The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
43


__ADS_3

"Kamu suka warna putih atau warna pastel?" tanya Mama.


"Aku udah milih gaun Ma, untuk apa kain ini?" tanyaku bingung.


"Kain ini untuk upacara pernikahanmu, memakai Kimono yang di jahit dan di hias khusus untuk Kamu," jelas Mama.


"Aku suka warna putih," ucapku malas.


"Pilihan bagus, nanti dijahit dengan benang emas. Oh, sepertinya di beri payet bagus juga. Jangan lupa sulaman burung bangau, kura-kura, burung phoenix, dan Suehiro (kipas yang tidak dilipat). Bisa di sulam pakai benang emas dan perak," ucap Mama.


"Aduh Ma, terserah Mama deh. Sakura mau keluar aja, dah tante Chatrine," pamitku.


Aku berjalan menuju mobil dan meminta Keiko untuk membawaku menuju makam nenek. Aku berharap dapat mencari ketenangan disana. Keiko hanya menganggukkan kepalanya saja. Mobil melaju menuju tempat asing bagiku, daerah perkantoran.


Kenapa Keiko bawa aku kesini? batinku.

__ADS_1


Mobil berhenti di depan sebuah perusahaan besar dengan bangunan yang tinggi. Keiko membuka pintu untukku, aku yang hanya memakai pakaian rumahan merasa tidak nyaman berada di sana. Semua mata memandang ke arahku, Keiko memberi satu perintah dan para penjaga di sana mengawal kami hingga ke lantai atas.


"Keiko, kamu bawa aku ke mana nih? aku minta diantar ke kuburan nenek," aku berusaha berbicara dalam bahasa Jepang.


"Saya membawa Anda menemui tuan Ito untuk mengambil IC," jawabnya.


"IC? Apa itu?" tanyaku dengan berjalan mengekorinya.


Kami masuk kedalam sebuah ruangan besar dengan jendela besar, tak tampak tradisional. Disini semua serba modern dengan teknologi canggih. Keiko tidak perlu mengetuk pintu, rupanya ada kamera cctv di sana yang kurasa tersambung dengan ruangan Yama ini. Kami berdiri di sana, kemudian pintu terbuka.


Keiko mempersilahkan aku masuk sendiri, dirinya berada di luar. Aku berjalan masuk perlahan, tiba-tiba saja seorang pemuda mengejutkanku. Aku reflek melompat, tetapi dia mempersilahkan aku untuk duduk.


"Apakah kamu baru pertama kali masuk kedalam gedung perkantoran?" tanya Yama.


"Yya," jawabku gugup. Aku merasa malu, pasalnya aku memang tidak pernah sama sekali masuk kedalam gedung perkantoran. Untung saja nenek dan Nia pernah mengajakku masuk ke dalam mall, jadi sedikit tahu.

__ADS_1


Yama berjalan mendekatiku, "Apa kamu bermaksud menggodaku disini?" tanyanya dengan menempelkan dahinya pada dahiku. Sontak saja aku memundurkan sedikit dahiku dan memukulnya keras dengan dahiku lagi.


Dak!


"Auhh!" teriak kami bersamaan.


"Makannya jangan macam-macam. Dahi aku juga sakit nih," aku mengusap dahiku menghilangkan rasa sakit.


"Semakin lama, kamu semakin berani menggodaku. Lihat saja nanti malam, akan kuhabisi kamu," ucap Yama dengan suara rendah.


"Udah ... udah ... aku kesini mau minta IC nenek," ucapku sedikit jengkel memikirkan nanti malam.


"Kamu mau mengunjungi nenek?" tanya Yama.


"Nah iya, kan aku udah bilang minta IC. Emang buat apaan kalau nggak untuk jengukin nenek," ucapku dengan melipat tangan.

__ADS_1


Yama tiba-tiba memelukku erat dan ******* bibirku, aku sadar jika ada orang lain di sana. Aku membuka mataku dan memukulnya keras, sebab tenagaku tidak cukup untuk mendorongnya. Akhirnya Yama melepas ciumannya.


"Dasar gila?! Ada orang disini," ucapku marah.


__ADS_2