
Yama merobek pakaiannya untuk membalut luka Sarah, kini mereka dalam perjalanan untuk menyelamatkan putra semata wayangnya.
***
"Kemana wanita sialan itu? kenapa dia sangat lama sekali?!" Seorang lelaki berjalan mondar-mandir diatas dek dengan gusar.
"Bos, sepertinya kita harus berangkat sekarang. Beberapa anak buah Tuan Ito terlihat berjaga di dekat sini."
"Sial! Bagaimana bisa dia membaca pergerakan kita?!"
Pria itu menggeram, dia melemparkan kunai ke arah anak buahnya. Kunai itu menancap sempurna di leher pengawal itu, dia ingin berteriak kesakitan tetapi pita suaranya terputus. Pengawal itu mencabut kunai milik Bosnya, seketika darah muncrat dari lehernya.
Pengawal itupun tumbang, darah tersebar di mana-mana. Keiko melihat pemandangan itu, dia berharap Ichiro baik-baik saja. Ichiro di bawa menuju dek bawah kapal, dia ditempatkan bersama beberapa anak lain dan Ayumi.
Penjagaan tidak terlalu ketat, hanya ada satu orang saja disana. Ichiro tampak berpikir, otaknya melampaui anak normal seusianya. Dia berjalan berkeliling mencari sesuatu untuk digunakan, Ichi mencoba mengumpulkan anak-anak yang berani melawan bersamanya. Rapat dadakan selesai, tetapi Ayumi masih menangis sesenggukan.
__ADS_1
Ichiro berhenti sejenak, dia menghibur gadis kesukaannya itu. "Mayu jangan nangis, nanti biar Papaku yang akan memukul mereka semua."
"Aku ... aku pingin ketemu Mama," tangis Mayu semakin keras.
Ichiro melihat penjaga yang mulai kesal dengan suara tangisan Mayumi. Dia masuk kedalam dan menampar keras Mayu hingga tubuhnya terpental menabrak lantai. Mata Ichiro berubah menjadi merah, nafasnya memburu.
Ichi bergerak maju perlahan, dia mengambil tanto dari kaki pria besar itu. Penjaga yang menyadari hal itu segera memutar tubuhnya, dengan gerakan refleks, Ichi melompat mundur.
"Kuso!" umpat penjaga itu.
Ichi tersenyum miring, mencoba mengkonfrontasi penjaga itu. Sang penjaga bergerak maju, tetapi beberapa anak menarik dan menggigit tangan dan kakinya. Penjaga itu tumbang, Ichiro segera melompat keatas tubuhnya dan menusuk tepat di jantungnya. Membuat anak perempuan yang berada di sana menjerit ketakutan.
Pengawal itu memanggil ketiga temannya. Kini Ichiro telah dikepung, seorang penjaga dengan badan besar memukul Ichiro keras hingga terpental jauh. Tawa keempatnya menggelegar.
"Baka! beraninya bocah melawan kita." Seorang lagi maju dengah kekehan keras, membuat ruangan itu ramai dengan suara tangis anak-anak.
__ADS_1
Ichiro mencoba membuka matanya, bibirnya terus bergerak memanggil seseorang yang sangat dinantikannya. "Pa-pa ... pa-pa ...," ucapnya lirih.
"Konoyarou! kuat juga bocah ini." Sebuah tendangan melayang ke arah Ichiro.
"Ichi-kun," tangis Mayu.
"Diam!" teriak seorang penjaga membuat semua anak mengatupkan mulut mereka.
"Buang dia ke laut sebelum Tuan besar tau!" perintahnya.
"Siapa yang akan di buang?" Seorang pria yang di sebut Tuan besar oleh mereka datang tiba-tiba.
"T-Tuan Besar, mmaafkan kami." Semua penjaga menunduk dalam memberi hormat.
Dia melangkah maju memasuki area tawanan itu. Dia sedikit terkejut melihat seorang penjaganya tewas dan seorang anak yang hampir pingsan. "Apa anak kecil itu yang membunuh dia?"
__ADS_1
Semua penjaga menganggukkan kepalanya. Perasaan kagum menggelitik hatinya untuk bertanya.
"Bocah, darimana kamu mendapat keberanian untuk membunuh?" Tanya Tuan besar itu dengan berjongkok di depan Ichiro.