
Waktu belajarku telah selesai, Sinta sangat pintar dalam menyampaikan pelajaran sehingga aku mudah memahami dan mengerti bahasa Jepang. Setelah Sinta pulang, Mama bergegas mengajakku entah kemana. Aku mengikuti Mama, kita sedang berada di dalam mobil dengan Keiko sebagai supir.
"Kita mau kemana sih Ma?" tanyaku.
"Udah ikut aja," ucap Mama.
"Tapi, Mama dandan cantik banget, aku cuman gini aja loh. Nggak papa?" tanyaku padanya.
"Tenang saja, tidak masalah," ucap Mama.
Aku sedikit khawatir, pasalnya Mama mengenakan kimono lengkap dengan rambut yang disanggul. Aku takut salah kostum lagi seperti kemarin saat Keiko menarikku menuju kantor Yama. Pasrah adalah andalanku, mau dibawa kemana saja ikut.
Kami sampai di sebuah kuil, Mama mengajakku untuk masuk.
"Ayo Sakura, masuklah," ajak Mama.
"Mama ish, kan aku udah bilang takut salah kostum. Mama nggak kasih tau Sakura tadi," ucapku jengkel.
"Nggak apa-apa, ini adalah upacara pernikahan anaknya teman Mama. Ayo masuk." Mama menarik tanganku.
Aku menarik nafas dalam. Terserah Mama deh aku mau dibawa kemana, belum tentu juga aku bakalan ketemu mereka lagi. Batinku dengan mengangkat kedua bahuku.
Aku berjalan mengekori Mama, beliau menjelaskan tentang banyak hal. Pernikahan semacam ini adalah yang diinginkan nenek. Nenek sangat kolot sekali.
Tradisi pernikahan tradisional yang sering dipakai saat pernikahan di Jepang salah satunya yaitu Shinzenshiki (神前式). Secara harfiah menurut penggalan kata dalam bahasa Jepang Shin berarti ‘Tuhan’, Zen berarti ‘depan’, dan Shiki berarti ‘ritual atau upacara’. Jadi, secara keseluruhan Shinzenshiki didefinisikan sebagai sebuah upacara atau ritual yang dilangsungkan dihadapan Tuhan atau dewa.
__ADS_1
Upacara ini diselenggarakan di sebuah kuil suci dalam kepercayaan agama shinto. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan hukum agama.
Kami tak mengikuti acara hingga selesai, Mama mengajakku untuk lanjut ketempat berikutnya. Aku mengerutkan keningku, perasaanku tak enak. Tempat apa yang berikutnya?
Mobil keluar dari area tenang menuju area yang padat penduduk di tengah kota. " Kita mau kemana lagi nih Ma?" tanyaku.
"Lihat saja nanti, Mama rasa kamu akan suka yang ini," ucapnya dengan sangat bersemangat.
Aku melipat kedua tanganku di dada, semoga saja bukan sesuatu yang membuatku malu. Mobil memasuki are parkir sebuah rumah ibadah. Kita sampai di sebuah gereja.
Upacara pernikahan di Jepang digolongkan menjadi dua yaitu: upacara pernikahan tradisional dan upacara pernikahan modern. Upacara pernikahan Shinto yang paling dikenal di Jepang, pelaksanaannya di kuil suci yang dipimpin oleh pendeta Shinto. Upacara ini memiliki makna yang sangat besar. Kostum yang dikenakan kedua pengantin adalah bergaya Jepang dan bergaya Barat. Dalam gaya Jepang, pengantin pria menggunakan kimono hakama berwarna hitam, dan untuk pengantin wanita mengenakan shiromuku yang dikhususkan untuk dipakai pada saat upacara pernikahan. Shiromuku ini merupakan kimono berwarna putih sebagai simbol untuk pengantin wanita yang akan bergabung dengan keluarga baru. Dalam gaya Barat pengantin pria mengunakan jas berwarna terang atau jas hitam, dan pengantin wanita menggunakan pakaian pengantin. Pernikahan modern Jepang biasanya dilangsungkan di gereja dengan sistem agama Kristen. Uniknya meski kedua mempelai bukan penganut agama Kristen, mereka menikah dengan sistem agama Kristen. Dalam pernikahan modern, biasanya pasangan pengantin dapat melakukan acara pemotongan kue pernikahan, pertukaran cincin, bulan madu dan prosesi pernikahan Barat lainnya.
Lagi, Mama menggandengku untuk masuk kedalam. Aku menolaknya halus, tetapi kemudian beberapa orang mendatangi kami. "Ayo, kami telah menunggumu," ucap salah satu keluarga mempelai.
Pakaian mereka lebih modern, tidak mengenakan kimono dan mereka melakukan pernikahan di gereja sebagai orang kristen tetapi agama mereka tidak berubah. Pernikahan seperti ini sedang menjadi tren di kalangan anak muda.
Sama seperti tadi, kami tidak mengikuti acara hingga selesai. Mama segera mengajakku menuju lain tempat. Kali ini mobil berhenti di sebuah salon, Mama memintaku untuk melakukan treatmen secara teratur saat
"Nah, kalau ini Sakura demen nih Ma," ucapku dengan menaik turunkan Alisku.
"Siapa yang nggak mau dimanjain gini." Mama menutup mulutnya tertawa kecil.
"Emang ini salon langganan Mama?" tanyaku yang melihat Mama mendaftar.
"Iya, disini pelayanannya bagus dan lengkap. Yuk kita masuk." Mama menggandeng tanganku.
__ADS_1
Senangnya jika masih ada seseorang yang dapat diajak berbelanja atau melakukan hal-hal yang berbau wanita ini. Kami menghabiskan waktu berjam-jam disini, sedangkan Keiko menunggu dengan setia di depan. Aku juga mendapatkan massage yang membuatku menjadi sangat rilex.
Mereka memotong rambutku juga, tak pendek hanya sekedar merapikan saja. Kuku kaki dan tanganku juga mereka rawat, tak lupa wajah dan badanku ini. Tak terasa hari sudah sore, kami pun berniat untuk kembali ke rumah.
Mobil sudah melaju ke arah rumah, sedikit padat sebab sore hari adalah waktu selesainya sekolah atau pekerjaan. Sesampainya dirumah, kami segera menuju dapur untuk memasak sesuatu. Bagiku ini adalah momen luar biasa dapat berbincang dengan Mama sepanjang hari.
Biasanya Mama sangat sibuk, sehingga aku tak mempunyai banyak waktu untuk mengobrol. Bagus juga jika beliau ada di sini, tidak terlalu memikirkan pekerjaannya. Makanan telah matang, kami menatanya di meja makan.
Yama baru saja datang, aku mengambil tasnya kemudian membawakan jasnya. Secara tak langsung, Mama mengajarkanku bagaimana menjadi istri yang baik. Aku segera masuk ke dalam kamar, mempersiapkan air hangat untuknya mandi.
Sekilas aku melihat senyum puas dari wajah Yama. Dia mengecup keningku sejenak, kemudian membersihkan dirinya. Aku meletakkan pakaian bersih di atas kasur, kemudian aku meninggalkannya sendiri. Aku tak mau mataku ternoda lagi sebelum Sah.
Kuputuskan untuk menyeduh secangkir teh hijau, aku menyiapkannya untuk Yama. Dia datang, aku memberikan segelas teh hijau padanya. Suasana malam ini sangat tenang dan damai. Terlalu tenang hingga aku teringan Kenjiro.
"Kok aku nggak lihat Ken dari tadi," tanyaku membuka obrolan.
"Kata kepala pelayan, Ken sudah kembali ke London," jawab Mama.
"Kenapa mendadak sekali? Apakah ada hal serius yang terjadi?" tanyaku lagi.
"Mama kurang tahu, mungkin dia ada keperluan lain." jawab Mama.
"Tapi ... nanti kalau kita nikah, aku mau Kenjiro juga ada disini," ucapku pada Yama.
"Semua terserah padanya, kita hanya dapat memberinya undangan saja," jawab Yama dengan menyantap makanannya.
__ADS_1
"Tapi ... aku nggak punya siapa-siapa selain Nia dan Kenjiro, kalau dia nggak datang bisa bikin aku sedih," ucapku dengan menundukkan kepalaku.
"Tenang aja, nanti Mama yang akan bujuk dia," ucap Mama.