The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
42


__ADS_3

"Maafkan Sarah Ma," ucapku menyesal.


"Buka salahmu, Kamu pun harus tahu cerita ini. Yama di didik dengan keras oleh Kakek, beruntung dia sangat tangguh hingga menjadi anak seperti sekarang," ucap Mama. Aku hanya manggut-manggut.


"Mungkin ini adalah karma, dia memilihmu bahkan memaksamu untuk menikah dengannya. Tapi, apakah kamu mencintainya?" tanya Mama padaku.


"Aku mencintainya. Tapi aku nggak mau nikah dulu Ma," jelasku.


"Mama hanya menghormati budayamu, lebih baik menikah dahulu daripada ada kejadian di luar nikah," nasehat Mama.


"Nah, itu sebabnya Sakura minta boboknya di kamar Mama aja." Aku tersenyum lebar.


"Mama nggak tahu, sepertinya Yama nggak akan ngijinin kamu tidur sama Mama," ucap Mama menyesal.


"Yah ... gimana dong Ma. Aku belum siap," ucapku takut.


"Yama pasti akan mengerti, cobalah untuk bicara baik-baik," ucap Mama.

__ADS_1


Kami menghabiskan pagi itu dengan sarapan dan mengobrol. Keiko mengingatkanku tentang kelas bahasa dengan Sinta. Kami bergegas pulang, perjalanan tidak memakan waktu lama sebab rumah makan itu berada di dekat rumah.


Beberapa saat kemudian kami telah sampai di rumah. Mama tidak turun, beliau berkata jika ada urusan lain di luar rumah. Aku dan keiko berjalan memasuki rumah, kulihat Sinta tengah berbincang denga Kenjiro.


"Seru nih, ngobrol apaan sih?" tanyaku.


"Pingin tahu atau cemburu?" goda Ken.


"Nggak, kamu bebas Ken mau jatuh cinta sama siapa aja. Sama Sinta juga boleh kok," ucapku dengan merangkul pundak Sinta.


"Aku nggak mau, dari dulu sampai sekarang aku cuma jatuh cinta sama Kamu," ucapnya terdengar serius.


Aku berusaha belajar dengan serius, pasalnya Ken terus mengamatiku. Dia menatapku tajam penuh arti. Keiko yang menyadari hal itu terus menutup pandangan Ken. Ia terlihat berbicara dengan earphone nya, menekan sedikit ke lubang telinganya.


Selesai sudah acara belajarku hari ini. Keiko mengajakku ke suatu tempat, padahal Sinta belum pulang. "Titip Sinta ya Ken, aku pergi dulu," ucapku terburu-buru dengan melambaikan tangan. Keiko tidak banyak bicara sebab dia mengerti jika aku sendiri masih belajar bahasanya, sehingga dia menarik tanganku kesana kemari.


Kali ini kita berada di jalan utama yang padat, tiba-tiba ponselku berdering. Mama menghubungiku, dia memintaku untuk datang ke tempat dia berada sekarang. Aku meminta Keiko untuk mengantaku ke tempat Mama, dia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

__ADS_1


Mobil berhenti di sebuah butik yang tidak terlalu besar, tetapi ini adalah salah satu butik terkenal di tempat ini. Keiko mempersilahkanku untuk masuk, dirinya mengekoriku. Aku melihat Mama sedang berbincang dengan seseorang, aku rasa dia adalah sang pemilik toko.


"Mama," panggilku.


"Sakura_chan, kenalin ini temen Mama. Dia adalah pemilik butik ini, namanya Chatrine," ucap mama.


"Bule ma? tapi kok kayak orang jepang?" tanyaku kemudian.


"Dia keturunan Eropa-jepang. Yuk, masuk coba gaun ini," pinta Mama padaku.


"Gaun?" Aku masih bingung.


"Bukankah pernikahan kalian 1 minggu lagi? kalau nggak siap-siap sekarang mana sempat," ucap Mama gaulku.


"Aduh ma, belum tentu juga. Nanti malam aku mau ngomongin hal ini sama Yama," tolakku.


"Udah di coba aja dulu, Mama tau watak Yama. Sekali A nggak mungkin bisa berubah B."

__ADS_1


Akupun mencoba berbagai macam gaun dan Mama mengajakku untuk memilih kain.


"Kain? Untuk apa?" tanyaku.


__ADS_2