The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
45


__ADS_3

Semua mata memandang kami, mereka berbisik-bisik cukup keras. Suara bisikan mereka membuatku berhenti berteriak dan memukuli Yama. Aku mengedarkan pandanganku, banyak orang sedang memandang kami berdua.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau kita udah ada di lantai dasar?" bisikku pada Yama.


Yama tersenyum puas, tapi sedetik kemudian dia merubah wajahnya kembali. Aku menyembunyikan wajahku di dada bidangnya. Sekedar informasi, posisi Yama menggendongku ala bridal style.


Yama mempercepat langkahnya hingga masuk kedalam mobil yang telah menunggunya. Tadashi berada di depan, dia menjadi supir kali ini. Sesampainya di dalam mobil, Yama tidak mau menurunkanku. Aku yang jengkel dengan segera menggigit sesuatu yang timbul di dadanya itu.


"Aaw! Aww! Lepaskan! Lepaskan!" teriak Yama melepaskan gendongannya.


Aku melepaskan gigitanku padanya, "Makannya, hati-hati sama aku! kupotong sosismu baru tau rasa!" Aku memperagakan gerakan memotong.


"Aku yang akan menghabisimu lebih dulu. Ini sangat sakit, coba lihat!" Yama membuka pakaiannya menunjukkan dadanya yang merah sekali.


"Maaf," ucapku dengan cengengesan. Aku meniupnya untuk mengurangi rasa sakit yang kutimbulkan tadi. Yama menggeram aneh.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanyaku bingung.


"Kenapa kamu membangunkan milikku disaat seperti ini?" ucapnya.


"Milikmu? Apa? Aku hanya membantumu agar tidak merasa sakit," ucapku.


Yama menggendongku, kemudia ia mengangkatku ke atas pangkuannya. Aku menutup mulutku terkejut merasakan sesuatu di bawah sana. Dengan segera aku turun dan duduk dengan sikap yang baik.


"Jangan salahkan aku jika aku tak bisa menahan sesuatu di bawah sana," ucap Yama dengan suara rendah.


Kulirik Yama menyandarkan kepalanya dengan menghembus nafas berat, dia terlihat sedang berusaha mengatur nafasnya. Tiba-tiba Tadashi menawarkan sesuatu kepada Yama, aku meraba-raba artinya.


"Apakah anda ingin seorang wanita tuan?" tanya Tadashi.


"Tidak perlu, aku sudah memiliki seorang wanita disini," jawab Yama masih dengan mata yang terpejam dan kepala yang menengadah.

__ADS_1


Aku memandangnya dengan raut wajah tak suka dan jijik. Membayangkannya sudah tidur dengan banyak wanita membuatku mual. Aku menepuk pundak Tadashi, memintanya untuk menepi.


Aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan berjalan menjauh. Ku tekan ponselku untuk menghubungi Keiko. Aku mengirimkan lokasiku saat ini, entah mengapa kenyataan ini membuatku muak.


Yama memanggil namaku, tapi aku tak mendengarkannya. Aku berjalan dan menyebrang menuju sebuah taman yang ada di dekat sana. Kupercepat langkahku, berharap bisa lari darinya.


Bagaimana bisa dia akan menikahiku? nggak tahu sudah berapa banyak wanita yang pernah tidur dengannya. Hi ... membayangkannya aja bikin aku jijik. Nenek aneh-aneh, minta aku nikah sama playboy gila! Batinku.


Aku menoleh melihat kebelakang, kosong. Yama tidak mengikuti aku lagi, akupun bernafas lega sejenak. Kuputuskan untuk duduk melepas lelah di sebuah kursi taman.


Pandanganku lurus ke arah sebuah ayunan yang ada diseberang. Pikiranku membawa diriku mundur beberapa tahun yang lalu ketika aku masih berusia 6 tahun. Ayah selalu mengajakku berjalan-jalan ke sebuah taman dan bermain hingga puas.


Kini aku tinggal sendiri, aku melangkah maju dan mengusap ayunan itu lambat. Aku menaikinya dan mengayun pelan, air mata ku tak kuasa kutahan. Meluncur 1 tetes kemudian tetes berikutnya.


Bapak ... Ibu ... Sarah kangen kalian, Sarah bingung kalau sendirian. Sarah pingin ngobrol sama Bapak dan Ibu. Sebentar lagi Sarah akan menikah tapi nggak ada Bapak dan Ibu, nenek Megumi juga udah nggak ada.

__ADS_1


Tangisku menjadi semakin keras, tidak ada orang di sana membuatku menjadi lebih leluasa. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang.


__ADS_2