The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
44


__ADS_3

Yama menoleh ke arah pria itu, "Apakah kamu keberatan?" tanyanya.


"Tidak tuan silahkan," jawab pria itu.


"Dia tidak keberatan," ucap Yama santai.


"Emang siapa dia?" tanyaku.


"Asisten pribadiku, namanya Tadashi," jawab Yama.


Tadashi membungkukkan badannya dalam kearah ku, aku membalas dengan menganggukkan kepala. Tadashi memiliki wajah sama dinginnya dengan Yama, tak ada senyuman di wajahnya. Aku berharap dia bisa lebih baik dari Haruka.


"Kamu yakin dia setia?" bisikku pada Yama.


"Kita lihat saja nanti," ucap Yama.


"Bagaimana kamu bisa yakin?" tanyaku lagi.


"Dia adalah anak pertama dari tuan Akira, dia yang akan membayar hutang ayahnya," ucap Yama serius.


"Hutang tuan Akira? emang dia punya hutang apa?" tanyaku yang tiba-tiba menjadi bodoh.

__ADS_1


Yama memasang wajah malasnya, baru kali ini aku melihat ekspresi itu. Sangat menggemaskan, aku tak kuasa untuk memegang kedua pipinya dan menekannya. " Kamu sangat menggemaskan dengan ekspresi tadi," ucapku, kemudian aku mengecup bibirnya sekilas.


"Sudah! mana IC nya? aku mau jenguk nenek." Aku berdiri dan mengulurkan tanganku meminta IC.


"Aku akan berangkat bersamamu, kamu benar-benar telah membangunkan harimau tidur," ucap Yama.


Aku berlari keluar ruangan untuk bersembunyi dari Yama. "Kembali kesini kau setan kecil!" teriak Yama yang membuat semua orang disekitarnya kaget.


Aku terus berlari dan bersembunyi di salah satu ruangan. Aku mengintip dari balik pintu, kemudian seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh kearahnya, dia seorang perempuan. Perempuan itu berkacak pinggang dan memintaku untuk membuang sampah di seluruh meja di ruangan itu.


Dengan bahasa Jepangku yang minim, aku tak dapat membela diriku. Pikirku ini hanyalah sampah kertas, aku akan membantu. Ternyata lumayan banyak juga sampahnya, aku membawa sekantong sampah keluar dari ruangan. Yama berdiri dan menatapku tidak suka.


"Apa itu?" tanyanya.


Seorang pengawal mengambil sampah itu dari tanganku, kemudian Yama menarikku untuk masuk kedalam ruangan. Dia bertanya dalam bahasa Jepang.


"Siapa yang berani memberinya perintah untuk memungut sampah!" teriak Yama marah.


Tak ada yang berani menjawab, lalu datanglah wanita itu dari ruangan lain. Dia berjalan melenggak lenggok ke arah Yama. "Saya tuan," ucapnya.


"Berani sekali kau!" ucap Yama penuh amarah.

__ADS_1


"Dia tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ini dan aku mengira dia adalah pelayan, melihat pakaiannya yang seperti itu," ucapnya dengan melipat tangan di dada.


Dak! Yama menendang keras perempuan itu hingga ia terpental jauh.


"Dengarkan baik-baik! wanita ini adalah istriku, perhatikan perlakuan kalian terhadapnya atau maut akibatnya," ucap Yama dengan amarah.


Aku mengelus dadanya lembut untuk menurunkan emosinya, " Tenanglah, aku nggak apa-apa kok." Aku tersenyum padanya.


"Apa kamu juga akan menggodaku disini?" tanyanya padaku.


Aku menurunkan tanganku dengan cepat dan bergegas lari menuju lantai dasar. Naas, aku terpeleset saat berada di depan lift.


"Aduh!" pekikku.


Yama berlari menghampiriku dan kemudian menggendongku. "Kenapa kamu sangat suka sekali bermain kejar-kejaran?" tanya Yama.


"Aku ... aku nggak mau dimakan kamu," ucapku ragu.


Yama menghentikan langkahnya sejenak dan melihat kearahku, kemudian dia melanjutkan langkahnya.


"Menurutlah, aku akan memberimu yang terbaik. Bukankah kamu bilang bahwa aku seorang Yakuza gila?" godanya padaku.

__ADS_1


"Dasar kau memang Yakuza gila! Aku sudah bilang nggak mau!" ucapku dengan memukul-mukul dadanya keras.


Ting! lift sampai di lantai dasar, dengan aku yang masih berteriak dan memukulinya.


__ADS_2