
Aku membuka mataku perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mataku. Kucoba mengerjap beberapa kali hingga aku dapat melihat dengan jelas. Aku sedang berada di dalam kamar. Ku edarkan pandanganku mencari seseorang, tak ada siapa-siapa. Sepi.
Aku berusaha berdiri dengan memegang kepalaku yang saat itu masih terasa sedikit pusing. Kulangkahkan kakiku keluar ruangan, mencari tanda-tanda kehidupan. Masih tak ada orang disekitar sana.
Aku melangkah lebih jauh, kulihat dari kejauhan banyak orang berkumpul di halaman samping dekat dengan gazebo. Aku penasaran dengan apa yang terjadi. Masih dengan piyamaku, aku melangkah maju dan melihat foto nenek sudah terpajang di sana.
Aku menutup mulutku, takut jika aku berteriak lagi. Baru aku ingat kejadian itu, aku menutup mataku dan mengambil nafas dalam. Kucoba bersikap tenang dan mencari Yama. Dia sedang duduk di sana dengan memakai mofuku.
Mofuku merupakan Kimono dengan warna serba hitam yang digunakan oleh wanita dan pria saat upacara berkabung atau berduka cita.
Aku melihat disana juga ada Mama dan Kenjiro, sejenak hatiku berdenyut sakit ketika melihat Ken. Tapi kini, rasa cintaku pada Yama lebih besar. Aku memanggil Yama dengan melambaikan tanganku padanya. Dia datang menghampiriku dengan wajah masamnya. Aku melirik sedikit ke arah Kenjiro ketika akan berbalik menuju kamar, dia menatapku dengan tatapan sendu.
"Jangan menoleh kebelakang atau kubuat kau menyesal," ucap Yama dengan suara rendah.
Aku mengikuti langkahnya menuju kamar, Yama memintaku untuk memakai Mofuku yang telah disiapkannya.
__ADS_1
"Tapi aku nggak ngerti cara pakenya." Aku memutar-mutar pakaian itu.
"Mari kubantu." Yama menawarkan bantuan.
"Tidak! lebih baik aku meminta bantuan Mama," tolakku.
Tiba-tiba Yama ******* kasar bibirku, kecupannya berpindah ke leherku. Aku tak dapat menolaknya, dia terlalu kuat. Entah apa yang terjadi padanya hingga jadi seperti ini. Hisapannya terlalu kencang hingga membuatku meloloskan satu suara *******, aku memukul punggungnya kuat.
"Kamu gila! Keluar! Aku nggak mau melakukannya dulu!" teriakku dengan menangis.
Aku menghapus air mataku dan menghampirinya, kuangkat wajahnya.
"Yama, aku sudah terlanjur mencintaimu. Hatiku nggak bisa diisi dengan orang lain lagi. Kumohon, jangan pernah memaksaku."
Yama memelukku erat, "maafkan aku."
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Yama keluar dan memanggil Mama untuk membantuku memakai Mofuku.
"Apa yang terjadi sayang, kenapa kamu nangis?" tanya Mama yang saat itu melihat mata dan bibirku bengkak.
Aku menggeleng pelan, "nggak papa ma, cuma salah paham aja."
"Terkadang ketika seseorang merasa cemburu dan takut kehilangan, ia akan melakukan hal-hal di luar batas," ucap Mama dengan membantuku memakai Mofuku.
"Aku nggak ngerti, kenapa saat aku jatuh cinta selalu ada masalah. Dulu, aku mulai jatuh cinta dengan Ken tapi Yama menarikku. Sekarang, hatiku sudah berpindah untuk Yama, mengapa Ken datang?" tanyaku pada Mama.
"Semua orang pasti akan datang dan pergi. Ketika kamu telah mencintai seseorang, rasa cinta yang kuat itu tak akan goyah meskipun ada 100 orang laki-laki di hadapanmu." ucap Mama.
"Iya, tapi nggak gini juga Ma. Lihat nih hasil perbuatan anak Mama, Sakura kan jadi malu." Aku menunjukkan tanda merah di leherku.
Mama tertawa kecil, "ternyata Yama sangat posesif."
__ADS_1