The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
29


__ADS_3

Mobil melambat setelah sampai di sebuah perumahan mewah, bangunan yang ada di sini besar-besar dan sangat tradisional. Aku tak tahu daerah ini dan belum pernah melewatinya.


Setelah beberapa saat, mobil masuk kedalam sebuah mansion dengan patung kucing besar di depan.


"Kita sudah sampai nona." ucap Keiko.


"Terimakasih." ucapku dengan memaksakan senyuman.


Aku menekan tombol bel yang ada disana, dan berbicara dengan bahasa jepang yang telah ku pelajari selama beberapa hari.


"Selamat malam, aku Sakura ingin bertemu dengan nenek Megumi." Ucapku pada alat itu.


Tettt!! Suara datang dari arah pintu, kemudian pintu itu terbuka dan keluar seseorang dari dalam sana.


Aku membungkukkan badan memberi salam, kemudian Keiko membantuku untuk berbicara. Keiko menyampaikan maksud dan tujuan kami datang ke tempat ini.


Paman itu membungkukkan badannya padaku, kemudian dia meminta kita untuk mengikutinya. Kita memasuki sebuah lorong panjang, dengan pemandangan halaman samping rumah di sebelah kiri dan pintu-pintu ruangan di sebelah kanan.


Tibalah kita di sudut ruangan, paman membuka pintunya dan mempersilahkan aku masuk. Nenek sedang duduk bersimpu dengan senyum lembut khas nya.


"Nenek ...," aku berlari kepadanya dan memeluknya, "Sakura kangen nenek, aku ingin tinggal dengan nenek saja." aku merengek padanya.

__ADS_1


Kemudian nenek menepuk lembut kakinya, tanda bagiku untuk berbaring di sana. Aku berbaring dengan kepala berada pada kaki nenek tanpa berpikir panjang, nenek segera membelai lembut rambutku.


"Sakura_chan, terkadang apa yang kamu lihat belum tentu sama dengan kebenarannya." ucapnya seolah-olah mengerti mengapa aku menangis.


"Nenek nggak tahu sih perasaanku." Aku cemberut dengan nada ngambek.


"Sakura_chan memang paling menggemaskan saat sedang marah, ceritalah dan nenek akan mendengarkan." ucap nenek.


"Yama ... Yama dan Haruka ... hiks ...huwaa ...." Lanjutku dengan tangisan.


Kulihat lelaki tadi marah dan mengeraskan rahangnya saat aku berbicara Yama dan Haruka.


"Tidak mengapa, biarkan saja. Ayo lanjutkan ceritamu." ucap nenek dengan belaian yang tak berhenti.


"Nek, apakah aku salah jika mencintai Yama?" tanyaku kemudian.


"Bagaimana bisa kamu berkata itu salah? bukankah kalian adalah sepasang kekasih?" tanya nenek lagi.


"Iya, kita memang kekasih. Tapi, aku takut jika Haruka dan Yama saling mencintai. Makannya aku meminta Yama untuk mengganti asistennya, barulah ketahuan malam ini tadi." ucapku.


"Memangnya apa yang terjadi malam ini?" tanya nenek lembut.

__ADS_1


"Yama_san sakit dan aku meminta tolong bantuan Haruka untuk memanggil dokter. Setelah dokter pulang, Haruka membuat bubur untuk Yama dan nggak anggap aku ada disana." Aku menangis kembali.


Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dengan kasar, membuatku terperanjat kaget dan berdiri. Yama datang dengan pakaian piyamanya dan keadaan yang sangat kacau.


"Sakura_chan, kenapa kamu meninggalkan ku?" Ucapnya lemah.


Dia berjalan ke arahku dengan sempoyongan.


"Yama?! mengapa kamu ada disini? bukankah Haruka sedang menyuapimu bubur?" tanyaku dengan perasaan sesak.


"Tidak! aku tidak mau dia, aku mau kamu!" ucap Yama.


Nenek berdiri, mengambil tongkat ajaibnya dan,


POK!! POK!! POK!!


"Berani kamu buat Sakura menangis dan salah paham?! sudah nenek bilang dari dulu untuk menempatkan Haruka di lain pekerjaan?" ucap nenek marah.


Aku tidak mendukung nenek, justru aku menjadi pelindung Yama.


"Stop nek, udahlah. Kasian si Yama, dia sedang sakit." ucapku.

__ADS_1


__ADS_2