mendarat di bandar udara International Tokyo. Kami berjalan bertiga menuju pintu keluar khusus, beberapa pria dengan jas mengawal kami.
Aku yang tidak pernah kemari dan tidak tahu apa-apa, hanya dapat mengekori Yama dan nenek.
Kita berpencar saat berada di tempat parkir, nenek dengan beberapa pengawal, sedangkan aku bersama Yama dan Haruka.
"Hai, Haruka. Lama nggak ketemu nih." Sapaku padanya.
Dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Yama, dia nggak bisa ngomong bahasa Indonesia ya?" tanyaku.
"Ya, dia hanya dapat berbicara dalam bahasa inggris dan jepang." terang Yama.
Yama berfokus pada ipad di tangannya sambil mendengarkan penjelasan dari Haruka dalam bahasa jepang.
Aku merasa diasingkannya, kuputuskan melihat pemandangan yang ada.
Kota ini sangat bersih, penduduknya padat dan banyak gedung-gedung tinggi. Penduduknya terlihat sangat sibuk, semua serba cepat.
"Kita istirahat dulu di rumah, kamu pasti mengalami jet lag." Yama membuyarkan lamunanku.
Yama menarikku untuk bersandar padanya, aku mulai merasa nyaman saat berada di dekatnya.
Aku terlelap dalam pelukannya, hingga aku merasa sudah tidur cukup lama.
Aku meregangkan badanku, "Ugghhh ... lelap sekali tidurku." kubuka mataku malas.
Masih belum sadar, kukerjapkan mata beberapa kali.
Hah! ini bukan kamarku! oh, bukankah tadi aku berada di dalam mobil? ucap Sarah dalam hati.
"Tidurlah sebentar lagi." ucap seseorang yang kukenal suaranya.
Dia merengkuh pinggangku dan menariknya mendekat.
"Aaa!! Yama! apa yang kamu lakukan!" teriaku dengan reflek memukuli kepalanya.
"Aduh! aduh! Hentikan Sakura_chan." Pintanya.
"Apa yang kamu lakukan padaku?!" Aku melihatnya dengan mata melotot.
"Aku hanya tidur disebelahmu saja." ucap Yama sambil mengucap kepalanya.
"Kamu ... kamu jahat! aku udah bilang nggak mau nikah dulu." ucapku ngambek.
__ADS_1
"Aku benar-benar hanya tidur di sebelahmu saja, tadi kulihat tidurmu begitu nyenyak, jadi aku tidak membangunkanmu." ucapnya.
"Jadi, kamu gendong aku ke atas sini?" ucapku dengan menunjuk kasur keramat itu.
Yama menganggukkan kepalanya.
"Ini sakit." ucapnya manja padaku sambil menunjuk kepalanya.
"Salah kamu sendiri, ngapain tidur di sebelah aku. Lain kali kutendang sekalian biar kapok." ucapku dengan melakukan gerakan menendang.
"Tendang sekarang boleh, ayo sini naik ke atas kasur lagi." ucapnya menggodaku.
"Yama_san! Kamu benar-benar ingin di pukul ya!" teriakku sambil memukulnya menggunakan bantal yang ada disana.
Perang bantal pun dimulai, kami tertawa bersama. Aku tidak pernah melihatnya tertawa lepas seperti ini, suasana yang baik di awal yang baik.
Berbeda dengan rumah nenek yang ada di Indonesia, di sini lebih modern. Tak meninggalkan suasana Jepang, perpaduan pas sangat klasik.
"Hh ... aku capek banget nih, bisa tolong antar aku ambil minum nggak?" pintaku padanya.
"Ayo." Yama menggandeng tanganku.
Aku terkejut saat keluar dari kamar. Ini bukan rumah, tapi sebuah apartmen.
"Dimana Nenek?" tanyaku tak curiga.
"Nenek ada di rumahnya." Yama menjawab santai sambil menuang jus jeruk kedalam gelas.
"Rumahnya? ini rumah siapa?" tanyaku lagi.
"Ini rumahku, aku membeli sebuah apartmen yang berada di pusat kota." jawabnya.
"Jadi, kamu bener-bener niat banget ya nyulik aku." ucapku dengan meneguk jus jeruk darinya.
"Aku tidak menculikmu, aku membawa pulang istriku ke rumah. Tidak ada yang salah dengan itu." ucapnya santai.
"Yama_san! berapa kali harus kubilang? Kita belum sah. B e l u m s a h." ucapku lambat-lambat.
"Jangan buat aku gemas ingin melahapmu, bersikap baiklah." ucapnya.
Aku melakukan gerak reflek menutup tubuhku dengan kedua tanganku, " A antar aku ke rumah nenek sekarang! Aku ingin tinggal dengannya saja!" ucapku.
"Haha ... Kemarilah sayang, aku tidak akan mungkin memaksamu." Yama tertawa.
Aku memukul lengannya.
"Kenapa sekarang kamu jadi suka sekali menggodaku?" tanyaku dengan bersandar di dadanya.
"Aku terlalu bahagia, bahagia karena kau jadi milikku." ucapnya dengan senyum.
__ADS_1