The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
50


__ADS_3

Aku mengangguk pasrah, datang atau tidak hasilnya sama. Aku dan Yama pasti akan tetap menikah. Aku belum memberitahu Nia, aku rasa dia akan menjadi histeris.


Seusai makan malam, aku menuju taman belakang untuk melakukan panggilan kepada Nia. Ini adalah pembicaraanku dengannya.


"Halo Nia, lagi ngapain nih?" tanyaku.


"Lagi mau makan malam nih sama keluarga, kenapa Sar?" tanyanya.


"Nggak ada, aku cuma mau kasih kabar. Nggak tahu aku harus bahagia atau sedih," ucapku.


"Emang kabar apaan?"


"Yama akan menikahiku lima hari lagi," jawabku.


"Apa?! kamu hamil Sar?" tanyanya.


"Kalau ngomong jangan ngaco deh, aku masih ting-ting. Dia yang maksa aku buat nikah," ucapku.


"Itu tandanya si otong udah nggak tahan, Tuan Ito dulunya pasti sering melakukannya." Nia tertawa dari balik telepon.


"Apaan sih kamu, ya masa aku baru lulus SMA udah nikah. Belum juga kuliah," cerucutku.


"Nggak papa lah yang penting Sah aja dulu," nasehat Nia.


"Maksudmu supaya aku nggak bingung kalau kebobolan gitu?"


"Nah itu tau," tawa Nia terdengar menggelegar.


"Kamu kapan mulai kuliah?" tanyaku.


"Lusa kayaknya,"


"Kalau aku besok, si Yama nawarin kuliah di rumah lagi. Gila banget tuh orang, aku nggak suka di kandang gini," ucapku.


"Sarah, cara mencintai setiap orang berbeda-beda, mungkin maksud dia bagus. Coba bayangin ada berapa banyak musuh Yakuza."


"Ya, nenek Megumi juga udah nggak ada gara-gara Haruka," ucapku sedih.


"Hah! kenapa kamu baru kasih kabar?" ucap Nia kaget.


"Semuanya terjadi sangat cepat bagiku, maaf aku baru kasih kamu kabar,"

__ADS_1


"Gimana kejadiannya?" tanya Nia.


"Nggak usah tau kejadiannya, nanti kamu nggak doyan makan loh," ucapku.


" Sar, aku kepingin tahu," pinta Nia.


"Pertama-tama tangan beliau terpotong, kemudian kita bawa ke rumah sakit. Udah beres tuh operasinya, eh besoknya si Haruka datang dan ... ya udah," ucapku menahan air mata di pelupuk mataku.


"Maaf ya Sarah, aku nggak tahu kalau kejadiannya mengerikan gini," ucap Nia menyesal.


"Aku ... aku ada disana waktu itu, aku melihatnya sangat tangguh." Suaraku bergetar.


"Sar ... maaf ya, udah dong jangan nangis lagi. Aku nggak bisa peluk kamu," pinta Nia.


"Mangkannya tadi aku bilang jangan, kamu yang ngotot," ucapku mencoba tegar.


"Iya, maaf ya Sar,"


"Ya udah, aku mau tidur dulu. Besok pastinya lebih sibuk dari hari ini. Semangat!" teriakku.


"Semangat!" Nia menimpali.


Aku menutup sambungan teleponku dengan Nia, kemudian aku bergegas menuju kamar. Yama sudah berada di atas kasur menungguku. Aku menggosok gigiku, mencuci muka, berganti pakaian, kemudian bergabung bersamanya.


"Aku sedang mengkoreksi laporan, apa kamu mau lihat juga?" ucapnya dengan memperlihatkan isi i-pad nya itu.


"Nggak usah, aku orangnya nggak kepo kok," tolakku.


"Anggap saja ini sebagai pelajaran. Aku akan mengajarimu," ucap Yama.


Malam itu aku pun menjadi seorang murid, ternyata penjelasan Yama sangat mudah dipahami. Dia tidak marah saat aku berkali-kali bertanya, dia tetap menjelaskan dengan telaten. Ada beberapa kesalahan disana, dia sangat teliti dan cermat.


"Coba periksa lembar yang ini," pinta Yama.


"Aku nggak bisa, nanti kalau salah gimana?" tanyaku.


"Tidak apa-apa, mungkin aku hanya rugi beberapa ribu dollar saja," ucap Yama santai.


"Beberapa ribu dollar?! kalau gitu nggak deh," tolakku.


"Cobalah, aku akan memeriksanya lagi nanti." Yama memaksa.

__ADS_1


"Baiklah," jawabku.


Aku membaca laporan itu, kuamati dengan cermat melihat bagian yang salah. Aku mencari ponselku untuk melakukan beberapa hitungan, sedangkan Yama hanya dengan melihat saja sudah dapat menghitungnya di luar kepala. Aku sangat fokus dan serius, jika Yama hanya memerlukan waktu 15 menit maka aku memerlukan waktu 30-45 menit.


"Selesai," ucapku dengan semangat.


Yama mengamati pekerjaanku ini, dia tampak tersenyum tanda pekerjaanku bagus. "Bagus, tak salah jika aku memilihmu. Kamu sangat pintar," ucapnya dengan membelai kepalaku.


"Nggak juga, gurunya lebih pintar," aku tersenyum dengan menengadah melihat wajahnya.


Cup! Yama memulai aksinya, dia ******* lembut bibirku. Aku membalasnya, terasa sangat nikmat. Dia sudah menyimpan ponselnya ke atas nakas. Yama mulai memelukku erat, sementara perpagutan bibir kita masih kuat.


Tangannya membelai lembut punggungku, kemudian dia mulai mencium leherku. Terasa sedikit geli awalnya, tetapi aku menikmati itu. kecupan demi kecupan di luncurkannya. Dia mulai meremas gunung kembarku, saat itu juga aku tersadar.


"Cukup!" ucapku dengan mendorongnya.


"Maafkan aku," ucap Yama memelukku erat.


"Aku ... aku mau tidur!" Aku meninggikan suaraku dan tidur memunggunginya.


"Tidurlah, aku akan mandi sebentar." Yama beranjak dari atas kasur, dia terlihat berjalan dengan rasa kecewa.


Apa aku salah kalau menolak? nggak ah, aku nggak salah. Kita memang belum Sah, biar aja dia urus sendiri. Bukan kewajibanku juga, batinku.


Aku mencoba memejamkan mataku, tetapi rekaman adegan tadi masih terus terulang di otakku. Pintu kamar mandi terbuka, lelaki tampan itu berjalan mendekatiku. Aku berpura-pura memejamkan mata, berharap dia mengira aku sudah terlelap.


Aku merasakan kasur yang sedikit bergoyang, rupaya ia tidak segera tidur. Yama masih berfokus pada pekerjaannya. Aku berbalik kearahnya dan memegang lengannya.


"Jangan bicara, fokus aja sama kerjaanmu. Aku ingin tidur dengan memegangmu. Maafkan aku tadi yang menghentikanmu," ucapku dengan memejamkan mataku erat. Aku memegang tangan kokohnya, sementara tangan kanannya membelai kepalaku.


"Tidurlah." Aku merasa tenang saat Yama membelai kepalaku lembut, hingga aku berangkat menuju dunia mimpi.


Pagi ini perutku terasa berat, ternyata lengan kekasihku ini berada di atasnya. Aku melihat wajahnya dengan cermat, matanya, alisnya, hidungnya, bibirnya, semua sangat sempurna. Jariku mengusap alis tebalnya, tetapi tak ada reaksi darinya. Aku memutar-mutar rambutnya dengan jari telunjukku, masih tak ada reaksi. Jurus terakhir kukeluarkan, aku menekan hidungnya keras.


"Auuh, Sakura_chan! Mengapa kamu menekan hidungku keras?"


"Salah sendiri nggak bangun-bangun, kemarin kamu janji mau antar aku ke kampus kan?" tanyaku.


"Iya, aku akan mandi setelah kamu."


"Oke, jangan tidur lagi!" Aku mengancamnya sebelum memasuki pintu kamar mandi.

__ADS_1


Pagi ini aku sangat bersemangat, hari pertamaku kuliah. Semoga tidak ada hal buruk yang menjadi penghalang. Pikiranku mundur beberapa tahun lalu saat pertama masuk ke gerbang neraka.


Aku membasuh diriku dan memutuskan memakai celana jeans biru muda dengan blouse kuning cerah. Tak lupa aku memakai sepatu kesukaanku, ankle boots. Aku memiliki beberapa koleksi ankle boots, tetapi hanya satu yang istimewa. Sepatu berwarna merah, aku menyimpannya dengan baik sebab itu adalah kenanganku bersama Yama.


__ADS_2