The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
24


__ADS_3

Pagi ini aku terlambat bangun, entah karena kasurnya sangat nyaman atau karena aku terlalu kelelahan. Aku meregangkan otot-ototku sambil menggeram, sangat nikmat sekali. Aku pun bersiap untuk memulai hari ini.


Saat keluar dari pintu kamar, aku mendengar suara beberapa orang sedang bercakap-cakap. Ku urungkan niatku mengetuk pintu kamar Yama, aku mencoba mencari tahu asal suara itu.


Kulihat Yama bersama Haruka dan tiga orang lainnya sedang berbincang di ruang keluarga, sehingga mau tak mau aku bergabung dengan mereka.


"Selamat pagi putri tidur." ucap Yama dengan mengecup keningku.


"Yama! malu tau!" ucapku.


"Tapi aku tidak merasa malu." Ucapnya tanpa dosa.


Aku mendengus kesal dengan sikapnya yang suka seenaknya sendiri.


"Ini adalah Reno, dia adalah pengawal pribadimu, lalu Siska guru bahasa dan terakhir Keiko asisten pribadimu." terang Yama memperkenalkan semua orang yang ada disana.


"Aku tidak butuh pengawal pribadi dan mengapa asistenmu perempuan, sedangkan asisten pribadiku bukan laki-laki?" ucapku.


Jujur saja, aku sedikit merasa cemburu jika membayangkan Yama bersama Haruka sepanjang waktu. Semua hal tentang Yama pasti diketahui oleh Haruka, aku merasa tidak nyaman.


"Baiklah, aku akan memakai asisten pribadi pria mulai besok. Haruka dapat menjadi asisten pribadimu, dan Keiko menjadi pengawalmu." Yama memutuskan.


"Oke aku setuju, mulai hari ini Haruka akan tinggal disini dan tidur bersamaku." ucapku sambil menahan tawa.


Aku tahu pasti, Yama akan menolak.


"Tidak bisa, apartemen ini hanya milikku dan milikmu. Tidak boleh ada orang lain yang menginap disini." tolak Yama cepat.


"Oke, oke tapi boleh kan aku tinggal di rumah nenek?" tanyaku.


"Sementara kita tinggal di sini dahulu, nenek akan menghubungimu nanti jika urusannya selesai." ucap Yama.


Aku mengangguk pasrah, memikirkan seribu satu jurus untuk menghindarinya saat malam tiba.


"Mulai hari ini Siska akan mengajarkan bahasa Jepang setiap hari selama 2 jam, sisa waktu dapat kamu gunakan untuk berbelanja ataupun jalan-jalan bersama Haruka dan Keiko." ucap Yama.


"Kamu nggak ikut?" tanyaku.


"Aku harus bekerja, sudah cukup masa liburku." ucap Yama.

__ADS_1


"Yah ... nggak seru dong." ucapku lemas.


Sepertinya aku mulai terbiasa dengan keberadaan Yama, kata-katanya kali ini entah mengapa membuatku merasa sangat kecewa dan kesepian.


"Kamu dapat mengunjungiku kapan pun kau mau." ucap Yama kemudian dengan mengelus kepalaku.


"Lalu menculikmu untuk menemaniku seharian." ucapku dengan gerakan tangan seolah-olah akan mengambil sesuatu.


Beberapa orang disana tampak menahan tawanya, tapi tidak dengan Haruka. Ekspresinya datar, mungkin terlalu lama hidup tanpa cinta.


"Hahaha ... Boleh, coba saja culik aku." ucap Yama menyodorkan tangannya padaku.


"Nggak jadi deh, kamu kerja aja. Nanti bahaya kalau kamu ikut aku jalan-jalan." ucapku, aku mendorongnya pelan.


"Jangan buat aku gemas, aku sedang berusaha menahan sesuatu." ucap Yama dengan suara berat.


Kali ini hanya Siska yang tertawa, karena hanya dia yang dapat mengerti bahasa kami.


"Baiklah tuan Ito, silahkan berangkat bekerja" kataku, aku merapikan sedikit dasinya kemudian menepuk jasanya perlahan.


"Tunggu aku nanti malam, akan kuhabisi kau." ucap nya lagi saat dirinya berjalan keluar pintu.


"Takut." kataku mengejeknya dengan gerakan berpura-pura gemetar.


"Saya salut dengan anda nona." ucap Siska dengan tertawa kecil.


"Kenapa?" tanyaku, untunglah masih ada orang yang dapat kuajak berbicara bahasa Indonesia.


"Tuan Yama termasuk dalam jajaran orang yang ditakuti dan disegani di kota ini."


"Benarkah? jadi, lebih baik aku takut atau senang?" aku memancing cara berpikir Siska.


"Anda seharusnya bahagia bisa mendapatkan hati tuan Ito." ucap Siska formal.


"Aduh, nggak usah terlalu formal kalau ngomong sama aku. Aku bukan Yama." ucapku.


Siska melirik ke arah Haruka, kemudian dia menundukkan kepalanya.


"Maaf nona, saya tidak berani." Siska merendahkan suaranya lagi.

__ADS_1


Aku mengerti mengapa dia tidak berani, karena ada harimau dibelakangku. Terkadang aku merasa tidak dapat bergerak bebas, mungkin seperti inilah yang dirasakan Yama dulu.


Selama dua jam aku belajar dengan sungguh-sungguh, Siska memintaku untuk sering mempraktekkannya. Sedangkan Haruka dan keiko duduk diam menungguku belajar.


"Kelas hari ini telah selesai, saya pamit undur diri." pamit Siska.


"Dah Siska ... ketemu lagi besok, biar nggak sepi." ucapku dengan melambaikan tanganku padanya.


Aku melemparkan tubuhku ke atas sofa empuk yang ada di ruang keluarga itu.


"Hhh ... ngapain lagi ya enaknya, biasanya selalu ada Yama. Bisa ngobrol juga, eh sekarang tiba-tiba jadi sepi." aku bergumam sendiri sebab Haruka dan Keiko tidak mengerti apa yang aku ucapkan.


Aku merogoh kantongku untuk mengambil ponsel, aku berniat menghubungi mama dan Nia. Kami mengobrol seru selama beberapa jam, sesekali aku melihat Haruka dan Keiko. Mereka berdua tampak sibuk dengan gadgetnya masing-masing.


"Aaa ... bosannya!" teriakku tiba-tiba membuat kedua orang yang ada dihadapanku kaget dan memasang sikap waspada.


"Ada apa nona?" tanya Haruka dengan bahasa Inggrisnya.


"Nothing, i just feel so bored." jawabku.


"Apakah anda ingin berjalan-jalan?" tanya Haruka lagi.


"Boleh, boleh ayo kita berangkat." ucapku.


Aku bergegas masuk kedalam kamar, memakai ankle boots merah pemberian Yama kemarin, coat berwarna soft pink dan topi barret.


"Bagus, ini sepertinya sudah pas." ucapku di depan cermin.


Jika mengulas kembali hidupku yang dahulu, mungkin aku tidak akan pernah bisa memakai baju dengan size XS ini. Memang semua sudah ada yang mengatur, jalan hidup kita pun demikian.


Tapi, aku merasa sangat puas dengan hasil kerja kerasku menguruskan badan selama ini. Hingga kini, aku dapat memakai model baju apa saja dan sangat bagus di badanku.


Berkat perawatan yang aku jalani, kulitku tak sehitam dulu dan wajahku pun bening bersih. Itu karena Yama selalu memaksakan keinginannya, jadi dia menjadwalkan ku di klinik kecantikan ternama yang ada di kotaku dulu.


Saat ini, kami sedang berjalan-jalan mengendarai mobil mewah yang telah disediakan Yama untukku. Haruka menjelaskan apa saja yang ada disekitar lingkungan rumah kami, juga beberapa nama jalan.


Disini lebih dikenal dengan distrik. Ternyata, aku tinggal di Tokyo distrik Hiroo-Shibuya. Tempat yang sangat ramai.


Hiroo adalah sebuah distrik di Shibuya, Tokyo , Jepang. Berbatasan dengan Ebisu , Minami-Azabu , Nishi-Azabu dan Minami-Aoyama , Hiroo adalah lingkungan perumahan dan perkulakan kelas atas di pusat kota Tokyo.

__ADS_1


Keiko membawa kami memasuki berbagai tempat wisata yang ada di Shibuya, berbagai kuil, bangunan-bangunan bersejarah serta Meiji Jingu.


Aku sangat bersemangat mendengar sejarah dari tempat-tempat yang ku kunjungi, mendapat ilmu baru membuatku semakin takjub dengan negara ini.


__ADS_2