
Aku tak mengira jika Keiko akan ikut bersama kita, Yama memberitahuku bahwa Keiko akan selalu berada di sisiku kemana pun aku pergi. Kami berangkat menuju Universitas yang dimaksud, aku mencoba menghafalkan jalan-jalan yang kulewati ini.
Yama berfokus pada ponselnya, sedangkan aku mencoba mengupgrade bahasaku dengan Keiko. Perkembanganku cukup lumayan untuk bekalku di sana nanti. Mobil memasuki area kampus yang asri dengan banyak pepohonan disana-sini, para mahasiswa berlalu lalang sangat ramai.
Yama turun dari mobil dan mengajakku menuju suatu tempat, aku mengekorinya tanpa rasa curiga. Sesekali aku menyapa mahasiswa lain yang ada di sana, tapi kurasa Yama tidak suka. Dia mundur untuk mensejajariku dan kemudian berjalan dengan merangkul pinggangku.
"Jangan tersenyum pada lain orang," ucapnya dingin.
"Apaan sih! senyum aja nggak boleh," omelku.
Kita naik menuju lantai tertinggi, perasaanku mulai tak enak. Kami memasuki salah satu ruangan besar disana. Benar saja sudah banyak orang yang berkumpul di sana. Mereka bergegas berdiri dan membungkuk memberi salam saat kami memasuki ruangan.
Tepok jidat aku lah kalau universitas ini masih di bawah kendali Yakuza gila! ihhh, gemes banget. Batinku kesal.
Yama duduk di kursi paling besar denganku yang berada di sebelah kanannya, sedangkan Keiko berdiri di belakangku. Yama memulai dengan memperkenalkan diriku sebagai istrinya. Dia meminta agar semua orang membantuku, dalam artian menjagaku.
"*Keiko, mereka ini siapa sih?" bisikku pada Keiko.
"Mereka adalah Dekan, Wakil Dekan, senat, para Dosen, dan para pengurus Universitas ini*." jelas Keiko.
Aku menutup mulutku tak percaya, seberapa besar kekuasaan Yama sebenaranya? hal ini membuatku bertanya-tanya. Yama meminta mereka untuk membimbingku maksimal di berbagai mata kuliah, salah satu yang wajib adalah bisnis dan manajemen. Tetapi pilihannya sangat bertolak belakang dengan cita-citaku, sehingga aku mengeluarkan suaraku. "Tidak! aku ingin menjadi seorang dokter gigi!" bantahku dengan berdiri dan menatap tajam ke arah Yama.
Semua orang tampak terkejut dengan keberanianku, pasalnya selama Yama berbicara tidak ada yang berani memotong atau bertanya. "Duduklah, kamu masih dapat mempelajari ilmu kedokteran jika tidak merasa lelah," ucap Yama dengan suara lembutnya.
__ADS_1
Sepanjang percakapan, Yama tidak melembutkan suaranya. Dia bertutur kata lembut hanya padaku saja. Semua yang ada disana semakin menurunkan rahangnya, mereka kini tau jika aku benar-benar istrinya. Aku benar-benar kesal dibuatnya, dia merebut cita-citaku untuk menjadi seorang dokter.
"Aku akan membuktikan kalau aku juga bisa jadi dokter, akan kucabut semua gigimu!" Aku tertawa dengan memperagakan gerakan mencabut gigi.
"Nona." Keiko memanggilku pelan tepat di belakang telingaku.
Panggilannya menyadarkanku jika aku masih berada di ruang rapat. Beberapa dari mereka mengerti bahasa Indonesia sehingga mereka menahan tawanya. Aku menunduk malu dan kembali duduk dengan tenang.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Yama padaku.
"Sudah!" Aku masih kesal padanya.
Yama melanjutkan kembali percakapannya, entah apa saja yang dia bahas. Beberapa hal mengenai fasilitas dan keamananku pun juga masuk kedalam pembahasannya. Aku hanya menginginkan semua berjalan wajar apa adanya, tetapi nyatanya tidak. Aku merasa tidak bebas.
Kami berjalan melewati lapangan basket, kemudian aku menarik tangannya keras. Yama menoleh kearahku dengan raut wajah tanya. "Kenapa?"
"Aku nggak mau kuliah cara seperti ini!"
"Ada masalah dimana?"
Ya Lord! kenapa dia nggak peka banget sih!
"Aku mau ngikutin semua kegiatan dari awal, aku nggak butuh pengawal dan aku mau belajar dengan sewajarnya," jelasku padanya dengan tegas.
__ADS_1
"Kamu akan menerima pelajaran yang terbaik dan tidak perlu repot mengikuti banyak kegiatan tidak berguna itu."
"Nggak mau! aku nggak mau pulang!" ancamku dengan melipat tanganku di dada.
Yama tiba-tiba memanggulku, membuatku teringat pada Kenjiro yang memaksaku untuk ikut dengannya beberapa tahun lalu. Aku memukuli punggungnya, tetapi Yama tetap berjalan dengan elegan. Mahasiswi yang ada disana berteriak histeris melihat Yama, mereka mengidolakan sang Yakuza.
Telat amat teriaknya? dari tadi kemana aja neng.
Yama menurunkanku di dalam mobil, kemudian dia memintaku bergeser. Aku melipat tanganku di dada tak mau bergerak sehingga Yama menuju pintu lain. Dengan cepat ku tutup pintu mobil dan menguncinya, Yama terlihat kesal. Aku menjulurkan lidahku padanya. Bodohnya aku, Keiko membuka pintu itu untuk Yama.
"Kamu kenapa selalu membela Yama sih? kamu asistenku atau bukan?" Tanyaku kesal.
"Maafkan saya nona, tetapi Tuan Ito tetap menjadi yang utama," jawab Keiko yang melihatku dari kaca spion.
Yama masih bersikap tenang, dia kembali berkutat dengan ponselnya. Aku yang masih marah merebut ponsel itu dari tangannya, berharap dia akan melihatku. Yama melepas kacamatnya, memajukan badannya untuk menekan tombol sekat penutup. Aku tidak mengira jika dia akan melakukan hal gila disini. Yama melonggarkan dasinya dan membuka jasnya, membuatku bergerak mundur hingga membentur pintu mobil.
"A,apa?!" tantangku dengan suara gemetar.
"Kenapa kamu sangat susah diatur kucing kecil?" tanya Yama dengan suara rendah.
"A,aku cuma nggak suka di perlakukan lain."
"Aku memperlakukanmu sangat istimewa, aku melindungi dan memberikan yang terbaik untukmu," ucapnya dengan menarik tanganku hingga aku menabrak tubuh bidangnya.
__ADS_1
"Yamaa jangan ... jangan ..." Aku mendorong keras tubuhnya.