The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
47


__ADS_3

"Nggak, kita nggak ngelakuin itu kok. Aku masih suci, masih ting-ting," ucapku dengan senyuman lebar.


"Nggak usah maksa senyum kalau nggak bisa senyum." Kenjiro memang paling tau diriku. Aku menatap matanya, dia tetap sama seperti dulu. Tapi aku segera menepis pikiran dan rasa itu sebelum hatiku kembali menjadi bimbang.


"Aku cuma bingung aja, gimana kehidupanku besok setelah menikah. Menikahi ketua Yakuza yang pastinya berhubungan dengan darah dan wanita." Aku menunduk lesu.


"Kalau kamu nggak mau, bilang aja. Atau kita kabur aja, aku bisa bekerja untuk hidupin kamu," ucap Ken semangat.


Aku tersenyum lembut padanya, "Maaf Ken, aku nggak bisa. Hatiku udah jadi miliknya."


"Kamu nggak mungkin cinta sama dia! Kamu terpaksa kan?" ucap Ken, dia masih tidak dapat menerima kenyataan.


Aku menggeleng pelan, "Aku sungguh-sungguh," ucapku kemudian.


Kenjiro berpaling dengan marah, dia mengambil motornya dan menyalakanya. Dia mengegas dengan keras dan melajukan motornya cepat, membuat jalanan yang lengang itu menjadi berisik. Aku memejamkan mataku erat, merelakannya adalah hal yang harus aku lakukan.

__ADS_1


Yama menghampiriku, dia mengecup pucuk kepalaku sayang dan menghelaku masuk ke dalam. Mama terlihat sedang menonton televisi, Aku dan Yama bergabung dengannya. Suasana menjadi canggung, Mama tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Tiba saatnya kami kembali ke kamar. Aku melirik sedikit ke luar, tak ada tanda-tanda dari Kenjiro. Yama mengelus punggungku sayang, dia rupanya tahu yang kupikirkan. Dia mengajakku untuk beristirahat.


"Tidurlah, aku akan tidur di sofa," ucap Yama. Dia mengambil bantalnya. Aku mengangguk dan mencoba memejamkan mata, tetapi tak bisa. Kemudian aku memanggilnya.


"Yama ... " panggilku dengan mendayu.


"Hmm," jawabnya.


Sudah jelas Yama sangat gembira dengan permintaanku, dia naik ke atas kasur dan menjaga sikapnya. Aku menoleh dan menatapnya aneh, tidak seperti biasanya. "Kamu kenapa?" tanyaku pada Yama.


"Aku tidak mau memaksamu, kamu menangis karena hal itu bukan?" tanya Yama. Aku meraih tangannya, kulingkarkan dipinggangku.


"Bukan hanya itu, aku nggak bisa bayangin jadi istri ketua Yakuza dan pemilik perusahaan besar yang mempunyai segudang wanita," ucapku dengan menghadap ke arah berlawanan darinya.

__ADS_1


"Kenapa? Semua wanita mengejar kedudukan ini," tanyanya bingung padaku.


"Nggak semua wanita, aku nggak suka harta dan kedudukan. Aku mau kasih sayang tulus, kejujuran, dan kepercayaan. Aku mau rumah tangga yang harmonis, agar kelak semua anak-anak kita tumbuh dengan baik," ucapku dengan pandangan menerawang.


"Maafkan aku, melepaskan jabatan sebagai ketua Yakuza tak semudah itu. Aku harus melewati tantangan hidup atau mati. Tetapi jika itu membuatmu bahagia, maka aku akan melakukannya,"ucap Yama.


Aku menoleh cepat kearahnya, mata kami beradu pandang. " Nggak! aku nggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu," ucapku dengan air mata yang menumpuk di pelupuk mataku.


"Maafkan aku, aku berjanji akan menjagamu. Tidak akan kubiarkan sesuatu yang buruk menimpamu," janji Yama padaku.


Ciuman kali ini terasa berbeda, aku menyerah. Aku memberikan seluruh diriku padanya. Aku membalas setiap pergerakannya. Tapi kemudian dia berhenti, "Tidurlah, aku tidak ingin melakukannya sebelum kau siap,"ucap Yama.


Aku memeluknya erat "Terimakasih sayang, aku akan terus mencintaimu," ucapku.


Yama mengecup keningku sebelum dia menuju kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu di sana, aku sedikit merasa lega dengan keputusannya ini. Sesudahnya, Kami berdua tidur dengan berpelukan dalam damai.

__ADS_1


__ADS_2