
"Halo mama ... Iya Sakura udah sampe, tapi Yama nggak antar Sakura ke rumah nenek. Ada di apartmennya Yama, baik ma." Panggilan itu kututup.
"Halo, Nia. Aku udah sampe nih, iya udah tadi. Yakuza gila itu menculikku," aku berbisik, "Dia membawaku tinggal di apartemennya. Nggak! Mana mungkin aku ijinin dia, udah deh nanti lagi ya. Bye." Aku menyudahi panggilan telepon dengan Nia.
Nia sengaja menggodaku, dia berkata bagaimana jika nanti aku dan Yama tidur seranjang. Kuharap itu tidak akan mungkin terjadi.
Apartemen ini tidak kecil, tapi juga tidak terlalu besar. Ada dua kamar, dapur, ruang keluarga, dan balkon. Untuk tinggal sendiri, ukuran kamar seperti ini sudah lebih dari cukup.
Aku menempati kamar tamu, sedangkan Yama berada di kamar utama. Aku bergegas membersihkan diriku setelah perjalanan jauh yang membuat badanku menjadi lengket. Kemudian, aku mencari Yama dengan maksud meminta tolong untuk diantar menuju rumah nenek.
"Yama," panggilku. Aku menemukannya sedang berada di ruang keluarga dengan segelas minuman.
"Ada apa? Apa kau lapar?" tanyanya.
"Nggak, aku nggak lapar, aku hanya ingin bertemu nenek." jawabku.
Aku bermaksud melindungi diriku dari godaan setan jika dua orang muda mudi bersama, alangkah baiknya jika ada orang yang lebih tua. Tapi, jawaban yang diberikannya membuatku panik luar biasa.
"Nenek sedang sibuk dan tidak dapat diganggu atau di kunjungi untuk sementara waktu. Sepertinya memang kita harus tinggal berdua selama beberapa waktu." Jawabnya dengan menggoyangkan minumannya dan tersenyum kearahku.
"A apa?! boleh nggak aku tidur di hotel?" tanyaku panik.
"Tidak boleh, itu membuang uang namanya." ucap Yama.
"B bagaimana jika Haruka tinggal disini juga? dia akan menjadi teman sekamarku." aku berbicara dengan mondar -mandir.
"Tidak bisa, Haruka mempunyai rumahnya sendiri untuk di tinggali. Kamu pilih salah satu, tidur di kamar itu atau tidur sekamar denganku." ucapnya dengan alis yang dinaik turunkan.
"Yama_san! tentu saja aku akan tidur di kamar itu." ucapku dengan berbalik pergi menuju kamarku yang berada di depan kamarnya.
Pintu kamar kita berhadapan, sehingga jika keluar secara bersamaan akan membuat keduanya beradu pandang.
Sesampainya di kamar, aku mencoba menghubungi nenek tapi nihil. Nomor telepon yang aku hubungi tak dapat menjawab, padahal jam masih menunjukkan angka 7 malam.
Tok ... tok ... tok ....
"Sakura, ayo kita makan malam." ajak Yama.
__ADS_1
"Kemana?" tanyaku dari balik pintu kamar.
"Pakailah jaketmu, kita akan makan diluar." ucap Yama.
Aku segera mengenakan celana panjang, baju turtle neck lengan panjang dan sebuah coat berwarna coklat muda. Sepatu boat tinggi dan beanie hat berwarna khaki melengkapi penampilanku malam ini.
"Aku siap!" ucapku penuh semangat dihadapan Yama.
"Baiklah, mari kita berangkat." ucapnya.
Kami keluar melalui pintu utama dan langsung menuju tepi jalan.
"Loh, dimana mobilmu?" ucapku sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan mobil Yama.
"Tidak ada, malam ini aku ingin mengajakmu mencari makanan dengan berjalan kaki." Ucapnya ragu.
"Kamu serius? beneran nggak papa nih?" tanyaku padanya.
"Kurasa aku bisa." Ucapnya dengan membusungkan dadanya.
"Hahaha ... baiklah, ayo!!" Aku berteriak kencang sambil mengepalkan tanganku ke udara.
"Tidak usah pedulikan orang lain, jadilah dirimu apa adanya." ucap Yama dengan mengusap kepalaku.
Kami menyusuri jalan yang padat penduduk malam itu, banyak muda mudi berlalu lalang. Banyak suguhan menarik bagi mataku, membuatku sangat takjub.
Kami melewati beberapa tempat dengan banyak toko pakaian, aku berhenti di salah satu toko yang memamerkan sebuah sepatu yang sangat cantik. Sepatu ankle boots dengan warna merah maroon polos, membuatku mengerjapkan mata berkali-kali.
Yama mengamatiku, dia melipat tangannya di dada. Tanpa bicara, dia menarikku masuk dan mendudukkanku di sebuah kursi. Dia tampak berbicara dengan pegawai disana dan menunjuk sepatu itu. Aku reflek berdiri dan menolaknya.
"Yama, nggak usah. Sepatuku masih banyak dirumah, aku hanya memanjakan mataku saja." ucapku degan menarik lengan tangannya.
Dia menoleh kearahku sebentar, kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan pelayan toko itu. Entah apa yang dia bicarakan tapi aku tahu pasti maksud Yama, dia akan menuruti semua keinginanku.
"Duduklah, mari kubantu kau mencoba sepatu ini." ucapnya seraya menunjukkan kotak sepatu itu.
Yama berjongkok di hadapanku dan memakaikan sepatu itu pada kakiku, pas. Kucoba melirik sedikit angka yang tertera pada box tersebut.
__ADS_1
Mahal banget nih sepatu, $580 berarti sekitar 8juta an. Wah ... nggak jadi beli deh, apa aku kabur aja yah? ucapku dalam hati lalu tertawa kecil sendiri.
"Apa yang sedang kau tertawakan?" tanya Yama masih dengan posisi berjongkok.
"Nggak ada." ucapku sambil menutup mulutku menahan tawa.
"Coba berdirilah." pinta Yama.
Aku berdiri dan melihat kaki ku di kaca, sangat pas dan cantik. Tapi, aku teringat dengan harga yang sangat mahal itu.
"Eh, Yama. Kurasa sepatu dengan kulit buaya disana terlihat bagus untukku." ucapku.
Lalu Yama segera berdiri dan berbicara lagi dengan pelayan itu. Tanpa kata-kata, aku pun bergegas mengganti sepatu boots itu dan berlari keluar toko.
Kudengar pegawai itu memanggil-manggilku, aku berlari secepatnya dan membaur bersama kerumunan orang. Yama terlihat panik dan mengejarku, mungkin dia takut jika aku tak tahu arah.
"Sakura ... Sakura_chan." Panggilnya.
Aku melambaikan tanganku tinggi kearahnya.
"Yama_san ... aku disini." Teriakku dari seberang jalan.
Dia melihatku dengan tatapan marah. Marah? kenapa? tanyaku dalam hati.
Aku berdiri diam menunggunya menjemputku, aku ingin tahu alasannya. Kulihat dia melakukan panggilan telepon saat berjalan menghampiriku. Saat dia berada di depanku, tanpa bicara dia langsung menarik tanganku untuk masuk ke dalan mobil yang entah kapan sudah parkir di sebelahku.
Mobil berjalan membelah kerumunan manusia itu, kemudian lajunya semakin cepat.
"Yama ... kamu marah?" tanyaku menyesal setengah takut.
Tak ada jawaban darinya. Aku pun membuang muka ke arah jendela, pikiranku mengulang kejadian tadi. Seharusnya kami dapat tertawa bersama, tapi kenapa dia marah?
Mobil berhenti di sebuah rumah makan mewah, Yama menggandengku turun untuk kemudian masuk kedalamnya. Sepertinya aku harus membiasakan diri untuk diasingkan, dia mengajakku menuju ruang VIP.
Makanan datang, masih tak ada suara. Aku menyantap makanan yang ada dengan muka cemberut, karena aku masih belum mendapat alasan dia menjadi marah. Kulirik Yama, dia makan dengan elegan. Sangat berbeda denganku, memang orang jepang sangat menjunjung tinggi seni dan kebersihan.
Kami pun selesai makan. Aku masih menunggunya berbicara tapi dia hanya diam, hingga Haruka masuk membawa kotak yang aku tahu isinya pasti sepatu yang tadi kucoba.
__ADS_1
Tepok jidat dulu dah!!