The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
25


__ADS_3

Kami berkeliling seharian hingga hari mulai gelap. Sebelumnya, Haruka telah mengajakku untuk makan siang di salah satu rumah makan yang terkenal.


Kami kembali ke rumah, ternyata Yama sedang menunggu kami.


"Pintar sekali, keluar lewat dari jam pulangku?!" bentak Yama saat itu.


Nyaliku ciut seketika, dia marah. Baru kali ini aku melihatnya marah, dia berjalan menghampiriku. Air mataku tak dapat kubendung lagi dan.


PLAK!!


Suara tamparan keras itu membuat air mataku semakin jatuh tak terkendali. Beruntungnya bukan aku yang di tampar, melainkan Haruka.


Yama memarahi Haruka sebab tidak menjadwalku dengan baik, bahkan tidak membawaku untuk menemui Yama. Jantungku serasa mau copot saat ini, matanya sangat merah dengan rahang yang mengeras.


"BUBAR!!" Yama berteriak.


Seketika ruangan rumah ini menjadi sepi, hanya tersisa kita berdua. Aku masih berdiri mematung di sana, tak berani bergerak. Ayah dan ibuku tidak pernah membentakku, bahkan bentakan Sherly dan kawan-kawan tak semengerikan ini.


Yama tersadar saat melihatku mematung dengan air mata yang tak berhenti mengalir, dia menghela ku menuju sofa. Kulirik Yama sedang memasak sesuatu di pantry, baunya sangat enak.

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian, makanan telah tersaji diatas meja. Sup Miso hangat dengan teh hijau untukku dan sake untuknya.


"Makanlah." Ucapnya lembut.


Aku mengambil sendok dan mulai makan dalam diam. Tanganku bergetar, rasa takut itu masih melekat. Yama makan dengan lahap, sepertinya dia sangat kelaparan. Dia selesai lebih dahulu.


"Maafkan aku, aku tidak marah padamu. Sudah pernah kukatakan jika aku tidak akan bisa marah padamu." Yama membelai pipiku lembut.


Air mataku mulai turun lagi, bibirku bergetar, sup Miso yang enak itupun tak dapat kutelan.


"Jangan menangis, kumohon jangan menangis. Selesaikan dulu makanmu, maaf jika aku mendahuluimu. Aku belum makan seharian ini." ucapnya.


"Apa?! bagaimana bisa?!" kini giliranku marah.


"Aku gemas banget lihat wajahmu sok imut seperti ini." ucapku gemas.


Yama tersenyum lebar menunjukkan gigi rapinya. Aku mengisi lagi mangkok sup nya, rasa takutku hilang sudah. Kurasa, aku benar-benar mulai mencintainya.


Yama memelukku erat, sedangkan aku terus saja mengomel tanpa henti. Yama masih tetap setia mendengar omelan dan ceritaku tentang hari ini, aku sangat bersemangat hingga air mata tadi berubah menjadi tawa.

__ADS_1


Kami selesai makan dan meja telah ku bersihkan, aku bergegas masuk kedalam kamar dan menggati bajuku dengan baju tidur. Tiba-tiba saja suara pintu kamarku di ketik.


Tok ... tok ... tok ...


"Apa Yama?" teriakku dari dalam kamar.


"Ijinkan aku masuk." pinta Yama.


"Nggak boleh! enak aja, udah malem mau masuk-masuk!" teriakku.


"Sakura_chan." panggilnya dengan suara mendayu.


Aku tak menjawab.


"Aku hanya ingin tidur berdua denganmu, aku janji tidak akan berbuat macam-macam padamu." ucapnya memelas.


"Kamu tidur peluk guling aja sana! pokoknya aku nggak mau!" tolakku mentah-mentah.


"Kalau begitu, ijinkan aku tidur di depan kamarmu." ucap Yama.

__ADS_1


"Terserah! mau tidur di mana aja terserah, pokoknya nggak tidur sekamar sama aku." ucapku.


Hening tak ada suara, kukira Yama tidak akan benar-benar tidur di depan pintu kamarku. Tapi aku salah, aku melihat bayangan bergerak-gerak dari celah bawah pintu kamarku.


__ADS_2