
POV SARAH.
"Hachuu!! Hachu!" Yama bersin-bersin.
"Sudah kubilang jangan tidur di depan pintu, nggak nurut banget sih jadi orang." Ucapku menggelengkan kepala heran.
Pagi ini Yama terkena demam, setelah selama beberapa hari dirinya nekat tidur di depan kamarku. Meskipun telah di usir, Yama tetap bersikeras tidur di sana.
"Aku sangat senang ketika mempunyai banyak waktu untuk berbincang denganmu." ucapnya dengan suara sengau.
"Ya nggak gitu juga. Sepulang kamu kerja, kita masih bisa ngobrol." gerutuku.
Aku sangat gemas padanya, dia rela sakit hanya demi bisa dekat denganku.
"Aku berangkat kerja pagi hari dan pulang larut malam, masih tidak puas berbincang dan memandangmu hanya dalam waktu beberapa jam saja." keluhnya
"Ya, aku tahu. Aku juga merasa kesepian dirumah terus nggak ada kerjaan, kuliah belum mulai dan tak ada kamu." ucapku jujur.
__ADS_1
"Jadi, kamu merindukanku?" tanya Yama dengan wajah yang gembira.
"Iya, makannya cepat sembuh. Aku juga nggak suka lihat kamu sakit gini." ucapku.
"Baiklah sayang, coba kalau kamu mau tidur denganku, aku pasti tak akan sakit." gerutu Yama.
"Usir jauh-jauh lah keinginanmu itu, aku nggak bakal mau. Kalau ada setan lewat bisa bahaya, ibuku dulu bilang begitu." cerucutku.
"Hachuu! baiklah, aku tidak akan memaksa lagi. Aku ingin tidur, kepalaku terasa sangat berat." Keluh Yama.
"Tidurlah, aku akan disini menemanimu." ucapku.
Aku memutuskan untuk menghubungi Haruka dan memintanya untuk memanggil dokter, beberapa saat kemudian dokter pun datang dan memeriksa Yama.
"Tuan Ito hanya demam dan flu, cukup istirahat dan minum obat ini akan membuatnya lekas sembuh." ucap sang dokter.
Haruka mengucapkan terimakasih pada sang dokter, kemudian dia segera keluar menuju pantry dan memasak bubur untuk Yama.
__ADS_1
"Haruka? terimakasih sudah membantu, dari sini aku bisa sendiri." ucapku padanya.
Haruka tak menggubrisku, dia menepis tanganku kasar saat akan mengambil alih pekerjaannya membuat bubur. Aku sangat kaget dengan perlakuannya padaku, apakah aku menjadi orang yang kejam telah merebut Yama darinya?
Dia membawa mangkuk bubur itu melewatiku dan menuju kamar, hatiku terasa sangat sesak. Bagaimana mungkin ketakutanku menjadi kenyataan, Haruka mencintai Yama.
"Keiko, antar aku ke rumah nenek sekarang!" perintahku padanya memakai bahasa jepang yang belepotan.
"Maaf nona, saya tidak dapat memenuhi permintaan anda." ucapnya.
"Aku berangkat sendiri kalau kamu nggak mau antar aku!" ancamku.
Aku bergegas keluar tanpa menunggu jawaban darinya. Benar dugaanku, tak lama kemudian Keiko menyusulku.
"Nona Sakura, maafkan aku. Aku akan mengantar anda." ucap Keiko.
Kami dalam perjalanan menuju rumah nenek, entah apa yang terjadi di rumah Yama. Aku tak ingin memikirkannya, dadaku menjadi sangat sesak. Air mataku mengalir tanpa ijin, mengapa mencintai bisa sesakit ini. Tak dapat bersama orang yang dicintai, sekalinya dapat menerima dan mencintai orang lain justru ada penghalang.
__ADS_1
Perjalanan kali ini tak dapat kunikmati, aku tidak dapat berpikir jernih. Haruskah aku mundur? ataukah memperjuangkan orang yang mencintaiku? Ataukah aku harus kembali bersama Kenjiro? Aku butuh nenek, orang yang akan menjadi tempatku mengadu.
Aku terlanjur mencintai Yama. Kegigihannya selama ini membuatku luluh, meskipun caranya untuk mencintaiku sangatlah unik. Tapi, aku terlanjur merasa nyaman bersamanya.