
Aku menutup mulutku saat melihat sekelompok orang itu membekap mulut nenek dan mengikatnya, nenek terlihat pasrah.
Kemudian seorang lelaki yang aku kira adalah ketuanya, datang menghampiri nenek dan membuka kasar penutup mulutnya.
"Katakan nenek tua, dimana benda itu?" tanyanya.
Nenek tak menjawab.
"Breng**k tua bangka! katakan dimana benda itu?!" orang itu berteriak marah-marah.
Masih sama, nenek tidak menjawab. Beliau menunjukkan mimik wajah tak sukanya.
"P****ng jari kelingkingnya! cepat!" perintahnya marah.
Aku tak dapat menahan diri lebih lama lagi, aku takut mereka akan benar-benar menyakiti nenek.
"Tidak! nenek!" teriakku dalam bahasa Indonesia yang pastinya mereka tidak akan paham.
Aku berlari menghampiri nenek dan memeluknya.
"Hahaha .... " Tawanya.
"Siapa kalian?! apa mau kalian?!" tanyaku dalam bahasa jepang yang belum ter upgrade.
__ADS_1
"Halo nona cantik, tenang saja kami akan mengurusmu setelah nenek ini." ucap laki-laki itu dengan mencolek daguku.
"Jangan sentuh aku!" teriakku marah.
Nenek masih tetap tenang, tak ada ekspresi panik yang tersirat di wajahnya. Aku tak mengerti mengapa dia bisa setenang itu.
"Nek, bagaimana ini. Apa yang harus kita lakukan?" bisikku padanya.
Nenek hanya tersenyum menatapku, seperti tatapan selamat tinggal. Air mataku mengalir dengan sendirinya.
"Nggak nek, kumohon, jangan tinggalkan Sarah, aku bisa berteriak memanggil Yama." aku masih berbisik.
"Katakan dimana barang itu! Aku ingin diakui sebagai ketua dari kelompok Tsuki, kelompok terkuat di daerah ini!" teriak orang itu.
Artinya: Jangan membenci mereka yang menjatuhkanmu, mereka melakukan hal buruk kepadamu karena mereka berada di bawahmu. Berterimakasihlah kepada mereka yang sudah memberikan kontribusi dalam hidupmu.
Aku meraba-raba arti dari kata-katanya, otakku terlalu lambat untuk berfikir sedangkan mataku dengan cepat menangkap ayunan pedang itu.
CRASH!!
"Arghh!!" nenek mengerang kesakitan.
Aku menjerit jetakutan melihat cairan merah yang muncrat di badanku, sesuatu membuat tangan nenek putus.
__ADS_1
"Tidak! nenek! Yama! Yamakazu! cepat kemari tolong kami!" teriakku.
"Yamakazu?!" Ucap si ketua dengan wajah paniknya.
Dia merangsek maju dan menekan leherku dengan tanganya.
"Katakan! apakah tuan Ito sedang berada di sini?!" tanyanya panik.
Aku menatap tajam ke arah matanya dan menganggukkan kepalaku mantap.
"Breng**k! ayo cepat kita tinggalkan rumah ini!" perintahnya kepada anak buahnya.
Seketika semua anak buahnya menjadi panik, penggeledahan rumah ini untuk mencari barang tersebut telah dihentikan. Semua hanya karena satu nama, Yamakazu Ito.
Aku berpikir, sekejam apa Yama hingga membuat mereka semua ketakutan.
Aku terbatuk-batuk akibat tekanan tangannya pada leherku, tapi aku mendorong diriku untuk berteriak lebih keras.
"Yama_san! kalau kamu nggak datang sekarang, aku akan pulang!! Dasar Yakuza gila! lekas datang dan selamatkan kami!" teriakku keras-keras.
Salah seorang penjahat itu kemudian menamparku keras hingga aku terpelanting, membuat kepalaku terantuk meja yang ada disebelahku.
Samar-samar aku melihat nenek sudah diam tak bergerak dengan cairan merah yang menggenang di bawah kakinya.
__ADS_1
Nenek ... nek ... maafkan Sakura nggak bisa ngelindungin nenek. Sakura ... sayang nenek. Ucapku dalam hati, sesaat sebelum kemudian aku jatuh pingsan.